Batu (beritajatim.com) – Kecelakaan tragis yang melibatkan bus pariwisata Sakhindra Trans di depan Batu Town Square (Batos) pada Rabu malam (8/1/2025) menimbulkan dampak yang meluas. Tidak hanya bagi korban dan keluarga, tetapi juga terhadap pelaku usaha jasa travel.
Insiden ini dilaporkan akibat rem blong dan mengakibatkan empat korban meninggal dunia, termasuk pasangan suami istri beserta bayi mereka. Lebih dari 15 orang lainnya mengalami luka-luka dan dilarikan ke RS Hasta Brata dan RS Bhayangkara.
Kecelakaan ini menambah deretan tragedi serupa, setelah sebelumnya insiden fatal melibatkan bus pariwisata juga terjadi di ruas jalan tol Pandaan-Malang pada 23 Desember 2024. Peristiwa ini memicu keprihatinan publik atas standar keselamatan transportasi pariwisata di Indonesia, yang dinilai masih perlu perbaikan mendasar.
Kecelakaan yang viral di media sosial ini berdampak besar terhadap pengelola jasa travel. Bayu, salah seorang agen tour dan travel di kawasan Malang dan Batu, mengungkapkan bahwa insiden semacam ini telah menurunkan kepercayaan publik terhadap transportasi pariwisata. Khususnya bus besar seperti Elf, Hiace, dan sejenisnya.
“Setelah kecelakaan di Jateng beberapa waktu lalu, kami mulai kehilangan pelanggan. Kini, dengan kejadian di Batu, banyak pelanggan yang meragukan kondisi armada, meskipun kami sudah memastikan kelayakan KIR dan perawatan rutin,” jelas Bayu.
Bayu juga menyebutkan adanya pembatalan pesanan oleh pelanggan. Bahkan, ada pelanggan yang secara terang-terangan memilih menggunakan transportasi lain karena khawatir atas keselamatan.
Ismad, pengelola jasa travel lainnya, menambahkan bahwa aturan yang melarang sekolah-sekolah mengadakan kegiatan di luar kota semakin memperburuk kondisi.
“Jika larangan touring ke luar kota ini diterapkan, kami harus bergantung pada wisata dalam kota saja. Ini jelas mengurangi potensi pendapatan,” ungkapnya.
Persepsi negatif terhadap keselamatan transportasi pariwisata menjadi tantangan besar bagi pengusaha travel. Meski tidak semua pengelola jasa travel lalai dalam perawatan armada, citra buruk ini turut memengaruhi bisnis yang menjaga standar kualitas.
Kasus ini menunjukkan pentingnya peran pemerintah dalam memperketat pengawasan terhadap kelayakan operasional bus pariwisata. Edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya memilih jasa transportasi yang memenuhi standar keselamatan juga menjadi hal yang mendesak. [dan/aje]






