Surabaya (beritajatim.com) – Pakar Sosiologi Universitas Airlangga (Unair), Prof. Dr. Bagong Suyanto, menyampaikan kriminalitas di Kota Surabaya yang marak dipicu faktor ekonomi. Di antaranya gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal dan sulitnya mencari pekerjaan.
Menurut Bagong, hal dasar mengenai perkerjaan ini mutlak berkaitan usaha memenuhi kebutuhan primer warga (sandang, pangan, papan). Sehingga, tidak sedikit warga terjerumus di jalan yang salah.
“Saat ini ruang pekerjaan yang mudah diakses di sektor informal, baik legal maupun ilegal. Marak aksi kriminalitas seperti pencurian motor hingga begal, mau tidak mau ini harus dikaitkan dengan kondisi ekonomi yang makin sulit ini,” jelas Bagong ketika dikonfirmasi, Senin, 2 September 2024.
Kasus kriminalitas dan juga kejahatan di kota kota besar, seperti di Surabaya kian beragam. Dengan menyasar korban jambret, begal, pencurian. Bahkan didalam aksinya pelaku sering menyasar wanita, anak – anak, penghuni kos dan disabilitas.
Kondisi miris seperti ini, dijelaskan Bagong kerap nekat dilakukan oleh mereka residivis yang sudah keluar dari penjara. Kata Bagong, mereka residivis sulit diterima keberadaannya oleh warga masyarakat, dan cenderung ditolak saat melamar kerja.
“Warga masyarakat cenderung menolak, akhirnya mereka eks pelaku kejahatan menemukan habitat lama kembali dan terdorong makin canggih masuk di dunia kejahatan,” ujar Sosiolog tersebut.
“Untuk itu, harusnya resedivis perlu diberlakukan pengawasan khusus, dan diberikan pendampingan, ada pihak yang menjamin,” imbuh dia.
Sementara lebih lanjut, Bagong turut memberikan masukan aparat kepolisian supaya menggandeng komunitas masyarakat, untuk menekan kejahatan di Surabaya. Dengan memberi pemahaman, serta kewaspadaan dini.
“Dengan pendekatan community support system. Polisi bisa merangkul komunitas lokal untuk turut berpartisipasi membangun kelompok kepedulian, yang mana kelompok tersebut masih ada didalam koridor wilayah hukum,” tandas Bagong. [ram/beq]






