Magetan (beritajatim.com) – Tidak ada kata terlambat untuk belajar. Hal itulah yang ditunjukkan oleh Suyatmi, warga Dukuh Janggan, Desa Janggan, Kecamatan Poncol, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, yang kini telah berusia 95 tahun (sebelumnya tertulis 116 tahun).
Nenek yang lahir 1 Juli 1928 itu menjadi salah satu wisudawan terbaik Sekolah Lansia Tangguh (Selantang) Bina Keluarga Lansia (BKL) Mawar Indah Desa Janggan. Wisuda dilaksanakan di Pendapa Surya Graha, dihadiri Bupati Magetan Suprawoto pada Selasa (1/8/2023) lalu.
Suyatmi tinggal dengan anak keenamnya, Sari (50) dan sang menantu. Ibu tujuh anak itu kerap berada di rumah. Sementara Sari dan sang suami bekerja sebagai petani. Ada beberapa sak jagung di ruang tamu. Hasil panen beberapa pekan lalu.
Baca Juga: Kuras Situs Petirtaan Dewi Sri, Warga Tangkap Arwah Menjelma Ikan
Rumah itu berlantai plaster biasa. Atapnya asbes. Ada mobil Daihatsu Zebra Espass milik sang anak yang terparkir di halaman rumah. Perabot ruang tamunya satu set. Dua kursi panjang dan satu meja. Terbuat dari jati. Perabot lain tidak terlihat baru. Namun, bikin Suyatmi dan anaknya nyaman tinggal di rumah tersebut.
Suyatmi terlihat senang di Kamis (3/8/2023) siang itu. Saat berbincang, nenek 95 tahun itu begitu bersemangat menceritakan pengalamannya sebagai wisudawan tertua.
“Kulo niki rumiyin mung sekolah ngantos kelas telu SR (Saya ini dulu hanya menempuh pendidikan sampai kelas tiga Sekolah Rakyat),” kenang Suyatmi.
BACA JUGA:
Nenek di Magetan Ini Jadi Wisudawan Tertua Sedunia, Umurnya Sudah 116 Tahun
Dia masih ingat, dahulu sekolah di era kolonial tidaklah mudah bagi anak petani seperti dirinya. Sampai Suyatmi tak berani punya cita-cita yang muluk. Jadi petani saja, dia sudah sangat senang.
“Mboten pengen dados nopo-nopo. Dados petani mawon (Tidak ingin jadi apa-apa. Jadi petani saja),” katanya.
Dia bercerita, jika di Sekolah Lansia Tangguh (Selantang) diajari nembang atau bernyanyi. Namun, lantaran yang paling tua di antara 55 rekannya, Suyatmi tak banyak beraktivitas.
Di Selantang, dia memang tak diajari menulis maupun membaca. Meski begitu, dia bahagia bisa ikut sekolah. Banyak temannya yang menghibur ketika mereka belajar menggunakan lesung, bonang, dan alat musik lain. Ada juga yang bernyanyi.
“Mlebete kadang seminggu niku sepindah. Rencange seket. Wiwit isuk jam pitu ngantos siang jam kalih welas (Masuk sekolah kadang sepekan sekali. Temannya 50 orang. Dari pagi jam 7 sampai siang jam 12),” katanya.
Kadang, dia juga menjalani cek kesehatan. Selain sekolah, selantang juga merupakan Posyandu Lansia sehingga ada kegiatan cek kesehatan untuk para pesertanya.
BACA JUGA:
Anggota DPRD Jatim Salurkan Kursi Roda ke Nenek di Tuban
Sari, putri Suyatmi bercerita, sang ibu tak memiliki riwayat penyakit. Penyakit yang kerap menjangkiti hanya batuk pilek.
“Ibu itu dulu sering ke ladang, dan pasti jalan kaki. Ladang kami lumayan jauh,” kata Sari.
Topografi wilayah Desa Janggan merupakan kawasan pegunungan. Sehingga, ladang mereka juga tak mudah dijangkau menggunakan kendaraan. Apalagi, di masa muda Suyatmi, tak banyak warga yang memiliki sepeda motor. Sehingga, jalan kaki melewati tanjakan dan turunan adalah cara satu-satunya menuju ladang.
“Kebanyakan lansia di desa sini ya masih sehat meski sudah sepuh. Jarang sekali yang menderita penyakit yang kronis,” katanya.
Terpisah, Tim Koordinator Selantang BKL Mawar Indah Paeran mengatakan, dulunya Selantang hanya Posyandu Lansia. Kebetulan, lokasinya berada di rumahnya.
“Kemudian, diajukan sebagai percontohan oleh Pemkab Magetan untuk jadi Selantang sejak Oktober 2022, dan sekarang sudah meluluskan 55 orang lansia. Di Magetan hanya ada satu Selantang ini,” kata Paeran.
Dia membenarkan, memang ada pelajaran kesenian dan kebudayaan. Karena, itulah pelajaran yang cocok bagi para lansia.
“Karena tujuannya memang bagaimana lansia ini bisa bahagia. Kami juga mengajarkan pola hidup sehat meski sudah sepuh. Sehingga, para lansia bisa tetap sehat di usia senja,” katanya. [fiq/beq]







