Malang (beritajatim.com) – Kampus putih Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) secara konsisten selama 42 tahun mengundang tokoh lintas agama. Mereka diajak untuk berbuka bersama sekaligus memperkuat tali persaudaraan. Agenda pada 2 April 2024 lali ini sudah dilakukan saat rektor dijabat Abdul Malik Fadjar.
Ketua Kerukunan Umat Beragama Malang Widodo Harsono menjelaskan bahwa UMM menjadi salah satu tempat kumpul yang nyaman untuk semua umat beragama di Kota Malang. Hal itu tidak terlepas dari sikap maupun upaya UMM dalam menjalin persaudaraan.
“Tradisi buka bersama UMM yang dihadiri ratusan tokoh dari berbagai agama ini sudah dilakukan sejak 42 tahun yang lalu. Jika diibaratkan UMM ini sudah menjadi rumah karena keramahannya,” ujar Widodo.
Hal serupa disampaikan Ketua Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PITI) Dr. dr. Sugiharta Tandya, SpPk. Menurutnya, perbedaan umat beragama bukan jadi penghambat tali silaturahmi, melainkan untuk membangun saling paham. Perbedaan, katanya, dapat menjadi pondasi untuk membangun kekayaan budaya, kehidupan spiritual, serta sosial.
“Momen buka bersama ini mampu membentuk persatuan dan kesatuan masyarakat. Selain itu, kita harapkan acara ini menguatkan keharmonisan umat beragama yang ada di Indonesia,” ucapnya.

Sementara itu, Rektor UMM Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si, menuturkan, tradisi ini menjadi tanda bahwa UMM menjadi kampus multikultural. Banyak perbedaan agama maupun suku yang ada di kampus bukan penghambat untuk memajukan Indonesia.
“Pada dasarnya, puasa sebagai cara untuk menjunjung tinggi nilai spiritual dan mensucikan pikiran dan fisik. Dengan begitu, puasa menjadi momen bagi umat beragama sebagai bentuk refleksi, introspeksi, dan pertumbuhan spiritual diri,” tuturnya.
Menjelang berbuka, hadir Rektor UMM periode 2016-2024, Prof. Dr. Fauzan, M.Pd., sebagai pembicara. Ia memaparkan tentang keberagaman dalam bingkai harmoni UMM, dari Muhammadiyah untuk bangsa.
Menurut Prof Fauzan, tiap agama punya hari berpuasa yang berbeda. Esensinya juga bervariasi tergantung kepercayaan dan tradisi agama yang bersangkutan. Namun, semua puasa itu bertujuan untuk mendekatkan diri pada Tuhan.
“Selain itu juga membuat manusia untuk selalu sadar dan rendah hati. Berpuasa punya aspek penting untuk terus diingat agar dapat melatih kita sebagai umat beragama dalam menahan hawa nafsu,” ujarnya.
Dijelaskan guru besar UMM ini puasa juga menjadi cara untuk saling bertoleransi. Dengan toleransi dan introspeksi, seseorang dapat mencapai level untuk mengendalikan diri. “Dengan puasa kita mampu mencapai kesuksesan di setiap aktivitas,” katanya menutup. (dan/ian)






