Jakarta (beritajatim.com) – Uzbekistan akhirnya menorehkan sejarah dengan lolos ke Piala Dunia untuk pertama kalinya. Setelah bertahun-tahun mengalami kegagalan menyakitkan dan tragedi memilukan, skuad berjuluk White Wolves ini berhasil menghapus kutukan panjang di babak kualifikasi.
Nama-nama besar seperti Server Djeparov, Odil Ahmedov, Ignatiy Nesterov, hingga Maxim Shatskikh pernah membela negara ini dengan penuh semangat, tetapi selalu gagal mencapai panggung tertinggi sepak bola dunia.
Bahkan sosok legendaris Timur Kapadze, salah satu pemain terbaik yang pernah dimiliki Uzbekistan, belum sempat mencicipi Piala Dunia sebagai pemain.
Kini, Kapadze menebus kegagalan itu sebagai pelatih. Sepuluh tahun setelah pertandingan terakhirnya sebagai pemain, pria 43 tahun ini memimpin tim nasional dari pinggir lapangan menuju prestasi yang selama ini hanya menjadi impian.
Uzbekistan menjadi salah satu wakil Asia yang sudah memastikan tiket ke Piala Dunia 2026. Mereka bersanding dengan Australia, Jepang, Korea Selatan, Iran, dan Yordania.
Uzbekistan menjadi negara pertama dari Asia Tengah yang berhasil lolos ke Piala Dunia. Sebuah pencapaian luar biasa untuk wilayah yang diapit oleh kekuatan besar seperti Rusia dan China.
Namun, jalan Uzbekistan menuju prestasi ini tidaklah mudah. Lebih dari sekadar kekalahan di lapangan, negara ini juga pernah dihantam tragedi besar. Pada tahun 1979, pesawat yang membawa sebagian besar skuad klub ternama Pakhtakor jatuh di langit Ukraina, menewaskan seluruh pemain dan staf.
Meski sempat terpuruk, sepak bola Uzbekistan bangkit. Pemerintah dan federasi sepak bola setempat berinvestasi besar dalam pengembangan akademi dan fasilitas pemuda.
Hasilnya mulai terlihat: mereka dua kali mencapai perempat final Piala Dunia U-17 dan tampil mengesankan di U-20, bahkan membawa tim Olimpiade bersinar di Paris tahun lalu.
Gelombang bakat muda kini menjadi tulang punggung kebangkitan Uzbekistan. Pemain sayap Abbosbek Fayzullaev dan bek tengah Abdukodir Khusanov menjadi simbol generasi baru yang siap bersaing di panggung dunia.
Khususnya Khusanov, kisahnya sungguh luar biasa. Dalam waktu tiga tahun, ia naik dari tim junior Bunyodkor hingga menarik perhatian Manchester City, klub elit yang akan tampil di Piala Dunia Antarklub FIFA.
Generasi ini tumbuh dengan inspirasi dari para legenda yang pernah gagal. Kini, harapan publik Uzbekistan adalah agar kehadiran mereka di Piala Dunia menjadi awal dari era baru yang gemilang dalam sejarah sepak bola Asia Tengah. [faw/aje]






