Pasuruan (beritajatim.com) – Di tengah hiruk pikuk modernisasi, bertani masih menjadi pilihan utama masyarakat pedesaan di Kabupaten Pasuruan. Salah satu tanaman yang cukup populer di Pasuruan adalah Kembang Gondel, yang dikenal dengan keindahannya yang menawan dan potensi keuntungan yang menjanjikan.
Nur Wahid, seorang petani Kembang Gondel asal Banjar Tempuran, Pandaan, Pasuruan, menceritakan pengalamannya bertanam bunga ini.
“Keunggulan Kembang Gondel adalah bisa dipanen berkali-kali. Sekali tanam, pohonnya bisa bertahan hingga 4 bulan,” ungkap Nur.
Ketika sudah berbunga, pohon kembang Gondel bisa dipanen 2-3 kali dalam seminggu. “Jika pohonnya banyak, bisa panen 3 kali seminggu. Saya biasanya panen di hari Selasa, Rabu, dan Jumat,” imbuhnya.
Namun, seperti halnya bisnis lain, bertani kembang Gondel juga memiliki tantangan. Salah satunya adalah harga yang fluktuatif.
“Harga kembang Gondel naik turun tergantung ketersediaan barang. Kadang murahnya sampai hanya cukup untuk membeli plastik kresek,” keluh Nur.
Menurutnya, harga kembang Gondel pernah mencapai Rp20.000 per kresek merah (tidak penuh).
“Harga termurah yang pernah saya alami adalah Rp2.000 per kresek merah, dan kabarnya pernah turun sampai Rp1.000 per kresek, tapi saya tidak pernah mengalaminya sendiri,” tuturnya.
Meskipun harga Kembang Gondel tidak selalu stabil, bertani bunga ini tetap menjadi pilihan yang menjanjikan bagi Nur dan para petani lainnya di Pasuruan.
“Alhamdulillah, meskipun harga kadang turun, tapi kalau lagi panen banyak, penghasilannya bisa lumayan,” kata Nur. [ada/beq]






