Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di lereng Gunung Lawu Ngawi hingga saat ini belum juga padam bahkan lokasi wisata kebun teh Jamus di Kecamatan Sine nyaris juga kena dampaknya.
Kebakaran lahan ilalang yang dimulai dari kawasan Manyul Girimulyo Jogorogo hingga kini belum diketahui penyebabnya. Ini berbeda dengan kasus kebakaran di Gunung Bromo yang disebabkan oleh flare dari EO prewedding dan saat ini sudah mulai dalam persidangan.
Api Kebakaran hutan Gunung Lawu dimulai dari Petak 33 dan 38 Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Manyul BKPH Lawu Utara KPH Lawu Ds. Desa Girimulyo Kecamatan Jogorogo Kabupaten Ngawi, Jawa Timur.
Kebakaran yang terjadi sejak Minggu (24/9/2023) pukul 09.00 WIB itu berada di lokasi yang sulit dijangkau.
Petugas gabungan TNI Polri, Perhutani, dan warga setempat kesulitan menjangkau lokasi. Pun, setelah naik menggunakan kendaraan roda dua selama 30 menit, masih harus berjalan kaki selama 30 menit untuk mencapai titik api.
Air Terjun Legenda
Agak kebawah dekat lokasi kebakaran ada lokasi wisata yang setiap hari libur selalu ramai dikunjungi warga yaitu Air Terjun Srambang dan Pengantin.
Air Terjun Srambang terletak di Kecamatan Jogorogo, dikelola oleh Perhutani Lawu Ds. Panoramanya sangat memukau dengan ketinggian air terjun sekitar 40 meter.
Di air terjun ini juga tersimpan cerita legenda Srambang tentang kisah Jaka Tarub dan Nawang Wulan.
Di dekat air Terjun Srambang agak naik sedikit ada Air Terjun Pengantin yang terletak di Hargomulyo Kecamatan Ngrambe Ngawi.
Baca Juga:Angin Kencang Api Membesar, Petugas di Ngawi Terpaksa Turun Padamkan Karhutla Gunung Lawu
Penulis sendiri pernah berada di air terjun pengantin bersama Atong Fathoni seorang pengamat sosial budaya asal Ngawi yang juga pelopor dan pembuka air terjun pengantin ini.
“Saya bersama warga yang membuka air terjun pengantin ini,” kata Atong beberapa waktu lalu.
Atong mengaku air terjun pengantin saat ini sudah ramai dan memberdayakan masyarakat sekitar.
Dia menceritakan setelah dibuka ada beberapa Prabu dan keluarga Raja dari keraton Yogyakarta yang sering datang pada malam hari untuk semedi di tempat tersebut untuk kegiatan ritual.
Karena tempatnya yang memukau air terjun pengantin memang memiliki suasana yang menentramkan apalagi dikelilingi bebatuan dan tumbuhan hijau serasa di nirwana.
Api Menjalar Menuju Candi Cetho
Api terus menjalar hingga kawasan kebun teh Jamus Kecamatan Sine hingga menuju Candi Cetho di Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah. Candi Cetho merupakan candi masa Majapahit akhir atau candi abad 15.
Candi Cetho memiliki struktur berundak, dengan susunan halaman makin ke belakang makin kecil ke arah puncak Gunung Lawu.
Selain ke arah puncak gunung, Candi Cetho dibangun meninggi ke arah matahari terbit atau ke arah timur.
Ditinjau dari segi fungsi kedua candi tersebut juga menunjukkan tanda-tanda digunakan sebagai tempat upacara pemujaan nenek moyang, seperti fungsi candi-candi lain yang sezaman.
Unsur-unsur yang memperkuat anggapan itu, antara lain adalah relief cerita Sudamala dan patung-patung yang berhubungan dengan cerita Samodramantana, dengan inti cerita ruwatan atau pelepasan.
Dalam buku 700 tahun Majapahit sebuah bunga rampai, Candi Cetho merupakan tempat peruwatan seseorang dari dosa atau pengembalian seseorang ke tempat asalnya.
Baca Juga: Mbok Yem Tak Ingin Turun ke Magetan, Merasa Aman di Warung Puncak Lawu
Dengan demikian Candi Cetho dapat dianggap sebagai upaya kontak magis, yakni upaya untuk mengembalikan roh ke tempat asalnya.
Sesuai dengan upaya itu, pendiri Ceta juga mengarahkan bangunan keagamaannya ke arah puncak Gunung Lawu, karena puncak tersebut dianggap sebagai asal nenek moyangnya.
Selain puncak Gunung Lawu, tampaknya pendukung candi tersebut percaya bahwa nenek moyangnya juga berasal dari matahari, oleh karena itu bangunan keagamaannya juga diarahkan ke timur.
Hyang Sunan Lawu
Menurut sejarawan Ong Hok Ham: roh halus lain yang melindungi Raja Mataram, yakni Sunan Lawu di Gunung Lawu. Menurut salah satu konsepsi, roh Sunan Lawu ini adalah roh raja-raja Majapahit.
Dalam Konsep kekuasan Raja Jawa harus mematuhi penjuru mata angin. Di Selatan dengan Nyi Loro Kidul yang mengusai pantai selatan sedangkan di timur adalah Gunung Lawu atau Sunan Lawu.
Siapakah Sunan Lawu kata Sejarawan Ong Hok Ham?
Jika sampai sekarang puncak Gunung Lawu dianggap keramat oleh warga Magetan, Ngawi, Karanganyar dan sekitarnya, memang beralasan.
Karena menurut kepercayaan, yang menguasai puncak Lawu adalah keturunan Raja Brawijaya VII. Ketika masih muda Raja Brawijaya sebenarnya bernama Raden Damarwulan. Damarwulan ini raja terakhir Kerajaan Majapahit yang bergelar Raja Brawijaya ke VII.
Adapun putranya yang nomor lima bernama Raden Bondan Gugur. Raden Bondan Gugur inilah sebenarnya yang sampai sekarang ini membayangi puncak Gunung Lawu dan disebut Hyang Sunan Lawu.
Hyang Sunan Lawu ini konon permasurinya cantik jelita dan wajahnya tidak pernah berubah. Permaisuri tersebut tidak lain adalah penjelmaan Almarhum Ratu Putri yang mendirikan Kerajaan Majapahit, yakni yang sering disebut sebagai Dewi Angin-angin.
Sekarang disebut sebagai Nyai Roro Kidul, yang menguasai laut selatan. Beliaulah yang bakal menjadi permaisuri Hyang Sunan Lawu.
Karena masih berdarah bangsawan, meskipun sudah beberapa keturunan, namun kecantikannya tidak berubah sama sekali, bagaikan masih seorang perawan. Setelah menjadi permaisuri Bondan Gugur atau Hyang Sunan Lawu, Sang Permaisuri tidak selalu berada di puncak Lawu.
Dalam tubuh Hyang Sunan Lawu ada sosok Raja Kerajaan Majapahit namanya Begawan Jamba Laka. Jamba Laka yang telah masuk ke tubuh Hyang Sunan Lawu dan punya pesan
“Engkau akan tetap berada di sini dan bergelar Hyang Sunan Lawu. Kelak engkau akan dipuja dan dihormati oleh semua orang. Kelak engkau adalah pelindung rakyat. Segala kehendak rakyat yang baik harus engkau kabulkan dan kau layani dengan baik. Jangan sampai engkau bertindak yang dapat merugikan rakyat” demikian pesannya.
Apakah pesan Hyang Sunan Lawu ini juga untuk para calon Presiden yang akan maju dan mulai mendaftar dalam beberapa hari kedepan? Semoga para Capres mendengar pesan Hyang Sunan Lawu.(ted)






