Surabaya (beritajatim.com) – Maestro Ludruk Jawa Timur, Kartolo, merupakan sosok seniman yang pantang surut meski diterjang arus perubahan zaman.
Di usianya yang telah menginjak 80 tahun, pria kelahiran Prigen, Pasuruan ini justru menunjukkan eksistensi karier yang semakin mentereng.
Sejak transisi digital seluler besar-besaran pada 2015, Kartolo cs sukses melebarkan sayap ke generasi baru melalui keterlibatannya sebagai aktor film layar lebar.
Dedikasi tersebut mengantarkan Kartolo cs meraih penghargaan Lifetime Achievement pada HUT ke-20 beritajatim.com dalam kategori Ikon Abadi Seni Pertunjukan Rakyat Kontemporer.
Di sela acara penganugerahan tersebut, Kartolo mengungkapkan bahwa ia telah menggeluti dunia hiburan selama lebih dari separuh masa hidupnya.
Ia mengenang kembali awal perjalanannya saat pertama kali terjun ke dunia pertunjukan ludruk pada tahun 1967 di usia 22 tahun.
”Saya mulai bergelut di bidang ludruk sejak tahun ’67 sampai tahun ’80,” ujar Kartolo usai menerima penghargaan di Grand City Mall Surabaya, Selasa (21/4/2026).
Sembari didampingi sang istri, Ning Rini, ia menceritakan perjuangannya yang sempat merajai era kaset lawak di samping rutinitasnya dari panggung ke panggung, sebelum akhirnya menembus layar lebar.
”Hingga saat ini saya masih aktif melawak, namun memang lebih sering berkolaborasi dengan pementasan ludruk,” imbuhnya.
Menanggapi tantangan seni tradisional masa kini, Kartolo secara jujur menyoroti mulai tenggelamnya minat masyarakat terhadap kesenian tradisional lokal.
Dengan nada humor yang khas, ia menyebutkan bahwa tantangan paling nyata bagi seorang seniman adalah sepinya panggilan untuk tampil.
”Tantangan seniman itu ya kalau sudah tidak ada job,” ucapnya sembari terkekeh.
Meski kini banyak muncul komunitas ludruk dari kalangan anak-anak dan remaja, ia merasa nyala kesenian ini kian redup karena minimnya ekosistem penikmat dan pelaku seni.
Selain masalah minat, Kartolo menyayangkan belum adanya dukungan konkret yang mampu menghidupkan kembali ekosistem hiburan tradisional seperti masa kejayaannya dahulu.
”Masalahnya sekarang tidak ada tempat seperti dulu, gedung-gedungnya tidak ada; lalu seniman mau bekerja apa kalau wadahnya saja hilang?” paparnya.
Atas dasar itulah, ia menaruh harapan besar agar seni pertunjukan tradisional dapat terus berkembang melalui minat generasi muda dan ketersediaan ruang ekspresi yang memadai.
”Harapan saya untuk generasi muda adalah terus melestarikan seni ini, dan semoga pemerintah menyediakan tempat agar mereka bisa tampil ke permukaan,” tutupnya.
Seperti diketahui, sebagai maestro legendaris, nama Kartolo cs memang telah melintasi berbagai generasi lewat deretan film populer seperti Guru Bangsa: Tjokroaminoto, seri Yowis Ben, Lara Ati, hingga karya terbaru Sekawan Limo 2 yang dijadwalkan tayang 27 April 2026 mendatang. (rma/but)






