Surabaya (beritajatim.com) – Di bawah asuhan David Moyes, West Ham terus menunjukkan progres permainan yang terus meningkat. Musim lalu, mereka berhasil duduk nyaman di posisi 6 klasemen akhir Premier League.
Pencapaian yang cukup menghebohkan. Sebab, musim sebelumnya mereka berjuang di jurang degradasi dan hanya duduk di posisi 16. Musim ini, hingga pekan ke-11, tim asal London Utara tersebut berhasil masuk ke posisi 3 setelah berhasil mengalahkan Liverpool di akhir pekan lalu.
Meski masih terlalu dini untuk merayakan pencapaian tersebut. Namun, West Ham terbukti telah menunjukkan progres yang tidak bisa dianggap enteng. Terutama di tengah ketidakstabilan tim-tim besar seperti Manchester United.
Kemampuan Moyes memanfaatkan kualitas pemainnya yang tidak memiliki bintang dan bisa menentukan skema permainan yang tepat menjadi salah satu kuncinya. Berikut ini beberapa faktor yang membuat West Ham bisa menyulitkan tim-tim besar.
Punya pertahanan yang kompak
West Ham memang bukan tipe tim yang suka menguasai bola. Pada musim lalu saja rataan penguasaan bola The Hammers hanya 44%. West Ham merupakan tim yang memiliki pertahanan terstruktur, disiplin, dan kompak.
Dengan blok pertahanan yang rendah maupun blok pertahan yang standar (mid block) lini pertahanan West Ham cukup sulit ditembus. Hal ini juga dapat terlihat saat West Ham mengalahkan Liverpool dengan skor 3-2.
Transisi cepat saat menyerang
Jika sebuah tim menerapkan blok pertahanan yang rendah atau standard mereka akan memanfaatkan transisi cepat dan melakukan serangan balik guna mencuri gol.
Strategi tersebut juga menjadi alasan mengapa Jesse Lingard cukup bersinar bersama West pada musim 2020/21. Lingard yang memiliki kecepatan baik saat membawa bola dan saat tanpa bola selalu punya kesempatan guna mencetak gol.
Duet pivot yang seimbang
Kunci permainan West Ham tidak lepas dari duet pivot mereka yang cekatan yaitu Declan Rice dan Tomas Soucek. Keduanya mampu jadi penyeimbang cara bermain The Hammers baik ketika menyerang maupun bertahan.
Rice biasanya akan menjadi penghubung lini belakang dan lini serang. Rice juga dapat diandalkan dalam sisi defensif baik itu tackling maupun covering area ketika rekan satu timnya melakukan overlapping.
Sementara itu, Soucek lebih berperan sebagai box to box serta cukup aktif di kotak penalti lawan guna menyambut bola crossing dan mencetak gol melalui heading.
Di samping itu, keunggulan The Hammers dapat terlihat ketika memanfaatkan set-piece untuk mencetak gol. Buktinya pada musim 2020/21 mereka menjadi tim Premier League yang paling banyak mencetak gol melalui set-piece sebanyak 16 kali (dilansir dari Whoscored). [dan/tur]






