Lamongan (beritajatim.com) – Meski pernah menyandang gangguan jiwa atau ODGJ, kondisi itu tak menyurutkan semangat pemuda asal Lamongan ini untuk memperbaiki taraf hidupnya agar lebih baik dan bermanfaat.
Pemuda ini adalah Wahyu Prayogi (25), warga Desa Godog, Kecamatan Laren, Kabupaten Lamongan. Setelah sembuh, ia lalu melanjutkan sekolahnya kembali hingga mampu menyelesaikan kuliah S1 keperawatan di Universitas Muhammadiyah Lamongan (UMLA).
Tak hanya itu, setelah menyandang gelar sarjana keperawatan, Wahyu diterima bekerja sebagai perawat di Rumah Sakit Karangkembang Babat, Lamongan.
Wahyu mengungkapkan, apa yang diraihnya saat ini bukanlah suatu yang didapatkan begitu saja, namun harus dilalui dengan perjuangan keras. Ia mengaku, sebelumnya sempat menjalani masa-masa kelam, bahkan ia pernah dipasung akibat gangguan jiwa yang dideritanya.
“Sempat dirantai juga, kemudian setelah sembuh, saya lanjut lagi sekolah SMA dan lulus kemudian mendapatkan beasiswa dari Pemkab Lamongan,” kata Wahyu, Minggu (11/9/2022).

Pihaknya menambahkan, saat ini pihaknya kerap mendatangi orang-orang yang masih dalam tahap penyembuhan gangguan jiwa. Hal itu ia lakukan demi memberikan semangat dan motivasi kepada mereka agar bisa melewati masa-masa sulit, seperti yang ia lakukan di Posyandu Kesehatan Jiwa Mekar Sari di Desa Bulutigo, Kecamatan Laren.
Di Posyandu ini, Wahyu bercerita tentang kehidupannya saat masih belum sembuh dari gangguan jiwa. Ia berkata, kerap mengamuk dan melempari mobil petugas kesehatan kala itu.
Ia juga sempat dibawa berobat ke Rumah Sakit Jiwa Menur. Meski sempat memberontak, namun seiring berjalannya waktu ia mampu sembuh dan mengawali lembaran baru yang lebih baik. Wahyu menilai, faktor kuat yang mempengaruhi seseorang bisa sembuh dari gangguan jiwa yakni kesabaran dan dukungan dari keluarga.
“Sampai mobil petugas saya lempari batu. Tapi itu dulu, kini mari kita memulai hidup baru lagi dengan penuh semangat dan bermanfaat bagi masyarakat banyak,” tandasnya.
Sekadar diketahui, Wahyu Prayogi menderita gangguan jiwa pada saat ia masih di Brebes Jawa Tengah pada tahun 2016 hingga 2017 silam.
Ada banyak faktor yang membuat dirinya mengalami gangguan jiwa, salah satunya adalah korban broken home. Sejak masih kecil, kedua orang tuanya sudah bercerai. Ia kemudian datang ke Brebes dan tinggal bersama neneknya. Sayangnya, tak lama kemudian neneknya pun meninggal dunia.
[berita-terkait number=”4″ tag=”odgj”]
Secara terpisah, Kordinator Pendamping Pasung Kabupaten Lamongan M. Rozim Arista mengatakan, sebenarnya Posyandu Jiwa Bulutigo ini sudah mulai berdiri sejak tahun 2014 silam.
Menurut Rozim, Posyandu tersebut telah berhasil menyembuhkan 114 ODGJ di wilayah Laren, yang sekarant ini sudah bisa bekerja dan menjadi tulang punggung keluarga.
“Sebenarnya posyandu jiwa ini sudah kita mulai dan dilaunching pada 2014 lalu, dan alhamdulillah berkat posyandu jiwa ini, Lamongan dinyatakan bebas pasung,” tutupnya. [riq/but]






