Jember (beritajatim.com) – Potensi terjadinya megathrust atau gempa bumi besar yang berpotensi memicu tsunami di selatan Jawa Timur, termasuk Kabupaten Jember, sudah dijajaki oleh pemerintah. Masyarakat harus mulai memperhatikan kelayakan bangunan yang ditempati agar tahan gempa.
“Standar bangunan yang tahan gempa ini harus di-exercise oleh masing-masing daerah,” kata Gubernur Khofifah Indar Parawansa, saat berkunjung ke Kabupaten Jember untuk meninjau lokasi bencana gempa bumi, Sabtu (18/12/2021).
Hal ini dibenarkan Rahmat Triyono, Kepala Pusat Seismologi Teknik, Geofisika Potensial dan Tanda Waktu pada Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). “Dari intensitas guncangan (gempa bumi di Jember, 16/12/2021), sebetulnya hanya 4-5 MMI. Artinya guncangannya memang kuat dan berpotensi kerusakan ringan. Hanya retak-retak dinding,” katanya.
“Realitasnya kemarin di lapangan ada beberapa rumah roboh. Hasil temuan kami di lapangan, bangunannya tidak standar. Ada konstruksi yang tidak layak. Ini tentu menjadi perhatian serius untuk pemerintah provinsi dan kabupaten lainnya,” kata Rahmat.
Laporan terakhir, Kamis sore (16/12/2021), 38 rumah mengalami kerusakan akibat gempa berkekuatan 5 skala richter. Sebanyak 28 Rumah, 2 fasilitas umum rusak ringan, 9 rumah rusak sedang, dan 1 rumah rusak berat.
[berita-terkait number=”4″ tag=”gempa-jember”]
Ancaman megathrust di selatan Jatim adalah ancaman nyata. “Skenario terburuk bisa terjadi. MMI-nya bisa lebih besar. Kalau dengan magnitudo 5 (skala richter) saja bisa roboh seperti itu, tentunya dengan magnitudo dan intensitas guncangan lebih besar lagi, potensi kerusakan akan semakin luas. Ini jadi perhatian kita semua. Kondisi bangunan menjadi hal sangat penting ke depan,” kata Rahmat.
“Gempa bumi tidak bisa dihindari, karena ada sumber ancaman di sana. Potensi jelas ada di sana. Skenario magnitudo besar pernah terjadi, dan itu perulangan. Gempa bumi sifatnya berulang bahwa akan terjadi lagi pada periode sekian puluh tahun yang akan datang. Kita cuma tidak pernah tahu kapan terjadinya. Upaya mitigasi untuk konstruksi bangunan, sosialisasi ke masyarakat jadi hal mutlak,” kata Rahmat. [wir/suf]






