Jember (beritajatim.com) – Ada momentum langka yang terjadi di aula kampus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Jember, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Kamis (13/7/2023). Bupati dan mantan bupati Jember berada dalam satu ruangan.
Bupati Hendy Siswanto dan mantan bupati Faida sama-sama hadir menyaksikan ujian terbuka disertasi doktoral Letnan Kolonel Infantri La Ode M. Nurdin, mantan komandan Distrik Militer 0824 yang sekarang menjabat Wakil Asisten Teritorial Komando Daerah Militer V Brawijaya. Terakhir mereka dalam satu ruangan saat debat calon bupati dan wakil bupati Jember pada Desember 2020.
Namun kedua tokoh tersebut tak sempat ngobrol panjang. Selain Hendy dan Faida, hadir juga Wakil Bupati Muhammad Balya Firjaun Barlaman, Ketua DPRD Itqon Syauqi, dan sejumlah pejabat instansi vertikal maupun pemimpin organisasi kemasyarakatan.
Disertasi La Ode berjudul Program Deliberatif Optimalisasi Kinerja Implementasi Kebijakan Bela Negara. Disertasi tersebut memaparkan pelibatan masyarakat sejak tahap perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi kebijakan bela negara dan wawasan kebangsaan.
“Seluruh komponen masyarakat harus turut serta, mulai dari tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, pejabat publik, pemerintah daerah, kapolres, dandim harus bersinergi dengan seluruh elemen yang ada,” kata La Ode.
Komunikasi aktif juga harus dilakukan ke seluruh kelompok-kelompok masyarakat, seperti kelompok tani, pedagang, nelayan, dengan cara duduk bersama memecahkan persoalan. “Pasti terbentuk komunikasi yang baik, komunikasi yang efektif. Generasi muda kita di sekolah harus disentuh agar memiliki wawasan kebangsaan dengan door to door ke sekolah-sekolah. One day one school atau one week one school,” kata La Ode.
“Pak Dandim dan bupati bisa menjadi inspektur upacara di sekolah-sekolah tersebut, memberikan motivasi dan wawasan kebangsaan,” kata La Ode.
Bupati Hendy Siswanto menyebut disertasi La Ode relevan dengan kondisi di Jember. “Wawasan kebangsaan menjadi penting untuk kita semua, bagaimana mempertahankan NKRI. Kita senang dengan budaya kita, menghormati orang tua kita, dan mencintai tanah air kita,” katanya.
“Jangan sampai dengan adanya teknologi, generazi Z sekarang ini tidak cinta terhadap tanah air. Bagaimana kita menjaga sinergi, kolaborasi, saling membantu satu dengan yang lain. Ini kultur orang Indonesia, termasuk di Jember, harus dipertahankan. Kemasannya adalah menerapkan wawasan kebangsaan agar betul-betul bisa dimaknai semuanya,” kata Hendy. [wir]






