Jember (beritajatim.com) – Kongres Tahunan Asosiasi Kabupaten PSSI Kabupaten Jember, Jawa Timur, yang digelar di Aula PB Sudirman kantor pemerintah daerah setempat, Rabu (11/10/2023), resmi mencoret 26 klub anggota yang tidak ikut serta dalam dua gelaran turnamen terakhir.
“Mereka dicoret berdasarkan statuta PSSI, tidak mengikuti kompetisi dua kali berturut-turut. Itu yang mencoret bukan saya, pimpinan sidang, tapi voter kongres. Keputusan tertinggi ada pada kongres. Peserta kongres menyetujui pencoretan atau penjatuhan sanksi terhadap 26 klub itu,” kata Ketua Komisi Sepak Bola Asprov PSSI Jatim Mikko Agus Pribadi, yang menjadi pimpinan sidang.
“Menurut saya tadi itu bukan pencoretan, tapi punishment. Mereka bisa menjadi anggota lagi kalau mengurus SSB (Sekolah Sepak Bola) terafiliasi. Kan ada wadahnya,” tambah Mikko.
Saat ini seluruh klub anggota Askab PSSI Jember dan SSB terafiliasi harus memiliki badan hukum, baik itu perkumpulan, yayasan, maupun perseroan terbatas perorangan. Mikko menyarankan agar klub-klub anggota Askab PSSI Jember mengurus badan hukum berbentuk perkumpulan atau yayasan di Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. “Saat ini ada yang sudah punya, ada yang belum,” katanya.
Dua puluh enam klub yang sudah dicoret tersebut bisa mendaftarkan diri menjadi anggota Askab PSSI Jember dengan status SSB terafiliasi yang berbadan hukum. “SSB terafiliasi ini harus punya pelatih berlisensi, harus punya lapangan latihan. Askab tak boleh menolak,” kata Mikko.
Mikko mengatakan, aturan ini sebenarnya tak ubahnya penapisan (screening) keanggotaan. “Berdasarkan Statuta Asprov Jatim, askab yang tidak memutar kompetisi wajib U13 dan U15, tidak berhak mengikuti Kongres Asprov. Tahun kemarin baru 25 askab yang memutar kompetisi wajib. Berarti 13 askab belum memutar,” katanya.
Masalah finansial jadi alasan sejumlah Askab PSSI tidak memutar kompetisi U13 dan U15. “Kadang mereka tidak ada anggaran dari pemerintah daerah. Tadi ada yang protes biaya pendaftaram kompetisi mahal. Kalau itu urusan operator. Tidak ada di statuta yang menyatakan bahwa kompetisi harus gratis. Kalau ada operator atau panitia menetapkan syarat untuk mengikuti kompetisi harus bayar Rp 1 juta, ya sah-sah saja,” kata Mikko.
Selain mencoret 26 klub anggota Askab PSSI Jember, kongres juga meresmikan keanggotaan tiga SSB terafiliasi, yakni Jember Football School, Putra MD, dan Bayu Gatra. Dengan demikian, Askab PSSI Jember memiliki enam SSB terafiliasi.
“SSB terafiliasi ini program PSSI sejak 2019. Ada pembagian tugas dari PSSI, untuk tim nasional dan liga profesional adalah tugas PSSI, Liga 3 dan U17 adalah tugas asprov, dan pembinaan usia dini U8. U10. U13, U 15 adalah tugas askab dan askot,” kata Mikko.
Saat ini mayoritas asosiasi kabupaten (askab) dan asosiasi kota (askot) hanya memiliki jenjang pembinaan U13 dan U15. “Jadi itu wajib diputar. Mau tidak mau, harus diperbanyak SSB atau klub untuk pembinaan usia dini,” kata Mikko.
Kongres diikuti 49 peserta ditambah satu perwakikan Asosiasi Futsal Kabupaten Jember. Mikko bersyukur Kongres Tahunan Askab PSSI Jember secara umum berjalan lancar. “Fungsinya kongres tahunan ya seperti ini, agar tidak terjadi miskomunikasi. Tadi ada masukan-masukan, ternyata miskomunikasi dan sudah terakomodasi oleh Askab Jember. Mudah-mudahan ke depan bisa lebih baik lagi,” katanya. [wir]






