Inilah kisah para wanita – wanita tangguh yang mengabdikan hidupnya untuk meningkatkan ekonomi masyarakat disekitarnya
Surabaya (beritajatim.com) – Ingatan dua kakak-beradik, Agnes dan Vania Santoso seolah tertumpu pada waktu mereka masih duduk di bangku sekolah. Masih terbayang jelas bagaimana risihnya mereka menginjakkan kaki di lantai rumahnya saat banjir datang menghampiri.
“Saya ingat betul, itu sekitar awal tahun 2005. Curah hujan memang sedang deras-derasnya dan kami harus menghadapi genangan banjir lagi seperti tahun-tahun sebelumnya,” kenang Agnes Santoso. Namun entah bisikan apa yang menghinggapi pikiran kedua kakak adik itu yang membuat mereka memutuskan harus bergerak melakukan perubahan.
Sejak tahun itu, Agnes yang masih kuliah dan sang adik Vania Santoso yang masih menggunakan seragam putih abu-abu kerap mengajak teman-teman mereka turun ke jalan.
Jika yang lain melakukan aksi demontrasi maka 2 ABG ini justru membagikan brosur untuk pengendara bermotor yang berisikan seruan untuk mengurangi sampah dari diri sendiri. Agaknya jiwa muda mereka sudah bergejolak karena tahu bahwa kondisi lingkungan sudah semakin parah tercemari oleh sampah.
“Waktu itu isu lingkungan dikalangan anak seusia kami belum seksi. Tapi kami tetap saja menyerukan isu sampah hingga isu lingkungan secara keseluruhan,” sela Vania Santoso.
Berbagai kegiatan untuk kampanye lingkungan pun diikuti agar suara dan ide mereka didengar. Hingga pada tahun 2017 keduanya memiliki ide mengurangi sampah dengan membuat produk yang diminati banyak orang yakni tas wanita.
“Kami mulai mendekati perusahaan yang produknya menghasilkan sampah yang belum banyak dimanfaatkan untuk produk daur ulang. Salah satunya adalah karung (sak) bekas semen,” ungkapnya.
Ternyata sak semen bekas mampu menghasilkan corak yang unik ketika sudah dibersihkan dan dipoles dan menjadi tas wanita.
“Sejak awal kami pun melibatkan ibu-ibu disekitar rumah kami untuk membuat tas dari sak semen bekas. Dan ternyata produk kami laku dan diminati para bule sehingga ibu-ibu di kawasan rumah kami pun punya pemghasilan tambahan,” ungkap Agnes yang dulunya mantan wartawan televisi swasta di Surabaya itu.
Keduanya sengaja melibatkan masyarakat karena misi utama mereka adalah meninspirasi banya masyarakat untuk sadar lingkungan dan mulai memilah sejak dini.
[berita-terkait number=”4″ tag=”BRI”]
Vania dan Agnes pun terus menularkan teknik pembuatan tas dari sisa kemasan semen kepada berbagai lapisan masyarakat. Dan terus membuka diri untuk berkolaborasi dengan berbagai jenis teknik desain tas yang kekinian.
“Kami pun belajar teknik batik celup, batik tulis agar tas yang kami hasilkan punya nilai tinggi dan lebih dikenal masyarakat lokal,” sela Vania yang akrab dipanggil Vani ini.
Vania dan Agnes pun mulai memberi merek produk tas mereka, yakni Heystartic. Ratusan tas berbagai macam jenis pengerjaan sudah berhasil memikat konsumen mereka yang sebagian besar dari luar negeri.
“Di luar negeri hasil karya daur ulang sangat diminati. Sebab mereka sudah sangat respeck pada upaya penyelamatan lingkungan. Jadi tak heran jika kami sudah melakukan eksport. Mulai dari Australia hingga Eropa,” katanya.
Hingga di tahun 2019, aksi mereka dalam mengolah sampah serta memberdayakan ibu-ibu di sekitar mereka menarik perhatian dunia. Vania dan Agnes Santoso, diundang berbicara dalam seminar Climate Exchange PBB di New York. Lompatan kecil mereka saat jadi anak sekolahan ternyata membuahkan hasil. Selebaran dijalanan menjadi undangan PBB.
“Kami senang karena akan lebih luas lagi gaung kami dalam penyelamatan lingkungan ini,” aku Vani.
Namun disaat dunia sudah mulai mengenal keduanya dan produk Heystartic, di awal tahun 2020 pandemi datang. Pembatasan ruang gerak yang diberlakukan pemerintah membuat produksi terhambat.
“Sebab konsep bisnis kami ini adalah sociopreneurs yang memang melibatkan banyak orang sehingga berdampak pada jumlah pemesanan,” tuturnya.
Keduanya harus mengubah konsep produksi. Dimana pekerjaan produksi dilakukan secara bertahap di beberapa rumah. Mulai dari pewarnaan motif batik jumputan dilakukan di rumah yang berbeda dengan pembuatan kerangka tas.
“Kami mulai mensiasati produksi demi bertahan ditengah pandemi. Beberapa pelanggan pun mulai berkurang,” ungkapnya.
Beruntung di tahun 2021 Heystartic diundang BRI untuk mengikuti pameran digital. Melalui pameran digital yang juga diikuti buyer dari luar negeri, Heystartic mulai mendapatkan pesanan yang cukup signifikan peningkatannya.
“Memang UMKM seperti kami membutuhkan akses melalui berpameran. Tetapi karena pandemi, pameran digital yang digelar BRI cukup membantu kami,” tandas Agnes.
Keduanya berharap akan banyak gerakan penyelamatan lingkungan yang dilakukan segala lapisan masyarakat. Sehingga bumi menjadi lebih baik.[rea]






