Kediri (beritajatim.com) – Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri memastikan hingga saat ini belum ditemukan kasus Super Flu atau varian Influenza A (H3N2) di seluruh wilayah Kabupaten Kediri meskipun virus tersebut telah masuk ke Jawa Timur. Otoritas kesehatan setempat melaporkan bahwa tren kasus influenza di tengah masyarakat justru menunjukkan penurunan signifikan dalam beberapa minggu terakhir.
Kepastian ini muncul setelah Kementerian Kesehatan Republik Indonesia merilis data bahwa varian Influenza A(H3N2) subclade K telah terdeteksi di delapan provinsi. Hingga akhir Desember 2025, tercatat ada 62 kasus di Indonesia yang memicu kewaspadaan nasional terhadap virus yang pertama kali merebak di Amerika Serikat tersebut.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri, dr. Bambang Triyono Putro, menjelaskan bahwa sebenarnya Super Flu ini pada dasarnya memiliki gejala yang mirip dengan flu biasa. Perbedaannya terletak pada jenis virus penyebabnya yang memiliki karakteristik klinis lebih kuat.
“Super Flu sebenarnya sama seperti kasus flu yang lain hanya jenis virusnya yang beda dan sementara kami pantau di Kediri tidak ada ditambah kasus flu menurun akhir-akhir ini,” katanya.
Meski demikian, dr. Bambang menjelaskan bahwa keluhan yang muncul pada kasus yang disebut sebagai Super Flu cenderung lebih berat dibanding flu biasa. Gejala yang dirasakan pasien antara lain demam tinggi hingga mencapai 39–40 derajat Celsius, kelelahan ekstrem, batuk kering yang menetap, serta sakit kepala yang lebih intens.
Kondisi fisik yang terkuras drastis menjadi pembeda utama, sehingga masyarakat, khususnya Generasi Z yang memiliki mobilitas tinggi, diminta tidak meremehkan gejala awal. Dinkes mengimbau masyarakat agar tetap waspada dan tidak lengah dengan selalu menerapkan etika batuk serta Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) sebagai langkah efektif mencegah penularan influenza.
“Himbauan ke masyarakat dengan penerapan etika batuk serta PHBS yang efektif mencegah penularan influenza,” imbaunya.
Selain itu, penggunaan masker juga sangat dianjurkan, terutama bagi warga yang sedang sakit atau berada di fasilitas umum yang padat. Masyarakat juga disarankan untuk menghindari kerumunan guna meminimalkan risiko transmisi virus di ruang publik.
dr. Bambang menegaskan, bahwa Super Flu ini berpotensi sangat berbahaya jika menyerang kelompok rentan, seperti lansia dan penderita penyakit penyerta atau komorbid. Daya tahan tubuh yang lemah pada kelompok tersebut dapat memicu komplikasi yang lebih serius.
“Super Flu ini bahaya bila pada komorbid dan lansia,” tegasnya.
Bambang membenarkan adanya kesamaan dalam hal pola penularan dengan virus pernapasan lainnya, namun ia menekankan bahwa Super Flu dan Covid-19 adalah dua hal yang berbeda secara fundamental.
“Penyebarannya memang cepat, tapi virus dan variannya berbeda dengan Covid-19,” terangnya.
Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk tetap tenang namun meningkatkan kewaspadaan ekstra dalam menjaga kesehatan personal agar terhindar dari ancaman berbagai penyakit menular yang sedang menjadi perhatian dunia. [nm/beq]






