Kediri (beritajatim.com) — Saat fajar masih merangkak, ratusan pesepeda sudah berkumpul di pelataran megah Monumen Simpang Lima Gumul (SLG) Kabupaten Kediri.
Udara dingin yang menggigit kulit, tak menyurutkan semangat 400 cyclist dari berbagai kota — bahkan dari mancanegara — untuk memulai tantangan Kediri Dholo King of the Mountain (KOM) 2025.
Tepat pukul 05.45 WIB, peluit start ditiup. Deru roda sepeda memecah sunyi, melewati jalanan Kediri yang masih basah embun. Monumen yang sekilas mirip Arc de Triomphe di Paris itu pun menjadi saksi ribuan pedal dikayuh serentak menuju rute sepanjang 82 kilometer dengan elevasi total mencapai 1.700 meter.
Sejumlah penghobi sepeda kakap tampak menikmati rute ini ada Founder Mainsepeda, Azrul Ananda, mantan Dirut Pertamina dan juga SKK Migas Ir Dwi Sutjipto dan sejumlah biker top.
“Yang saya lawan bukan peserta lain, tapi diri saya sendiri. Tanjakan adalah ujian tekad,” ujar Dwi Soetjipto kepada wartawan dengan tersenyum.
Dholo KOM 2025 sendiri merupakan bagian dari trilogi event yang digagas komunitas Mainsepeda, setelah Bromo KOM beberapa waktu lalu dan akan dilanjutkan ke Kawah Ijen pada September 2025 mendatang.
Kombinasi fisik, mental, dan alam inilah yang membuat setiap kayuhan bukan hanya lomba — melainkan perjalanan menaklukkan ego, menikmati harmoni, dan memahat kenangan.
Founder Mainsepeda, Azrul Ananda, memberi pengingat dengan nada bercanda, “Mohon diingat hari ini adalah Kediri Dholo KOM, bonus Kelud KOM. Eh, Kelud-nya bukan KOM, tapi ada tanjakannya relatif halus.”kata Azrul dikutip melalui laman mainsepeda
Ucapan Azrul bukan bualan. Setelah 30 kilometer, para cyclist harus singgah di Gerbang Kawasan Wisata Gunung Kelud.
Jalur tanjakan halus di KM 29,8 itu menjadi pit stop pertama. Sambil menarik napas, para peserta menikmati lanskap Kelud di kejauhan — sekilas pengingat akan erupsi, sekaligus daya tarik alam yang kini disulap jadi lintasan pemanasan.
Dari Kelud, rombongan akan bergerak ke barat. Pit stop kedua menanti di Jordan Food, KM 61. Hanya berjarak 3,5 km dari titik Start KOM di depan Kantor Kecamatan Mojo. Di sinilah para pesepeda benar-benar diuji stamina dan strategi.
Segmen KOM membentang sepanjang 17,5 km, menanjak menuju kawasan wisata Air Terjun Dholo. Dua tanjakan ikonik — Kelok 9 dan Tanjakan Gigi Satu — jadi ‘menu utama’. Trek berliku-liku, sudut tajam, dan kemiringan ekstrem menuntut mental baja.
“Kalau mau ngebut terserah, mau istirahat juga terserah. Saran saya, pace secukupnya saja,” pesan Azrul sebelum rombongan dilepas menuju KOM.
Ronny Wenas, cyclist asal Malang, memilih berhati-hati. Angin dingin di pagi hari cukup bersahabat, tetapi panas terik di siang bolong bisa jadi musuh terbesar. “Semoga cuaca nggak terlalu panas nanti di puncak. Kalau terik, Kelok 9 dan Gigi 1 bakal jadi neraka kecil,” ujarnya sambil tertawa kecil.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri, Mustika Adi Prayitno, menyebut bahwa Dholo KOM 2025 merupakan bagian dari komitmen memperkenalkan potensi wisata lewat olahraga.
“Tujuannya memang jelas: ini sport tourism. Kita berolahraga sambil menikmati keindahan alam,” ujarnya. “Finish di kawasan Air Terjun Dholo ini tidak hanya menutup event, tapi juga membuka mata peserta terhadap keindahan Kediri.”
Lebih dari 350 peserta hadir dari berbagai daerah di Indonesia. Bahkan, 10 negara turut berpartisipasi, termasuk dari Australia, Kolombia, dan beberapa negara Eropa.
“Medannya luar biasa. Bahkan untuk mobil saja berat menanjak, apalagi dengan sepeda. Ini yang membuat Dholo KOM punya cita rasa tersendiri,” imbuh Mustika, tersenyum bangga.
Untuk menjamin keselamatan, panitia bekerja sama dengan aparat. Total 325 personel gabungan diterjunkan: 150 dari Polres Kediri Kabupaten, 100 Polres Kediri Kota, 45 Dishub, dan 30 Satpol PP. Semua titik rawan dijaga, jalur steril, dan arus lalu lintas diatur sebaik mungkin.
Batas waktu tiba di garis finis ditetapkan pukul 13.30 WIB. Di situlah, di kaki Air Terjun Dholo, seluruh effort, keringat, dan deru nafas peserta akan terbayar lunas.
Di bawah gemericik air terjun, para cyclist akan berkumpul kembali, merayakan pencapaian, merajut cerita baru, lalu pulang membawa kebanggaan — sekaligus cerita bahwa Kediri Dholo KOM 2025 bukan sekadar lomba, melainkan perayaan nyali, persahabatan, dan cinta pada tanjakan. (ted)






