Probolinggo (beritajatim.com) – Dalam upaya mendukung percepatan swasembada susu nasional, JAPFA melalui anak usahanya PT Santosa Agrindo Lestari (Santori) bekerja sama dengan PT Greenfields Dairy Indonesia (Greenfields), mendistribusikan sapi perah bunting ke 120 peternak lokal.
Para peternak ini merupakan mitra binaan dalam program Kemitraan Sapi Perah Greenfields (KSG) yang tersebar di Kabupaten Malang, Blitar, Pasuruan, dan Kota Batu, Jawa Timur.
Distribusi ini merupakan tindak lanjut dari keberhasilan JAPFA memfasilitasi impor 1.080 ekor sapi perah berkualitas dari Australia. Proses seleksi sapi dilakukan secara seksama bersama Greenfields. Sapi-sapi tersebut merupakan hasil persilangan ras Holstein dan Jersey (crossbreed), yang dikenal unggul dalam produktivitas susu dan ketahanan iklim tropis.
Kepala Badan Karantina Indonesia, Sahat Manaor Panggabean, dalam sambutannya memastikan seluruh prosedur karantina telah dilaksanakan sesuai ketentuan yang berlaku.
“Badan Karantina Indonesia telah melakukan analisis risiko, pemeriksaan fisik, dan uji laboratorium untuk menjamin kesehatan seluruh sapi perah impor yang didatangkan ke Provinsi Jawa Timur. Selama 14 hari, seluruh sapi perah berada di dalam instalasi karantina hewan, dan pada hari ini dapat dilakukan pembebasan setelah dinyatakan sehat oleh dokter hewan karantina yang kami tugaskan di Balai Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan Jawa Timur,” ujarnya.
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menyampaikan apresiasinya pada kedatangan sapi perah bunting impor untuk peternak di 5 kabupaten di Jawa Timur ini sangat berarti bagi peningkatan populasi sapi perah dan peningkatan susu segar di Jawa Timur.
“Atas nama Pemprov Jatim, kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada JAPFA dan Greenfields, atas dukungannya dalam percepatan peningkatan populasi sapi perah dan produksi susu segar pasca wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK),” kata Khofifah.
Gubernur Khofifah Indar Parawansa juga menyoroti kontribusi Jawa Timur dalam produksi gula (67% nasional), padi, ayam, dan telur. Ia menekankan pentingnya ekosistem yang produktif dan pemerataan pertumbuhan ekonomi melalui kemitraan dengan peternak, serta dukungan dari berbagai pihak termasuk perbankan Himbara.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) Kementerian Pertanian RI, Dr. drh. Agung Suganda, M.Si., juga mendukung inisiatif ini.
“Kami memiliki komitmen investasi terhadap sapi perah sebanyak 998.565 ekor pada tahun 2025-2029. Kolaborasi antara sektor swasta dan pemerintah seperti ini sangat penting untuk mempercepat pencapaian target swasembada susu, sekaligus meningkatkan kesejahteraan peternak lokal. Tentunya, dukungan dari perbankan juga diperlukan untuk memfasilitasi pembiayaan peternak melalui Kredit Usaha Rakyat,” ujar Dr. Agung Suganda.
Dr. Agung Suganda, juga menyoroti pentingnya swasembada pangan, termasuk protein hewani. Meskipun Indonesia telah surplus daging ayam dan telur, impor daging sapi masih 52% dan susu 79% dari kebutuhan nasional.
Program percepatan susu dan daging nasional telah menjadi proyek strategis nasional, bahkan dengan target impor 1 juta ekor sapi perah selama 5 tahun ke depan dan pembukaan sumber negara baru seperti Selandia Baru, Meksiko, Amerika Serikat, dan Brazil untuk impor sapi perah. Ia mengapresiasi kolaborasi swasta dan pemerintah serta peran perbankan dalam memfasilitasi pembiayaan peternak.
Peningkatan konsumsi susu nasional diproyeksikan akan terus berlanjut. Menurut estimasi Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA), angka konsumsi susu di Indonesia akan naik dari 4,2 juta ton pada tahun 2024 menjadi 5,3 juta ton pada tahun 2025. Kenaikan ini didorong oleh peluncuran program nasional “Makan Bergizi Gratis” yang ditargetkan menjangkau hingga 82 juta anak Indonesia pada tahun 2029.
Melalui langkah ini, JAPFA dan Greenfields berharap dapat memperkuat fondasi industri susu nasional sekaligus menciptakan ekosistem peternakan rakyat yang produktif, mandiri, dan berkelanjutan.
“Program ini akan semakin menambah jumlah mitra peternak lokal di bawah program KSG yang telah digagas Greenfields sejak tahun 2007 dan hingga kini telah bermitra dengan lebih dari 2.000 peternak sapi perah. Setelah sapi didistribusikan, kami akan terus mendampingi para mitra peternak dengan berbagai dukungan agar pengelolaan ternak dapat berjalan optimal dan manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan. Pada akhirnya, diharapkan usaha peternakan rakyat dapat semakin berkontribusi pada upaya peningkatan produksi Susu Segar Dalam Negeri,” pungkas Akhil Chandra, CEO Greenfields.
Syamsir Siregar, Komisaris Utama PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk, menambahkan bahwa kebutuhan susu nasional yang terus meningkat sementara produksi domestik baru mencukupi sekitar 21% dari total kebutuhan, menjadikan inisiatif ini sebagai bagian dari solusi jangka panjang ketahanan pangan. Ia juga menegaskan komitmen JAPFA dalam memfasilitasi impor sapi perah berkualitas dan pendampingan berkelanjutan untuk peternak lokal.
Heru Setyo Prabowo, Head of Environment, Safety & Governance Greenfields, menekankan bahwa sebagai bisnis asli Indonesia dengan peternakan sapi terbesar di Asia Tenggara, Greenfields berkomitmen kuat menghadirkan produk susu segar berkualitas tinggi dan memberdayakan peternak melalui program KSG.
Program ini mencakup pelatihan, akses pakan berkualitas, layanan kesehatan ternak, pendampingan teknis, hingga skema pembelian susu yang konsisten. Kolaborasi dengan JAPFA ini membawa 1.080 ekor sapi perah persilangan berkualitas tinggi dari Australia untuk meningkatkan produktivitas dan mutu genetika ternak lokal.[rea]






