Surabaya (beritajatim.com) — CEO PT Sun City Mall Group, H. Mochammad Turino Junaedy, menegaskan bahwa pelaku usaha retail saat ini tidak bisa lagi mengandalkan intuisi semata atau meraba-raba untuk bertahan di tengah pasar yang semakin kompetitif dan dinamis.
Dunia industri, kata dia, membutuhkan dukungan riset ilmiah agar setiap langkah bisnis berjalan lebih presisi.
Pernyataan itu disampaikan dalam forum “Collaborative Meeting” yang digelar di Gedung Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga (UNAIR), Kampus B Surabaya, Selasa (19/5/2026).
Pertemuan tersebut mempertemukan kalangan akademisi, pelaku usaha, hingga praktisi industri dalam upaya membangun sinergi strategis antara kampus dan dunia bisnis.
“Dunia bisnis hari ini bergerak sangat dinamis. Kami di industri retail tidak bisa lagi hanya memakai ilmu raba-raba atau sekadar intuisi. Kami butuh kajian ilmiah, butuh riset dari para akademisi di Sekolah Pascasarjana ini agar langkah kami presisi,” ujar Turino Junaedy, Selasa (19/5/2026).
Forum kolaboratif tersebut menjadi bagian dari penguatan konsep Collaborative Leadership, yakni mendorong kampus tidak hanya menjadi pusat teori, tetapi juga hadir sebagai penyelesai persoalan nyata yang dihadapi industri dan masyarakat.
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Jawa Timur, H. Adik Dwi Putranto, S.H., M.H.P., mengapresiasi langkah Sekolah Pascasarjana UNAIR yang aktif membangun koneksi dengan dunia usaha.
Menurutnya, sinergi seperti ini menjadi kebutuhan penting di tengah tantangan ekonomi yang terus berubah.
“Langkah Sekolah Pascasarjana UNAIR ini patut diacungi jempol. Sinergi seperti inilah yang kita butuhkan—di mana menara gading akademis turun langsung untuk menyatu dengan realitas dan dinamika yang dihadapi pelaku usaha di lapangan,” kata Adik Dwi Putranto.
Suasana pertemuan juga terasa hangat karena Adik Dwi Putranto maupun Turino Junaedy merupakan alumnus Sekolah Pascasarjana UNAIR. Kehadiran keduanya dinilai menjadi bentuk kontribusi nyata alumni dalam memperkuat peran kampus terhadap pembangunan ekonomi daerah.
Wakil Direktur III Sekolah Pascasarjana UNAIR, Prof. Dr. H. Suparto Wijoyo, SH., M.Hum., menekankan bahwa kekuatan alumni harus memberi dampak sosial yang konkret. Ia menilai konsep “Kampus Berdampak” harus mampu menjawab kebutuhan strategis dunia usaha dan masyarakat.
“Bagaimana alumni ini punya impact bagi Sekolah Pasca, sehingga kampus berdampak ini juga bagaimana UNAIR punya dampak pada kepentingan dan tupoksinya KADIN,” ujar Suparto Wijoyo.
Diskusi yang dipandu Ketua Unit Pengembangan Penelitian Sekolah Pascasarjana UNAIR, Dr. Waode Fifin Ervina Muslihi, S.Gz., M.Imun., berlangsung dinamis dengan pembahasan sejumlah rancangan riset multidisiplin yang dapat dikerjasamakan bersama industri.
Dalam forum itu, Turino juga menyatakan kesiapan Sun City Mall menjadi living laboratory bagi mahasiswa dan akademisi. Menurutnya, pusat perbelanjaan dan jaringan bisnis yang dikelola dapat dimanfaatkan untuk riset terapan, pengujian teori ekonomi, hingga program magang berbasis pemecahan masalah.
Sementara itu, kolaborasi antara UNAIR dan KADIN Jatim juga diarahkan pada penyusunan riset komprehensif jangka panjang yang dipimpin pakar internasional, Prof. Moses. Fokus utama riset tersebut adalah merumuskan blueprint ekonomi aplikatif yang relevan dengan kebutuhan daerah.
Salah satu isu strategis yang mengemuka ialah pengawalan kebijakan hilirisasi industri di Jawa Timur, termasuk industri tembakau.
Menurut Adik Dwi Putranto, kebijakan ekonomi makro harus mampu mempertimbangkan dampaknya terhadap penyerapan tenaga kerja dan keberlanjutan ekonomi daerah.
“Riset mengenai hilirisasi tembakau bukan sekadar urusan bisnis, tapi menyangkut hajat hidup orang banyak di Jawa Timur. Kami di KADIN butuh peluru ilmiah dari UNAIR untuk memastikan kebijakan yang keluar nantinya benar-benar berwawasan keberlanjutan ekonomi,” tegasnya.
Pertemuan tersebut sekaligus menegaskan komitmen bersama bahwa solusi atas tantangan ekonomi nasional harus dibangun melalui ruang kolaborasi antara akademisi, pelaku usaha, dan pemangku kebijakan, bukan berjalan sendiri-sendiri. (ted)






