Bojonegoro (beritajatim.com) – Kepala SMAN 1 Kedungadem, Mas Edy Masrur, akhirnya buka suara mengenai dugaan insiden keracunan massal yang menimpa ratusan siswanya. Peristiwa ini diduga terjadi setelah para pelajar mengonsumsi menu dari program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang disalurkan oleh SPPG Sidorejo, Kecamatan Kedungadem.
Mas Edy mengonfirmasi bahwa sejumlah besar siswa mengalami keluhan sakit perut, mual, hingga diare setelah menyantap makanan tersebut. Puluhan di antaranya bahkan harus segera mendapatkan perawatan medis.
Pihak sekolah merinci jumlah siswa yang terdampak dugaan keracunan awalnya 50 siswa dan hanya ditangani di Unit Kesehatan Sekolah (UKS). Dari jumlah tersebut, 22 siswa kemudian dirujuk ke Puskesmas Kedungadem untuk penanganan lebih lanjut.
Selain itu, terdapat 61 siswa yang dilaporkan tidak masuk sekolah pada hari kejadian, Kamis (2/10/2025). Secara keseluruhan, lanjut Mas Edy, total siswa yang diduga menjadi korban keracunan program MBG mencapai 123 orang.
“Ada 61 anak yang hari ini tidak masuk sekolah, meskipun belum bisa dipastikan apakah karena diduga keracunan MBG atau sebab lain,” jelas Mas Edy saat ditemui di sekolah, Kamis (2/10/2025).
Ia menambahkan, keluhan utama yang dialami siswa meliputi sakit perut, pusing, mual, dan lemas setelah mengonsumsi menu MBG tersebut.
Mas Edy memastikan bahwa seluruh siswa yang terdampak sudah mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai. Sebagian siswa yang kondisinya membaik juga sudah diperbolehkan pulang. “Alhamdulillah semuanya sudah ditangani dengan baik, dan beberapa sudah dipulangkan,” tambahnya.
Program MBG di SMAN 1 Kedungadem baru berjalan tiga kali dengan penyaluran dari SPPG Sidorejo. Menu terakhir yang disajikan berupa nasi kuning, ayam suwir, acar timun dan wortel, orek tempe, dan jeruk.
“Program untuk hari ini sudah dihentikan, sesuai dengan instruksi Ibu Wakil Bupati,” tegas Mas Edy.
Pihak sekolah kini terus memantau kondisi siswanya sambil menunggu langkah dan hasil investigasi lebih lanjut dari pihak berwenang untuk memastikan penyebab pasti dari dugaan keracunan massal tersebut.
Kejadian ini menjadi sorotan bagi masyarakat setempat dan orang tua siswa, yang menuntut penjelasan lebih rinci terkait keamanan makanan yang diberikan melalui program MBG. Beberapa orang tua menyatakan kekhawatirannya terhadap kesehatan anak-anak mereka setelah insiden tersebut.
Selain itu, pihak sekolah dan dinas terkait sedang berkoordinasi untuk melakukan evaluasi mendalam terkait mekanisme pengadaan, pengolahan, dan distribusi makanan MBG agar kejadian serupa tidak terulang. Proses investigasi ini diharapkan bisa memberikan kepastian mengenai pihak yang bertanggung jawab dan langkah perbaikan yang harus dilakukan.
Meski insiden ini menimbulkan kekhawatiran, Mas Edy menegaskan bahwa prioritas utama sekolah adalah kesehatan dan keselamatan siswa. Semua langkah mitigasi, termasuk penghentian sementara program MBG dan pemantauan kondisi kesehatan siswa, telah dilakukan dengan seksama. [lus/beq]






