Surabaya (beritajatim.com) – Ruangan pimpinan DPRD Surabaya sebelah selatan bagian timur tampaknya menyimpan kisah yang tak biasa. Mulai dari pergantian tokoh hingga terlibatnya sejumlah pejabat dalam kasus hukum, ruangan ini menjadi saksi bisu dari perjalanan politik yang penuh liku.
Tokoh-tokoh yang pernah menempati ruangan ini kerap menghadapi cobaan berat, baik di dalam partai maupun dalam ranah hukum.
Periode kepemimpinan pertama yang menempati ruangan tersebut adalah Nanang Budi dari PDIP pada 2004-2009. Namun, karir politiknya harus terhenti ketika dipecat oleh partai, dan akhirnya digantikan oleh Syukur Amaludin.
Sayangnya, Syukur gagal dalam pemilihan legislatif (pileg) pada 2009-2014.
Lalu ruangan beralih kepada Musyafak Rouf dari PKB yang menjabat pada 2009-2014, sayangnya tidak bisa lepas dari kasus hukum. Pada 2009, Musyafak bersama sejumlah pejabat Pemkot Surabaya tersangkut kasus gratifikasi sebesar Rp720 juta.
Kasus ini kemudian disidangkan di Mahkamah Agung (MA), di mana empat pejabat Pemkot Surabaya divonis bersalah. “MA memutuskan mereka bersalah, namun ada hakim agung, Imron Anwari, yang memutuskan mereka bebas,” seperti dilansir website MA pada 5 Januari 2013.
Setelah Musyafak Rouf ruang tersebut digantikan oleh Aden Darmawan dari Gerindra, yang juga harus masuk penjara akibat kasus dana hibah Jaring Aspirasi Masyarakat pada 2016.
Setelah Aden, ruangan tersebut ditempati oleh Ratih Retnowati dari Demokrat, yang sempat terseret dalam kasus serupa namun divonis bebas oleh pengadilan.
Kini, A. Hermas Thony yang menjabat pada periode 2019-2024 juga gagal terpilih kembali dalam pemilu legislatif. Pada periode 2024-2029, ruangan tersebut akan ditempati oleh Bahtiyar Rifai dari Gerindra.
Meski sejarah ruangan tersebut penuh dengan tantangan, Bahtiyar menegaskan bahwa ia tidak percaya pada takhayul. Menurut dia, jabatan atau posisi merupakan takdir.
“Saya tidak percaya takhayul, mas. Pada prinsipnya, jabatan dan posisi adalah garis tangan Allah,” ujar Bahtiyar kepada beritajatim.com, Kamis (10/10/2024).
Namun, Bahtiyar juga berencana melakukan perubahan pada ruangan tersebut. Mulai menata ulang layout ruangan hingga menambahkan mushola.
“Saya akan merenovasi ruangan ini, menata ulang meja rapat, meja staf, dan membangun mushola seperti ruangan teman-teman pimpinan lainnya,” kata politisi muda ini.
“Semoga saya bisa menjalankan tugas dengan baik sebagai pimpinan DPRD Surabaya,” pungkasnya.
Akankah Bahtiyar Rifai mampu memutus rantai pergantian yang selalu diwarnai masalah? Hanya waktu yang akan menjawab. [asg/beq]






