Jakarta (beritajatim.com) – Inspektur Jenderal Kementerian Haji dan Umrah RI, Mayjend TNI (Purn) Dendi Suryadi, S.H., M.H., menegaskan bahwa jumlah petugas Perlindungan Jemaah (Linjam) untuk musim haji 2026 ditingkatkan secara signifikan dari 87 menjadi 187 personel TNI/Polri guna menjamin keamanan dan meminimalisir risiko jemaah hilang. Langkah penguatan pengamanan ini menjadi poin krusial dalam Pendidikan dan Latihan (Diklat) PPIH 2026 di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Selasa (20/1/2026), sebagai upaya nyata pemerintah menurunkan angka kematian jemaah Indonesia di tanah suci.
Penambahan personel Linjam ini bertujuan untuk memperketat pengawasan di setiap sektor melalui sistem pelaporan yang terintegrasi. Dendi menekankan bahwa mitigasi jemaah hilang dilakukan dengan mewajibkan laporan rutin kepada Linjam di setiap wilayah tugas agar pergerakan jemaah terpantau secara real-time. Komunikasi intensif antara Kepala Daerah Kerja (Daker), Kepala Sektor, hingga tingkat Ketua Rombongan (Karom) dan Ketua Regu (Karu) menjadi kunci utama dalam menjaga soliditas operasional.
“Kita kompak saja masih amburadul, apalagi kalau tidak kompak. Jadi kita harus punya ikatan petugas haji daerah, karom, karu, juga Kepala Daker, dan Kepala Sektor sehingga bisa berkomunikasi dengan baik,” ujar Dendi Suryadi di hadapan para calon petugas haji.
Selain aspek keamanan fisik, Irjen Kemenhaj juga menyoroti detail teknis yang sering dianggap remeh namun berdampak fatal, seperti penggunaan fasilitas di pesawat. Para petugas diminta proaktif mengedukasi jemaah, terutama terkait penggunaan toilet pesawat, agar selalu memastikan keran air tertutup rapat guna menghindari risiko korsleting listrik yang dapat membahayakan penerbangan menuju Arab Saudi.
Target operasional tahun ini difokuskan pada hasil yang terukur, yakni penurunan angka kematian jemaah dan memastikan tidak ada lagi kasus jemaah hilang seperti tahun-tahun sebelumnya. Dendi juga mengingatkan para petugas untuk menjaga martabat bangsa dengan tetap menjaga kebersihan di tanah suci, khususnya di Madinah. Ia melarang keras kebiasaan membuang sampah sembarangan yang dapat mengotori “Kampung Nabi”.
“Angka kematian jemaah haji kita tahun ini harus turun, tidak ada orang yang hilang seperti yang sebelum-sebelumnya. Kebiasaan yang buruk jangan dibawa ke sana. Jangan kotori kampung Nabi Muhammad SAW dengan sampah, buanglah sampah pada tempatnya,” tegas Dendi.
Dendi menambahkan bahwa kedisiplinan petugas selama masa diklat, termasuk dalam menjaga kebersihan kamar dan asrama, merupakan cerminan profesionalisme yang akan dibawa ke lapangan. Hal-hal kecil seperti kesiapan colokan listrik hingga alas kaki (sandal) jemaah juga harus masuk dalam radar perhatian petugas demi kenyamanan tamu Allah, terutama bagi jemaah lansia yang membutuhkan pendampingan ekstra.
Terkait peran Media Center Haji (MCH), Irjen berharap para jurnalis dapat menjalankan fungsi pengawasan sekaligus penyampaian informasi yang berimbang. Informasi yang disampaikan harus mampu melengkapi satu sama lain sehingga publik mendapatkan gambaran utuh mengenai dedikasi petugas yang telah melalui proses rekrutmen ketat. [ian/aje]






