Malang (beritajatim.com) – Prodi PPG LPTK UIN Maulana Malik Ibrahim menempati urutan teratas tingkat Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) untuk kelulusan PPG dalam jabatan (daljab) batch 1 tahun 2023 yang firsttaker. Sementara itu, di tingkat nasional, Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) ini menempati urutan ketiga.
Tingkat kelulusan Prodi Pendidikan Profesi Guru (PPG) LPTK UIN Malang batch 1 tahun 2023 untuk firsttaker mencapai 93,05 persen dari total 504 peserta. Hal ini menunjukkan bahwa LPTK UIN Malang serius untuk mengawal proses PPG hingga sukses.
Dekan FITK UIN Malang, Prof. Dr. H. Nur Ali, M.Pd., merasa bangga dengan capaian ini. Menurutnya, firstaker FITK UIN Malang secara jumlah prosentase menjadi yang terbaik se Indonesia untuk PTKIN sudah terjadi secara konsisten dari tahun ke tahun.
“FITK UIN Malang konsisten juara, dari 504 total peserta, hanya 6,35% saja yang tidak lulus. Ini menjadi kesuksesan kita bersama. Sinergitas antara pimpinan fakultas, kasi pendidikan agama, madrasah, dan semua yang terlibat kerjasama dengan kita dari kebijakan pemerintah daerah,” ujar Prof Ali.
Dijelaskan bahwa pemerintah daerah secara konsisten menjalin kerjasama untuk PPG daljab. Pemda dari kota dan kabupaten Malang, pemda Kalimantan TImur, Mojokerto, bahkan ada beberapa daerah yang meminta 100 persen ke UIN Malang.
Tidak hanya itu, PPG Daljab LPTK UIN Malang juga ramah disabilitas. Istimewanya, peserta disabilitas lulus semua mulai dari yang tunanetra sampai yang tuna hasta.
“Untuk peserta terjauh kita ada yang dari Aceh sampai Merauke,” kata Prof Ali saat jumpa media, Kamis (16/11/2023) setelah acara yudisium dan pengukuhan guru profesional PPG Daljab LPTK UIN Malang di Royal Orchids Garden Hotel & Condomium kota Batu.

Tahun 2023 batch 1 ini, PPG LPTK UIN Malang masih dilaksanakan secara online. Menurut Prof Ali, terdapat 3 hal yang menyebabkan peserta belum bisa lulus 100 persen. Kendala yang pertama karena sering kesulitan jaringan internet. Hal tersebut perlu ditangani oleh pemerintah daerah.
“Kendala kedua fasilitas laptop tidak ada karena beberapa dari mereka ada yang guru di sekolah pinggiran, laptopnya sering pinjam, menu berbeda sehingga saat ujian tidak lihai memakainya. Lalu ketiga, listrik, ada yang saat ujian listriknya padam,” ujarnya.
Dekan FITK mencontohkan langkah dari dinas pendidikan Kalimantan Timur yang menjalin kerjasama dengan PLN. “Mereka dari Kaltim sudah mengantisipasi supaya listrik dipastikan aman sehingga saat ujian menjadi lancar,” katanya.
BACA JUGA:
Penolakan Politik Dinasti Menggelora di Unitomo Surabaya
Ke depan, pihaknya berharap agar PPG FITK UIN Malang bisa m lulus 100 persen. Ia ingin ada agar kerjasama dengan pemda untuk mengantisipasi kekurangan fasilitas.
“Pemerintah bisa menyediakan laptop untuk para guru. Menyumbang laptop untuk guru swasta saya kira itu sangat bermanfaat. Antara cat gedung, lebih penting laptop diberikan kepada guru. Pemerintah berkali kali mengatakan era digital pembelajaran hybrid, tetapi guru tidak ada uang. Sementara sekolah swasta tidak semua kaya, ini perlu dibantu,” katanya berharap dengan sungguh. [dan/but]






