Jember (beritajatim.com) – KH Muhammad Balya Firjaun Barlaman, Wakil Bupati Jember, Jawa Timur, dan pengasuh Pondok Pesantren As-Siddiqi Putra, angkat bicara soal konflik internal yang membelit tubuh Perguruan Silat Nahdlatul Ulama Pagar Nusa Jember.
“Saya ingin semua jadi satu. Kabeh iki sedulur (semua ini saudara, red). Suatu saat pasti akan dibutuhkan. Jadi eman-eman (sayang) kalau belum apa-apa sudah digunakan untuk memperbesar perbedaan, karena saya yakin suatu saat tenaga kita dibutuhkan dalam saat-saat yang membutuhkan kekompakan,” kata Firjaun, ditulis Selasa Senin (5/7/2022) malam.
[berita-terkait number=”5″ tag=”gus-firjaun”]
Firjaun terpilih secara aklamasi menjadi Ketua Cabang Pagar Nusa Jember, dalam konferensi yang digelar di Pondok Pesantren As-Siddiqi Putra, Minggu (5/6/2022). Namun proses pemilihan tersebut dipersoalkan sebagian delegasi perwakilan anak cabang. Mereka mempersoalkan keabsahan caretaker yang dijabat Ketua Pimpinan Wilayah Pagar Nusa Jawa Timur Abdul Muchid dalam menyelenggarakan konferensi tersebut.
Selain itu, Sigit Mustofa, delegasi Pagar Nusa Kecamatan Silo, terkejut, karena melihat ada nuansa untuk mengarahkan forum agar Gus Firjaun terpilih secara aklamasi. “Bagi kami beliau notabene guru kami, tokoh nasional, kok mengurusi Pagar Nusa (Jember)? Bagaimana ya, kok guru kami disuruh mengurusi Pagar Nusa (Jember)? Kan beliau sudah ada lahan yang lebih besar dan luas untuk keumatan,” katanya.
Lagipula, lanjut Sigit, ada aturan di Pagar Nusa bahwa ketua harus pernah menjabat pengurus tingkat ranting, anak cabang, dan cabang. “Paling tidak calon ketua pernah menjabat pengurus dan punya nomor induk anggota,” katanya.
Firjaun sendiri tak terlalu ambil pusing dengan pihak yang mempersoalkan keanggotaannya di Pagar Nusa. “Aku bukan pendekar, aku kutilang (Kurus Tinggi Langsing). Kalau pendekar kan (akronim dari) pendek dan kekar. Aku iki kutilang,” katanya.
Pria berkacamata ini mengaku tak tahu apa pertimbangan pengurus-pengurus anak cabang Pagar Nusa di Jember memilihnya menjadi ketua cabang. “Sebetulnya saya tidak merasa layak memegang ini. Saya juga tidak tahu pertimbangan teman-teman seperti apa. Tapi kalau mereka mempercayakan kepada saya, saya ingin semua harus jadi satu,” kata Firjaun.
“Kami berharap ini bisa diterima semuanya. Bisa melebur jadi satu. Bisa jadi harmonis dengan perguruan lain. Bisa semakin mesra. Sama-sama satu pandangan, tidak lagi saling unggul-unggulan, saling gagah-gagahan. Kita saling bahu-membahu, karena setiap orang pasti punya kelemahan dan kelebihan,” kata Firjaun.
“Menurut organisasi, (konferensi cabang Pagar Nusa di As-Siddiqi Putra) sah atau tidak? Saya tidak berkeinginan. Misalkan ini dianulir, saya sama sekali tidak masalah. Silakan. Tapi kalau sudah dianggap sah, sudahlah yang lain hormati,” kata Firjaun.
Firjaun mengaku tidak tahu ada berapa pengurus anak cabang yang memprotes konfercab tersebut. “Sekarang ingin memperbaiki atau ingin usrek-usrek? Silakan, kalau mau ngusrek-usrek. Misalkan saya dianggap tidak sah, saya tidak masalah. Silakan lakukan pemilihan lagi. Saya sama sekali tidak keberatan,” katanya.
Menurut Firjaun, penyelesaian persoalan tersebut merupakan kewenangan Pagar Nusa secara organisasi. “Saya masih belum mendapat SK. Silakan, mana yang menurut mereka benar,” katanya.
Jika sejumlah pengurus anak cabang mempersoalkan keabsahan caretaker, Firjaun menyatakan, itu merupakan kewenangan Pimpinan Pusat Pagar Nusa. “Itu bukan kewenangan saya,” kata Firjaun. [wir/kun]






