Siapa Calon Gubernur (Cagub) di Pilgub Jatim 2024 selain Khofifah Indar Parawansa? Belum ada kepastian. Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) merupakan kekuatan politik yang memiliki peluang menyorongkan duet cagub-cawagub secara mandiri. Tak butuh kolaborasi dengan partai lain.
Realitas politik itu merujuk hasil Pemilu 2024. Komposisi jumlah kursi parpol di DPRD Jatim 2024-2029 adalah sebagai berikut: PKB dengan 27 kursi, PDIP dengan 21 kursi, Partai Gerindra dengan 21 kursi, Partai Golkar dengan 15 kursi, Partai Demokrat dengan 11 kursi, Partai NasDem dengan 10 kursi, PAN dengan 5 kursi, PKS dengan 5 kursi, PPP dengan 4 kursi, dan PSI dengan 1 kursi. Sedangkan total kursi DPRD Jatim sebanyak 120 kursi.
Sejauh ini, baru Khofifah yang memperoleh dukungan politik secara nyata untuk masuk gelanggang Pilgub Jatim 2024. Belum ada bakal kandidat lainnya. Sejumlah nama disebut-sebut berpeluang sebagai bakal cagub, seperti Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar (Cak Imin), Mantan Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jatim KH Marzuki Mustamar, Menteri Tenaga Kerja Ida Fauziyah, Menteri Sosial Tri Rismaharini. Belum jelas figur kandidat gubernur di luar nama Khofifah. Jangan-jangan tak muncul, sehingga Khofifah menjadi kandidat tunggal.
Menjelang hari penentuan, nama Khofifah terus menguat dan tak terbendung. Tak hanya jumlah partai pendukungnya yang terus bertambah, elektoral politik Khofifah juga melonjak naik. Survei terbaru ARCI menyebutkan, tingkat elektabilitas Khofifah nyaris menyentuh 60 persen. Kandidat lainnya tak sampai 30 persen. Peluang besar bagi Khofifah untuk bisa melanjutkan estafet kepemimpinannya 5 tahun ke depan di Jatim.
Yang patut dicermati dari dinamika politik mutakhir Pilgub Jatim 2024 adalah munculnya nama KH Marzuki Mustamar, Mantan Ketua PWNU Jatim dan pengasuh Pondok Pesantren Sabilul Rosyad Kota Malang. Kiai Marzuki selama ini dikenal sebagai aktivis dan elite NU yang istiqomah di jalur pencerahan umat. Selain sebagai elite NU, Kiai Marzuki piawai dan kaya ilmu.
Pengetahuan agama dan umum yang disandangnya menjadi modal penting perannya sebagai mubaligh. Dia berdakwah ke mana-mana. Marzuki adalah kiai panggung yang ternama dan populer. Terlebih jabatan Ketua PWNU Jatim pernah disandangnya. Hal itu jadi garansi sosial kultural dengan peran original yang diembannya.
Munculnya nama Kiai Marzuki di survei ARCI cukup mengejutkan. Nama itu terjaring karena jawaban spontan responden. Atau ada list pertanyaan di kuesioner yang didesain, dibagikan dan ditanyakan surveyor kepada responden. Dengan tingkat elektabilitas lumayan tinggi, adalah lazim publik bertanya-tanya: Apakah Kiai Marzuki bakal turun gelanggang di Pilgub Jatim 2024? Belum ada jawaban pasti.
Kiai Marzuki merupakan elite NU Jatim yang punya relasi baik dengan elite PKB, khususnya. Waktu Pilpres 2024, pernyataan Kiai Marzuki tak menunjukkan resistensi politik dan ketidaksepakatan terhadap duet Anies Rasyid Baswedan dan Muhaimin Iskandar (Cak Imin). Pasangan ini disokong PKB, PKS, dan Partai NasDem.

Selayaknya warga Nahdliyyin mendukung dan memilih pasangan yang ada kader NU. Itu artinya pilihan pas dan tepat bagi warga Nahdliyyin adalah kepada duet Anies Baswedan dan Cak Imin. Kiai Marzuki dicopot dari jabatannya sebagai Ketua PWNU Jatim saat hangat-hangatnya iklim Pilpres 2024. Banyak elite dan kiai NU lain di Jatim yang menyatakan dukungan kepada duet Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka. Pandangan Kiai Marzuki berada di arus minoritas dari mayoritas pandangan kiai NU di Jatim yang mendukung Prabowo dan Gibran.
Menghadapi Pilgub Jatim 2024, PKB memiliki otonomi politik yang kuat dan besar untuk memutuskan siapa cagub dan cawagub yang diusung. Partai ini bisa mencalonkan cagub dan cawagub tanpa berkoalisi dengan partai lainnya.
Munculnya nama Kiai Marzuki sebagai bakal kandidat gubernur dari PKB makin mendinamisasi proses pilgub yang sedang berjalan, lebih khusus di kalangan komunitas NU sebagai kekuatan mainstream masyarakat Jatim. Terbuka kemungkinan pada Pilgub Jatim 2024, pola kontestasi politik yang muncul sama seperti di Pilgub Jatim 2018: Kader tulen NU versus kader tulen NU.
Kita belum tahu siapa figur kandidat gubernur dan wagub Jatim yang didukung PKB. Partai ini menghadapi pilihan politik tak gampang untuk memutuskan hal tersebut. Mengingat PKB tak pernah memenangkan pilgub dan figur kandidat gubernur yang dihadapi memiliki basis pendukung tradisional yang kuat, luas, militan, besar, dan captive.
Selain itu, iklim perpolitikan nasional, baik secara langsung maupun tak langsung, menguntungkan Khofifah menghadapi Pilgub Jatim 2024. Sejumlah partai besar dan menengah telah melabuhkan dukungan politik kepada Ketua Umum PP Muslimat NU ini. Fakta politik makin meningkatkan kepercayaan diri sang kandidat dan tim pendukungnya menghadapi hajatan Pilgub Jatim 2024.
Berkaca dari hasil Pilgub Jatim 2018 yang dimenangkan pasangan Khofifah dan Emil Dardak dengan 10.465.218 suara dibanding duet Gus Ipul dan Puti Guntur dengan 9.076.014 suara, peta sebaran dukungan suara Khofifah-Emil Dardak unggul di 27 kabupaten/kota. Sedang Gus Ipul-Puti Guntur menang di 11 kabupaten/kota.
Yang penting dicatat dari data hasil penghitungan suara Pilgub Jatim 2018 adalah tak ada kabupaten/kota yang dimenangkan duet Gus Ipul-Puti Guntur dengan angka dukungan mutlak. Padahal, duet ini disokong dan didukung dua partai besar: PDIP dan PKB, serta didukung penuh banyak kiai NU yang menduduki jabatan struktural-strategis dan pemangku pondok besar.
Data Pilgub Jatim 2018 menunjukkan bahwa sebanyak 27 kabupaten/kota dimenangkan Khofifah-Emil Dardak antara lain: Banyuwangi, Bondowoso, Bojonegoro, Gresik, Jember, Jombang, Kota Kediri, Kota Malang, Kota Mojokerto, Kota Probolinggo, Kota Surabaya, Lamongan, Lumajang, Magetan, Mojokerto, Nganjuk, Ngawi, Pacitan, Pamekasan, Ponorogo, Probolinggo, Sampang, Sidoarjo, Sumenep, Trenggalek, Tuban, dan Tulungagung.
Di sisi lain, ada 11 kabupaten/kota di mana duet Gus Ipul-Puti Guntur unggul, yakni Situbondo, Pasuruan, Kota Pasuruan, Kabupaten Malang, Madiun, Kota Madiun, Kota Blitar, Kota Batu, Kabupaten Kediri, Blitar, dan Bangkalan.
Dari 11 kabupaten/kota yang dimenangkan Gus Ipul-Puti Guntur, tak ada satu kabupaten/kota yang tingkat kemenangannya bersifat mutlak. Seperti di Kabupaten Bangkalan, raihan suara Gus Ipul-Puti Guntur dengan 271.088 suara dan Khofifah-Emil Dardak dengan 261.467 suara.
Demikian pula di Kota Pasuruan yang memiliki jalinan historis, sosiologis, dan kultural sangat kental dengan Gus Ipul, mengingat Sekjen PBNU ini kelahiran Kabupaten Pasuruan. Di Kota Pasuruan, Gus Ipul-Puti merebut 45.842 suara, sedang Khofifah-Emil Dardak dengan 45.617 suara.
Memang di Kabupaten Pasuruan, raihan suara pasangan Gus Ipul-Puti Guntur agak jauh meninggalkan Khofifah-Emil Dardak. Gus Ipul-Puti Guntur merebut 383.640 suara, sedang Khofifah-Emil Dardak dengan 343.494 suara. Hal serupa juga terjadi di Kabupaten Situbondo, di mana pasangan Gus Ipul-Puti Guntur merebut 172.048 suara, sedang duet Khofifah-Emil dengan 138.174 suara.
Dalam konteks Pilgub Jatim 2018 di Kabupaten Situbondo ini, pengaruh politik KH Cholil As’ad Syamsul Arifin, pimpinan Ponpes Walisongo, tak bisa dilepaskan. Ra Cholil dikenal memiliki jalinan relasi personal lama dan dekat dengan Gus Ipul. Di samping itu, pengaruh politik, sosial, dan kultural Ra Cholil di Situbondo dan kabupaten sekitarnya makin menguat sepeninggal kakak kandungnya, KH Fawaid As’ad Syamsul Arifin, yang memimpin Ponpes Salafiyah Syafi’iyah di Kecamatan Asembagus, Situbondo.
Yang penting dicatat dalam konteks Pilgub Jatim 2018 lalu adalah kemenangan mutlak pasangan Khofifah-Emil Dardak di Kabupaten Pacitan, daerah tempat kelahiran Presiden SBY. Di mana duet Khofifah-Emil Dardak merebut 230.087 suara, sedang pasangan Gus Ipul-Puti Guntur dengan 79.274 suara.
Catatan penting lainnya adalah jatuhnya Kota Surabaya ke kubu pasangan yang tak didukung PDIP. Padahal, selama ini Kota Surabaya menjadi basis terkuat komunitas Nasionalis Soekarnoisme yang istiqomah mendukung dan merapat ke PDIP. Di Kota Surabaya duet Khofifah-Emil Dardak unggul dengan 579.246 suara dibanding pasangan Gus Ipul-Puti Guntur dengan 560.848 suara.
Ainur Rohim,
Penanggung Jawab beritajatim.com






