Magetan (beritajatim.com) – Tepat pukul 09.40 WIB, aktivitas belajar mengajar di SMPN 2 Maospati, Kabupaten Magetan berhenti. Masuk waktu istirahat pertama sejak pembelajaran dimulai pukul 07.00 WIB setiap harinya.
Namun, tak ada siswa berhamburan keluar kelas seperti lazimnya pemandangan sekolah saat jam istirahat. Mereka justru tetap duduk di bangku masing-masing.
Di meja mereka, tak ada buku maupun alat tulis. Yang terlihat adalah kotak berbahan aluminium berisi makanan lengkap. Ada nasi, sayur, lauk, dan buah.
Masing-masing siswa membuka kotak tersebut, yang tersedia lewat Makan Bergizi Gratis (MBG), salah satu program unggulan Presiden Prabowo Subianto. Tak ada keriuhan. Semua tampak nikmat menyantap menu makan siang tersebut.
Mungkin bagi sebagian orang, MBG bukan program yang luar biasa. Tetapi buat anak-anak yang bersekolah di SMPN 2 Maospati, MBG justru menjadi penyelamat mereka dari rasa lapar.
Ya, Anda tak salah baca. MBG menjadi penyelamat lantaran sebagian besar siswa di sekolah menengah pertama tersebut berasal dari keluarga sederhana. Mereka tak sempat merasakan nikmatnya sarapan. Orang tuanya sudah pergi ke sawah sebelum para siswa itu berangkat sekolah. Tentu tak bisa menyiapkan makan pagi.
Alhasil, para siswa masuk sekolah dengan kondisi perut kosong. Bahkan, mereka harus menahan rasa lapar sampai jam istirahat tiba. Buat yang dapat uang saku, kantin selalu jadi tempat tujuan. Sementara bagi yang tidak, mereka terpaksa mengisi waktunya dengan aktivitas sebisanya. Malah, ada yang memilih tetap dalam kelas.
“Mayoritas siswa kami golongan (ekonomi) menengah ke bawah. Banyak yang berangkat sekolah tanpa sarapan karena orang tuanya sudah ke sawah sejak subuh,” tutur Kepala SMPN 2 Maospati, Anik Rofaida Lestari, membuka cerita kepada beritajatim.com.

Anik lalu sejenak terdiam. Dia seketika ingat, ada siswanya yang ternyata dalam kondisi sangat memprihatinkan. Setelah batinnya tenang, Anik memberanikan diri bercerita. Katanya, di sekolah yang dia pimpin, ada kakak beradik yang tinggal dalam satu kamar kontrakan. Orang tuanya tak serius mengurus.
Bahkan, dua anak itu sering kelaparan lantaran tak pernah dibuatkan makanan. Saking memprihatinkannya, para guru sampai berinisiatif untuk mengirimkan makanan kepada dua anak itu secara bergantia.
“Dulu guru-guru sampai gantian mengirim makanan,” kata Anik.
Dengan adanya program MBG, para guru pun sedikit lega. “Mereka pasti makan setiap hari,” katanya.
“Kakaknya sudah lulus, nah tinggal adiknya yang masih bersekolah di sini. Dulu para guru bergantian mengirim ransum. Tapi, semenjak ada MBG, anak ini jadi lebih terurus. Tentu, kecukupan gizi tetap terjamin. Kami sangat terbantu,” tambah Anik.
Inilah salah satu wajah humanis MBG—program pemerintah yang mungkin tampak administratif di atas kertas, tetapi sangat berarti di lapangan.
“Dengan MBG, anak-anak menyambut dengan sangat antusias,” kata Anik.
Keroncongan Tak Terdengar Berganti Perut yang Kenyang
Sederhana, namun nyata: sebelum ada MBG, banyak siswa yang menghadapi jam pelajaran kedua dengan kepala pening, tubuh melemah, dan pikiran melayang. Rasa lapar yang ditunda sejak pagi membuat konsentrasi terpecah.
“Biasanya setelah istirahat kedua, wajah mereka sudah pucat, beberapa cari-cari alasan keluar kelas,” kata Anik. “Sekarang mereka lebih awet kenyang. Sampai pelajaran sore pun masih fokus.”

Menu yang hadir pun bukan sembarang menu. Sayur, lauk berprotein, dan buah selalu hadir. Ikan, ayam, daging—bahan yang mungkin jarang mereka temui di meja makan rumah—sekarang menjadi bagian dari hari sekolah mereka.
“Paling di rumah tempe terus. Daging jarang sekali,” tambah Anik.
Tidak sedikit anak yang bahkan membungkus jatah temannya yang absen untuk dibawa pulang.
“Bu, tak bawa pulang ya. Buat makan nanti sore,” ucap salah satu siswa pada Anik.
Ia mengizinkan. “Ya enggak apa-apa. Itu hak temannya.”
Di balik gestur kecil itu, tampak jelas betapa pangan adalah masalah nyata bagi sebagian keluarga—dan bagaimana MBG menutup celah itu dengan penuh empati.
SMPN 2 Maospati pertama kali terjangkau program MBG pada 24 September 2025 dan total 183 siswa yang menjadi penerima manfaat. Makanan bergizi dikirim dari SPPG yang dikelola oleh Lanud Iswahjudi.
Sehat, Kuat, dan Berprestasi
Dampak MBG ternyata meluas hingga ke bidang kesehatan dan kegiatan siswa. Pada musim pancaroba—yang biasanya membuat daftar ketidakhadiran membengkak—tahun ini SMPN 2 Maospati mengalami hal berbeda.
“Alhamdulillah, anak-anak lebih jarang sakit. Mungkin karena makanannya sehat dan bergizi,” jelas Anik.
Di bidang nonakademik, beberapa siswa yang ikut kegiatan fisik seperti futsal hingga napak tilas tampil lebih kuat dan stabil.
“Yang ikut napak tilas dalam rangka Hari Jadi ke 350 Magetan di Ngunut, dari start sampai finish itu kuat semua. Biasanya separuh naik mobil,” ujarnya sambil tertawa kecil.
Disiplin Baru dari Sebuah Kotak Makan
MBG ternyata bukan semata soal nutrisi. Ia mendidik anak untuk tertib. Dari menghitung jumlah siswa setiap kelas, antre pengambilan, hingga memastikan kotak kembali bersih—semua menjadi latihan tanggung jawab.
“Anak-anak jadi terbiasa disiplin. Mereka tahu harus mengembalikan dalam keadaan bersih,” kata Anik.
Sebuah transformasi karakter yang tumbuh dari rutinitas sederhana.
Perspektif Wali Kelas: Membantu Ekonomi, Menguatkan Mental
Kharisma Fitri Deaningrum, Wali Kelas VIII A, melihat impact paling jelas dari sisi ekonomi keluarga.
“Uang saku mereka terbatas, paling besar Rp10 ribu. Dengan adanya MBG, mereka terbantu sekali. Ada yang akhirnya bisa menabung,” jelasnya.

Menu tanpa MSG atau pengawet memang sempat memunculkan komentar dari beberapa siswa. Namun Kharisma memberikan pendekatan edukatif.
“Saya bilang: ini makanan sehat. Ada ahli gizinya dan kamu harus bersyukur, ini gratis dari pemerintah,” katanya.
Anak-anak pun belajar menghargai makanan. Tidak membuang, dan menyadari bahwa kesehatan membutuhkan pilihan-pilihan yang benar.
Suara Anak-anak: Hemat, Sehat, dan Fokus
Najwa Putri Hanifa, salah satu siswi, merasakan perubahan besar.“Bisa lebih hemat. Uang saku bisa dipakai beli perlengkapan kalau ada tugas sekolah. Dulu Rp20 ribu habis buat jajan,” tutur Najwa
Sementara Rian Bagus Ramadhan menekankan aspek kesehatan dan belajar. “Tentu makanan MBG lebih bergizi. Kami jadi lebih fokus ketika jam belajar siang. Rasanya lebih sehat,” ucap dia.
Suara-suara kecil ini menunjukkan program MBG bukan sekadar makan siang gratis—ia membentuk kebiasaan, memengaruhi masa depan, dan menciptakan peluang baru.

Tantangan: Dari Kebiasaan Hingga Ekonomi Warga Sekitar
Tidak dapat dipungkiri, ada sisi lain yang harus dihadapi. Aktivitas kantin sekolah perlahan menurun.
“Ya tentu berpengaruh. Anak-anak yang hemat, kalau kenyang ya enggak jajan lagi,” ungkap Anik.
Tantangan ini menjadi bagian dari dinamika sosial ekonomi yang perlu dipikirkan bersama: bagaimana menyeimbangkan keberhasilan program dengan keberlangsungan usaha kecil di sekitar sekolah.
MBG, Jalan Menuju Generasi Emas
Di SMPN 2 Maospati, MBG menghadirkan kisah yang hangat, bahkan heroik. Ia mengisi ruang kosong yang selama ini tak banyak terlihat: perut kosong, kelelahan, ketidakstabilan emosi, hingga ketidakpastian pangan di rumah para siswa.
Ketika nutrisi terpenuhi, hadir perubahan: anak lebih fokus, lebih sehat, lebih kuat, lebih semangat, lebih berprestasi, dan lebih percaya diri menghadapi hari esok.
Di ruang kelas sederhana itu, cita-cita Generasi Emas sesungguhnya sedang disemai—setiap pagi, dalam satu kotak makanan bergizi.
Magetan mungkin tidak bergerak dengan gegap gempita. Tetapi dari sekolah-sekolah kecil seperti SMPN 2 Maospati, harapan untuk mewujudkan Magetan Maju dan Indonesia Emas 2045 tumbuh pelan namun pasti.
Dan mungkin, seperti yang terucap perlahan oleh Anik sambil memandang siswanya makan dengan lahap, “Kalau kebutuhan dasar anak sudah terpenuhi, sisanya tinggal kita bimbing. Mereka pasti bisa mencapai masa depan yang lebih baik.” [fiq/beq]






