Malang (beritajatim.com) – Korban meninggal dunia dalam Tragedi Kanjuruhan mencapai 132 orang. Sebanyak 500 lebih Aremania mengalami luka-luka akibat tembakan gas air mata dan berdesakan menyelamatkan diri.
Korban yang mengalami luka-luka hingga pendarahan pada mata karena terkena asap kandungan kimia dalam gas air mata. Sementara itu, Polri menganggap gas air mata di Stadion Kanjuruhan tidak menyebabkan kematian.
“Polisinya tidak merasakan langsung. Tapi yang dirasakan kami saat itu panik. Dan yang saya rasakan gas air matanya perih dimata sama sesek-sesek di dada. Pedih sampai tidak bisa lihat,” kata salah satu korban tragedi Kanjuruhan, Kevia Naswa Ainurrohma, Selasa, (11/10/2022).

Warga New Puri Kartika Asri, Kota Malang itu mengalami pendarahan pada bagian mata. Sampai saat ini matanya masih merah, padahal sebelum terkena gas air retina matanya putih normal. Tiga hari pertama dia merasakan dada sesak dan mata pedih.
Dia juga mempertanyakan prosedur penembakan gas air mata oleh polisi. Saat itu dia berada di tribun 14 Stadion Kanjuruhan. Kondisi tribun kondusif dan banyak anak kecil, wanita dan ibu-ibu. Tetapi secara sporadis tiba-tiba gas air mata ditembakan ke tribun dan membuat panik Aremania.
“Polisinya apakah tidak tahu, di sana banyak anak kecil dan banyak anak perempuan, ibu-ibu. Bayangkan saja, kalau ada yang punya penyakit asma gitu kan rentan kalau kena gas air mata. Sudah kena gas air mata rasanya pedih sama panik,” paparnya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”tragedi-kanjuruhan”]
Triwa Kus (43) ibu dari Kevia turut mengomentari langkah-langkah polisi dalam beberapa hari terakhir. Mulai dari menyangkal gas air mata mematikan. Hingga doa bersama dan sujud memohon ampunan oleh anggota Polresta Malang Kota dalam tragedi Kanjuruhan. Bagi korban dan keluarga korban paling penting adalah keadilan dan pengusutan tuntas kasus ini.
“Tidak ngaruh (aksi sujud polisi) menurut saya terutama buat mereka yang meninggal dunia. Penting dari kasus ini adalah harus diusut tuntas sampai ada keadilan. Karena kasihan mereka yang meninggal dunia,” tandas Triwa. [luc/but]






