Jombang (beritajatim.com) – Komunitas Bruin, bersama dengan puluhan mahasiswa dan penduduk setempat, bergabung dalam upaya memerangi permasalahan sampah yang menghantui Sungai Dor di Kecamatan Megaluh, Jombang, Selasa (12/9/2023).
Sungai Dor ini memiliki peran penting sebagai bagian dari Sungai Brantas yang melewati Megaluh. Dalam aksinya, Komunitas Bruin melakukan pembersihan dan brand audit trash boom, dengan tujuan utama untuk mengidentifikasi industri mana yang menjadi penyumbang sampah utama di sungai ini.
Sejak tahun 2021, Komunitas Bruin bermitra dengan warga Desa Turipinggir, Kecamatan Megaluh, Kabupaten Jombang, untuk mendirikan trash boom di hilir Sungai Brantas Jombang. Trash boom ini secara rutin dibersihkan setiap tiga hingga seminggu sekali.
Sampah yang berhasil dikumpulkan kemudian diuraikan dan dikategorikan sesuai jenisnya. Setelah itu, dilakukan identifikasi apakah sampah tersebut termasuk dalam kategori organik, anorganik, atau residu.
Dalam proses ini, jenis sampah yang paling mendominasi adalah limbah rumah tangga, seperti bekas detergen, bungkus sachet, popok, dan obat-obatan. Menurut Priyo, seorang nelayan lokal di Brantas, “Warga sekitar di sini memiliki akses langsung ke sungai untuk membuang sampah, sehingga masalah sampah menjadi cukup serius.”
BACA JUGA:
Sungai Brantas Mojokerto Berwarna Coklat, Pemicunya Limbah dari Jombang
Total 24 relawan dari berbagai universitas, termasuk Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Universitas Trunojoyo, dan Universitas Tujuh Belas Agustus, serta nelayan lokal di Sungai Brantas, bergabung dalam aksi pembersihan ini. Mereka bersama-sama membersihkan, mencatat, dan mengidentifikasi sampah yang berhasil dikumpulkan.
Hasil dari brand audit ini menunjukkan bahwa sampah non-brand mendominasi sebagian besar sampah yang berhasil dikumpulkan, dengan rincian 25.89% plastik sekali pakai (PSP), 12.94% Styrofoam, dan 38.82% sampah kain bekas.
Selain sampah non-brand, beberapa merek tertentu juga berhasil diidentifikasi, seperti 27.77% dari Unicharm (produk popok), 20.86% dari Forisa Nusa Persada (bungkus sachet), 10.79% dari Wings (bungkus detergen), dan 2.52% dari Unilever (kosmetik dan perawatan tubuh).

Aksi membersihkan dan brand audit ini dilakukan pada sore hari di hilir Sungai Brantas, yang dikenal sebagai Sungai Dor. “Kami berharap bahwa kegiatan ini dapat menjadi sarana edukasi dan juga memberi inspirasi kepada masyarakat lokal agar turut serta dalam menjaga kelestarian lingkungan, khususnya Sungai Brantas. Selanjutnya, kami berencana untuk mengimplementasikan trash boom di wilayah lain guna mencegah sampah masuk ke Sungai Brantas,” ungkap Aziz, Direktur Bruin.
Komunitas Bruin juga berkomitmen untuk terus mendampingi masyarakat dalam menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan, serta akan terus berkolaborasi dengan berbagai pihak yang memiliki visi dan misi untuk menciptakan lingkungan yang lebih baik. [suf]






