Ponorogo (beritajatim.com) – Musim kemarau panjang yang melanda Kabupaten Ponorogo, semakin memperparah krisis air bersih di berbagai wilayah. Termasuk di Desa Wates, Kecamatan Slahung.
Warga Desa Wates, khususnya yang tinggal di Dukuh Krajan Tengah, mengalami kesulitan mendapatkan air bersih. Selama 2 bulan terakhir, mereka hanya dapat mengandalkan air dari satu sumur tua yang semakin menyusut. Baru, di bulan Agustus ini, ada droping air bersih dari BPBD Ponorogo.
Saat belum ada droping atau air droping habis, setiap pagi, warga Desa Wates terpaksa memanfaatkan air sumur yang sudah tidak lagi memadai. Air tersebut hanya cukup untuk kebutuhan dasar seperti makan dan minum. Untuk keperluan mandi dan mencuci pakaian, mereka harus berjalan sejauh satu kilometer menuju sungai terdekat.
“Kalau mau mandi ya turun lagi ke sungai mungkin sekitar 1 kilometer. Ya mandi di sungai,” kata salah satu warga Dukuh Krajan Tengah Desa Wates, Daikun, Selasa (13/8/2024).
Daikun mengungkapkan bahwa warga di RT 02 RW 02 Dukuh Krajan Tengah mengalami krisis air bersih selalu menghantui, setiap kali kemarau panjang tiba. Sumber air yang andalkan hanya sebuah sumur, yang sekarang sudah tidak cukup lagi.
“Setiap musim kemarau panjang datang, masalah kekurangan air bersih selalu muncul,” katanya.
Sementara itu Suyadi, Kepala Desa Wates mengakui bahwa ada warganya yang kesulitan air bersih jika memasuki musim kemarau. Ia menyebutkan bahwa kekeringan ini adalah masalah tahunan yang selalu berulang.
Tahun lalu, warga mengalami kesulitan air bersih hingga penghujung tahun. Suyadi mengakui bahwa sumber air di daerah tersebut memang tidak mampu memenuhi kebutuhan warga, terutama ketika tidak ada hujan yang turun untuk jangka waktu lama.
“Kami menghadapi masalah ini setiap tahun. Sumber air yang ada tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan warga,” jelas Suyadi. [end/beq]






