Surabaya (beritajatim.com) – Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Kota Surabaya, Sururil Faizin, memberikan peringatan keras terkait kedisiplinan dan etika bagi 70 petugas haji dalam Rapat Koordinasi Persiapan Operasional di Hotel Royal Regentris Cendana Surabaya, Selasa (7/4/2026). Fokus utama dalam pembekalan ini adalah menjaga marwah bangsa Indonesia di Tanah Suci dengan melarang perilaku tidak profesional, mulai dari pelanggaran aturan merokok hingga pencegahan fenomena “cinta lokasi” di kalangan petugas.
Sururil menekankan bahwa integritas petugas adalah wajah Indonesia di mata internasional. Ia mengingatkan agar para petugas PPIH Arab Saudi dan petugas kloter tidak mengulangi kesalahan fatal di masa lalu yang dapat berujung pada pemulangan paksa sebelum tugas berakhir.
“Jangan sampai ada yang ‘cinlok’ alias cinta lokasi ya. Karena nanti di sana akan bertemu dengan orang yang sama, dari pagi sampai malam. Ini yang harus diwaspadai, jangan sampai terjadi lagi. Karena tahun 2019 lalu, ada petugas yang dipulangkan karena kasus ‘cinlok’ ini,” papar Sururil Faizin memberikan tekanan khusus bagi para personel.
Selain masalah personal, kepatuhan terhadap regulasi lokal Arab Saudi menjadi sorotan utama. Sururil secara spesifik mengkritik perilaku petugas yang merokok sembarangan menggunakan atribut resmi negara, yang dianggap merusak citra profesionalisme Kemenhaj sebagai instansi penyelenggara tahun pertama.
“Tolong janganlah merokok dengan pakai baju seragam petugas, apalagi di tempat yang dilarang. Ini ada petugas merokok di halaman Masjid Haram pakai baju petugas,” ujar Sururil Faizin mengingatkan pentingnya sinergi dan kepatuhan hukum.
Ketegasan ini bertujuan untuk memastikan layanan kepada 2.518 jemaah haji asal Surabaya, termasuk kelompok prioritas lansia dan disabilitas, berjalan tanpa hambatan. Dengan adanya jemaah berusia hingga 97 tahun, konsentrasi petugas tidak boleh terbagi oleh urusan pribadi atau pelanggaran disiplin yang tidak perlu.
“Ingat, setiap gerak gerik kita itu terus dipantau. Apalagi ini di tahun pertama kita Kemenhaj melaksanakan kegiatan ibadah haji ini,” tambahnya.
Sementara itu, dari sisi teknis kesiapan medis, Penanggung Jawab Kesehatan Haji Dinas Kesehatan Kota Surabaya, Nurwathoniyah, memastikan bahwa proses vaksinasi wajib seperti meningitis dan polio telah hampir rampung di tingkat puskesmas. Hingga awal April 2026, lebih dari 2.000 jemaah telah divaksinasi dan kini tengah dalam tahap finalisasi dokumen kesehatan.
“Vaksinasi meningitis untuk jemaah Surabaya sudah kita laksanakan waktu puasa Ramadan, sebelum hari raya,” ujarnya.
Meskipun demikian, Dinkes Surabaya masih berupaya menyelesaikan kendala 200 jemaah yang belum memenuhi syarat vaksin Covid-19 sesuai permintaan Pemerintah Arab Saudi. Koordinasi tingkat tinggi dengan Pusat Kesehatan Haji terus dilakukan guna memastikan seluruh jemaah Surabaya dapat berangkat sesuai jadwal dengan status kesehatan yang memenuhi syarat internasional. [ian/aje]






