Surabaya (beritajatim.com) – Konflik Palestina-Israel kembali memanas akibat serangan Hamas Palestina terhadap Israel di wilayah selatan jalur Gaza pada beberapa waktu lalu. Akibatnya, ribuan jiwa melayang.
Serangan awal ini memicu misi balas dendam oleh Israel atas penyusupan dan penyerangan secara mendadak yang dilakukan oleh Hamas ke wilayah Israel.
Dosen Hubungan Internasional FISIP Unair M. Muttaqien menilai upaya yang dilakukan bangsa Palestina untuk mendapatkan kembali kemerdekaan wilayahnya tidak melanggar ketentuan yang ada di hukum internasional.
“Terkait upaya mendapatkan kemerdekaan, Resolusi PBB memberikan hak kepada bangsa yang berjuang mendapatkan kemerdekaan itu, untuk menggunakan berbagai cara, termasuk sampai penggunaan kekuatan bersenjata, dan itu pula yang dilakukan oleh bangsa Palestina,” ujar Muttaqien, Selasa (17/10/2023).
Ketegangan Palestina dan Israel memberikan dampak besar pada kondisi politik global. Muttaqien menyebutkan dalam istilah Hubungan Internasional, kondisi ini disebut dengan All Arabic Core Concern.

Sebab, kata dia, konflik ini menyita banyak perhatian dari masyarakat internasional khususnya bangsa Arab dan dunia Islam. Hal ini, bisa memicu dampak baik karena kasus ini dapat mendapat simpati secara menyeluruh.
“Di tingkat regional, negara-negara yang berbatasan langsung dengan Israel tentu akan merespon persoalan yang terjadi di Palestina. Demikian pula, lingkup yang lebih luas lagi yang tidak berbatasan langsung dengan Israel, termasuk juga negara besar seperti Amerika Serikat dengan mengirim kapal induk serta Rusia pun juga mendukung Palestina,” jelasnya.
Menurut Muttaqien, solusi untuk meredakan konflik ini yakni dengan memberikan kemerdekaan kepada bangsa Palestina. Perang yang berkecamuk ini terjadi karena respon dari Hamas terkait eksistensi mereka sebagai sebuah bangsa yang memiliki hak untuk merdeka.
“Ketika hak itu tidak ditunaikan maka persoalan konflik ini akan terus berlarut-larut. Ini mungkin salah satu bagian respons dari Hamas bahwa mereka itu masih eksis sebagai sebuah bangsa,” tandasnya. [ipl/kun]
BACA JUGA: Mahasiswa FISIP Unair Surabaya Unjuk Rasa Tolak RUU Desa






