Ringkasan Berita:
- Surono (37), kernet truk asal Desa Bulurejo, Jombang, menjadi salah satu korban yang masih dicari setelah KM Virgo Transport 8 tenggelam di perairan Laut Jawa.
- Keluarga Surono mengenang selimut milik mendiang ibunya yang dibawa dalam perjalanan menuju Banjarmasin, sesuatu yang tidak pernah ia lakukan selama bertahun-tahun bekerja sebagai kernet.
- Di tengah penantian tanpa kepastian, keluarga berharap Surono segera ditemukan dalam kondisi selamat atau mendapatkan kepastian agar dapat memberikan penghormatan terakhir.
Jombang (beritajatim.com) – Tidak ada yang menyangka sebuah selimut sederhana akan menjadi kenangan paling membekas bagi keluarga Surono (37), warga Desa Bulurejo, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang.
Selimut milik ibunya yang telah meninggal dunia itu, untuk pertama kalinya ia bawa dalam perjalanan kerja menuju Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Perjalanan yang awalnya hanya rutinitas seorang kernet truk pengangkut sayuran itu kemudian berubah menjadi penantian panjang setelah kapal yang ditumpanginya, KM Virgo Transport 8, tenggelam di perairan Laut Jawa.
Bagi keluarga Surono, selimut itu kini bukan sekadar benda biasa. Ia menjadi bagian dari cerita terakhir sebelum kabar tentang keberadaan Surono menghilang bersama tragedi kapal tersebut.
Selama bertahun-tahun bekerja sebagai kernet, Surono hampir tidak pernah membawa selimut ketika bepergian. Karena itu, keputusan Surono membawa selimut kesayangan ibunya menjadi sesuatu yang terus dikenang keluarga.
“Biasanya tidak pernah bawa selimut. Itu kemul (selimut) kesayangan ibu yang sudah almarhum. Tapi waktu itu dibawa terus. Sebelum berangkat juga dicari-cari,” ujar Ari Supriyati, adik ipar Surono, saat ditemui di rumahnya di Desa Kwaron, Kecamatan Diwek, Selasa (22/9/2026).
Malam Jumat itu, sekitar pukul 23.00 WIB, Surono berpamitan kepada keluarga untuk kembali bekerja. Seperti perjalanan sebelumnya, ia hanya menyiapkan pakaian dan perlengkapan yang dibutuhkan selama perjalanan.
Tidak ada firasat khusus yang dirasakan keluarga. Tidak ada pesan terakhir yang berbeda dari biasanya. Surono hanya menjalankan rutinitas yang telah lama ia jalani sebagai kernet truk pengangkut sayuran dengan rute perjalanan menuju Banjarmasin.
“Jumat malam jam sebelas, pamit kalau mau berangkat ke Banjarmasin. Biasanya memang kerjanya pulang-pergi terus Banjarmasin. Dia sebagai kernet, kirim sayuran,” kata Ari.
Namun, perjalanan itu berubah menjadi kabar duka setelah KM Virgo Transport 8 mengalami kecelakaan dan terbalik di perairan Laut Jawa pada Minggu (13/9/2026). Hingga kini, Surono menjadi salah satu penumpang yang belum diketahui keberadaannya.
Sembilan Hari Tanpa Kabar

Sejak menerima kabar kapal mengalami musibah, keluarga Surono berusaha mencari kepastian. Mereka mendatangi Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, untuk memastikan informasi mengenai para penumpang.
Nama Surono tercatat dalam data yang mereka peroleh. Namun, kabar mengenai keberadaannya belum juga diterima keluarga.
“Sudah hampir sembilan hari ini belum ada kabar sama sekali. Kita sudah ke Tanjung Perak cari informasi di sana, datanya ada. Tapi untuk informasi korban-korban itu belum (ada),” ungkap Ari.
Hari-hari berlalu dengan penuh kecemasan. Rumah keluarga Surono kini dipenuhi doa dan harapan agar pria yang dikenal sederhana itu segera ditemukan.
Cerita Terakhir dari Kapal
Keluarga juga mendapatkan informasi mengenai detik-detik sebelum kapal tenggelam dari Yahya, sopir truk yang bepergian bersama Surono dan berhasil selamat dalam insiden tersebut.
Saat kapal dalam kondisi kritis, Surono disebut sedang berada di ruang tidur. Ia kemudian dibangunkan ketika kapal mulai miring. Pada saat itu, air sudah masuk ke bagian kapal dan suasana menjadi gelap setelah lampu padam.
Kondisi tersebut membuat para penumpang panik dan berusaha menyelamatkan diri. Namun, bagi keluarga Surono, masih ada pertanyaan yang belum terjawab. Mereka terus membayangkan bagaimana kondisi Surono saat dibangunkan dari tidur.
“Kalau sopirnya bilang sudah bangun. Tapi kalau orang masih bangun tidur kan mungkin belum terlalu 100 persen fokus,” tutur Ari. Pertanyaan itu masih menunggu jawaban.
Harapan Agar Surono Segera Pulang

Dalam kesehariannya, Surono dikenal sebagai sosok sederhana. Sepulang bekerja dari Kalimantan, ia lebih banyak menghabiskan waktu di rumah untuk beristirahat. Ia jarang bepergian selain untuk bekerja.
“Kalau habis pulang dari Kalimantan itu cuma tidur. Terus merokok. Tidak pernah main ke mana-mana,” kata Ari.
Sekitar dua bulan terakhir, Surono kembali bekerja sebagai kernet truk pengangkut sayuran. Sebelumnya, pekerjaan tersebut juga telah lama ia tekuni.
Kini keluarga hanya bisa menunggu kabar. Mereka tetap berharap Surono ditemukan dalam keadaan selamat, tetapi juga berusaha menerima segala kemungkinan.
“Kita tetap berharap yang terbaik. Mungkin menunggu keajaiban. Kalau memang masih diberi umur panjang, ya segera ditemukan dalam kondisi selamat. Tapi kalau memang sudah takdirnya berkata lain, apa pun kondisinya tetap ditemukan. Supaya kita bisa merawat jenazahnya dengan baik,” ungkap Ari dengan suara tercekat.
Di tengah penantian itu, selimut peninggalan ibu Surono tetap menjadi benda yang paling mengingatkan keluarga kepada sosoknya. Selimut yang tidak pernah biasa ia bawa bekerja, justru ikut dalam perjalanan terakhirnya sebelum Surono dinyatakan belum ditemukan.
Kini keluarga hanya menunggu satu hal: kabar tentang Surono. Sebab bagi mereka, kepastian adalah bentuk terakhir dari sebuah penantian. [suf]






