Surabaya (beritajatim.com) – Masa kepemimpinan Khofifah Indar Parawansa dan Emil Elestianto Dardak di Jawa Timur telah berakhir. Meskipun terdapat berbagai pencapaian, salah satu pekerjaan rumah yang masih belum tuntas adalah pengentasan kemiskinan.
Hal ini diungkapkan oleh Ketua DPD RI AA LaNyalla Mahmud Mattalitti. Ia mengatakan, meskipun pertumbuhan ekonomi Jawa Timur meningkat signifikan dan tumbuh inklusif, namun hal tersebut belum mampu secara krusial berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.
“Memang ada pertanyaan, mengapa pertumbuhan ekonomi di Jatim bagus, kondisi itu belum mampu secara krusial berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Inilah yang harus dijawab oleh pemerintah daerah. Terutama oleh semua kepala daerah di Jatim, dimana yang salah di sini,” tukas LaNyalla, Selasa (13/2/2024).
Berdasarkan data BPS, angka kemiskinan di Jawa Timur masih terbilang tinggi. Rata-rata angka kemiskinan di provinsi ini berada pada kisaran 9,7 persen.
Sebanyak 17 kabupaten di Jawa Timur memiliki angka kemiskinan dua digit atau di atas 10 persen. Kabupaten Sampang memiliki angka kemiskinan tertinggi, yaitu 21 persen. Sementara itu, 4 kabupaten lainnya, yaitu Gresik, Nganjuk, Kediri, dan Trenggalek, memiliki angka kemiskinan 10 persen.
Di sisi lain, terdapat 4 daerah dengan angka kemiskinan terendah, yaitu Kota Batu (3 persen), Kota Malang, Kota Surabaya, dan Kota Madiun (masing-masing 4 persen).
LaNyalla menegaskan bahwa masalah kemiskinan adalah masalah nir-kesejahteraan yang artinya hajat hidup pokok masyarakat. Pemerintah daerah harus fokus menyelesaikan persoalan-persoalan ini.
“Perekonomian yang semakin tumbuh seyogyanya semakin memberikan tetesan kesejahteraan, akan makin mengurangi pengangguran, serta berdampak penurunan kemiskinan,” kata LaNyalla.
Dari sisi pertumbuhan ekonomi, bila dibandingkan dengan provinsi lain di Jawa, ekonomi Jatim pada triwulan III 2023 tumbuh sebesar 1,79 persen dan menjadi yang tertinggi di antara provinsi lain di Pulau Jawa.
Jawa Timur juga menjadi penyumbang perekonomian terbesar kedua di Indonesia sebesar 14,6 persen. Serta penyumbang perekonomian terbesar kedua pula di Pulau Jawa dengan prosentase 25,56 persen.
Meskipun Jawa Timur menjadi penyumbang perekonomian terbesar kedua di Indonesia dan Pulau Jawa, dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, namun hal tersebut belum mampu mengangkat masyarakat keluar dari garis kemiskinan. [beq]






