Mojokerto (beritajatim.com) – Presiden Joko Widodo mendorong Indonesia bisa swasembada gula dengan menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 40 Tahun 2023 tentang Percepatan Swasembada Gula Nasional pada 16 Juni 2023 lalu. Untuk itu, PT Petrokimia Gresik berkolaborasi bersama PT Sinegi Gula Nusantara (SGN).
Dua Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini berkolaborasi mewujudkan swasembada gula konsumsi di tahun 2028 dan swasembada gula industri tahun 2030 melalui Program Makmur. Keduanya menggelar panen dan tanam Demonstration Plot (Demplot) bersama di Desa Jrambe, Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto.
Program Makmur ini bertujuan untuk memberikan pendampingan intensif kepada petani dan budidaya pertanian berkelanjutan serta melibatkan rantai pasok dan didukung teknologi, dengan target peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani. Program Makmur merupakan solusi bagi petani tebu yang saat ini kebutuhannya belum tercukupi dari pupuk bersubsidi.
Salah satu petani, Jamal (40) mengatakan, di tahun kedua terlibat dalam Program Makmur, para petani tidak ada yang terlambatan mendapatkan pupuk dan dibantu pihak perbankan. “Bahan baku juga disiapkan. Sebelumnya hasil panen 1.000 kwintal/hektar, saat ini naik 1.200 kwintasi/hektar bahkan bisa naik,” ungkapnya, Rabu (9/8/2023).
“Cukup baik (Program Makmur), namun perlu pembenahan seperti harga gula karena stagnan. Biaya operasional tinggi tapi harga gula kena HET (Harga Eceran Tertinggi). Saat harga gula mahal, kena Operasi Pasar sehingga harapannya ada ketegasan terkait harga agar ada petani-petani milineal untuk menjaga gula nasional,” tegas anggota Koperasi Petani Tebu Rakyat (KPTR) Rosan Jaya ini.
Baca Juga: Tukang Becak Sumringah Terima Bantuan Petrokimia Gresik
Direktur Produksi dan Pengembangan Holding Perkebunan, Mahmudi mengatakan, berdasarakan Perpres Nomor 40 Tahun 2023, PT Perkebunan Nusantara III (Persero) Grup harus mewujudkan swasembada gula konsumsi tahun 2028 dan swasembada gula industri tahun 2030. Tahun kedua berkolaborasi dengan PT Petrokimia Gresik dan petani.
“Hasilnya membanggakan dari sisi produktif tebu dan rendeman yang ada. Ini sejalan. Melalui Program Makmur ini, satu saran yang luar biasa untuk bersama-sama mewujudkan peningkatkan produktifitas sehingga kami terus bersinergi dalam upaya meningkatkan produktifitas gula setiap hektarnya,” katanya.
Tentu hal tersebut adalah trend positif bagi produktifitas gula. Program Makmur PT Sinergi Gula Nusantara memiliki sebaran wilayah realisasi. Hingga bulan Juli 2023, Pabrik Gula Gempolkrep Mojokerto memiliki luas lahan 5.628 Hektar dengan jumlah petani 719. Saat ini, lanjut Mahmudin, masih 70 ton per hektar, menuju 90 ton per hektar.
“Hari ini kita saksikan bersama 160 ton per hektar dengan Program Makmur. Ini adalah satu langkah yang cerah atas tugas daripada negara. Saat ini produksi gula kita 2,3 juta ton, kebutuhan gula nasional adalah 3,2 juta ton pertahun. Tahun 2028 kita memiliki target 4,6 juta ton sehingga angka produksi gula di Indonesia masih butuh untuk ditingkatkan,” ujarnya.
Pihaknya akan melakukan akselerasi yaitu melalui perluasan lahan atau ekstensifikasi. Yakni PTPN Group dalam hal ini SGN harus menambah luasan 179 ribu hektar. Ada tiga hal yang perlu dilakukan peningkatan yakni produktifitas, luasan lahan dan rendemen. Tiga hal tersebut menjadi tugas besar PT SGN di bawah PTPN Group.
“Produktivitas, luas lahan dan rendemen. Kami terus memerhatikan tugas dari pemerintah yakni tahun 2028 swasembada gula konsumsi dan tahun 2030 swasembada gula industri. Serta menyediakan Bioetanol 1,2 juta kiloliter,” pungkasnya.
Sementara itu, Direktur PT Petrokomia Gresik, Dwi Satriyo Annurogo mengatakan, dibawah Pupuk Indonesia Holding Company, PT Petrokimia Gresik mendukung untuk terus meningkatkan sinergi dan kolaborasi. Produksi gula nasional untuk konsumsi per tahun ditargetkan mencapai 2,74 juta ton.
“Sedangkan, di tahun lalu kebutuhan gula konsumsi mencapai 3,2 juta ton. Artinya, lebih dari 20 persen kebutuhan gula konsumsi masih bergantung pada impor. Ada tugas kepada holding Nusantara untuk meningkatkan produktivitas. Perusahaan agrobisnis mensupport hal tersebut karena pekerjaan ini tidak satu sisi saja tapi harus berkolaborasi,” tuturnya.
PT Petrokimia bersama anak perusahaan PT Petrokimia Kayako dan PT Petrosida, lanjut mantan Dirut Perkebunan Nusantara XI ini, untuk penyedia pestisida. Pihaknya juga menyiapkan mobil uji tanah untuk treatment tanah dengan memberikan kapur pertanian. Khusus untuk menyiapkan peningkatan produktifitas tebu, PT Petrokimia Gresik secara khusus menyediakan pupuk tersendiri.
Dari 120 ton per hektar, lanjut Dwi, terjadi kenaikan menjadi 160 ton per hektar, ditambah rendemen yang juga naik dari 7,35 menjadi 8,5 persen. Artinya dari sisi produksi naik, angka rendemennya juga naik. Untuk itu pihaknya siap mensupport dan berkontribusi untuk peningkatan produktifitas dan kesejahteraan petani bersama PT SGN.
Sekedar diketahui, Presiden Joko Widodo mendorong Indonesia bisa swasembada gula dengan menerbitkan Perpres Nomor 40 Tahun 2023 tentang Percepatan Swasembada Gula Nasional pada 16 Juni 2023 lalu. Lewat beleid ini pemerintah akan meningkatkan produktivitas tebu sebesar 93 ton per hektar dan melakukan penambahan area lahan tebu seluas 700 ribu hektare.
Merujuk data Kementerian Pertanian, target produksi gula tahun 2023 adalah sebesar 2,74 juta ton. Apabila dirasionalkan produksi gula rata-rata selama lima tahun, pencapaian target produksi sebesar 95 persen dari angka taksasi, sehingga estimasi produksi gula sebesar 2,6 juta ton. Pada tahun 2022, produksi GKP sebesar 2,45 juta ton yang diperoleh dari luas areal 488.982 hektare.
Produksi ini meningkat sekitar 2,34 persen dibandingkan dengan produksi GKP tahun 2021, begitu juga jumlah tebu digiling meningkat 12,67 persen. Peningkatan ini disebabkan oleh adanya peningkatan luas areal dan produktivitas tebu. Namun, untuk rendemen, tahun 2022 lebih rendah dibandingkan tahun 2021. Pada tahun 2023 ini, jumlah pabrik gula yang aktif adalah sebanyak 59 pabrik gula dari 24 perusahaan gula yang ada di indonesia. [tin/ted]








