Surabaya (beritajatim.com) – Kesatuan Aksi untuk Mengubah dan Memperbaiki Indonesia (KAUMM Indonesia) berdiri dengan mengambil napak tilas dan pelajaran sejarah perjuangan para pahlawan bangsa.
Berawal dari agenda Dialog Kebangsaan dengan tema ‘Kepahlawanan di Era Pergantian Kepemimpinan: Antara Pragmatisme dan Patriotisme’ yang diselenggarakan di Hotel Majapahit Surabaya, Rabu (15/11/2023), KAUMM Indonesia berdiri untuk mengambil peran dalam pergantian pemerintahan. Yakni, mendukung pemimpin baru negara yang sanggup meneladani nilai kepahlawanan dalam melakukan pembangunan negara.
“Kami berdiri untuk mendukung pemimpin baru yang berjiwa patriotisme dan memiliki jiwa kepahlawanan dalam membangun bangsa ini,” tegas Suryadi Jaya Purnama, selaku Ketua Dewan Pengarah KAUMM Indonesia.
Dia menjelaskan, Hotel Majapahit dipilih sebagai tempat deklarasi KAUMM Indonesia karena merupakan hotel yang bersejarah. Hotel ini menjadi saksi bisu kepahlawanan rakyat Indonesia di Kota Surabaya.
BACA JUGA:
Penolakan Politik Dinasti Menggelora di Unitomo Surabaya
“Dulunya bernama Hotel Yamato, disini merupakan tempat terjadinya peristiwa perobekan bendera Belanda sebagai bentuk juang pahlawan,” jelasnya.
Suryadi menerangkan, dia menyatakan sebuah syarat sebagai seorang pahlawan, di antaranya: pahlawan harus bisa memberikan manfaat kepada orang lain tanpa ada motivasi untuk mendapatkan keuntungan pribadi.
Selain itu, seorang pahlawan merupakan seseorang yang memiliki sikap tegas dan jelas. Tidak ada orang yang mendapatkan gelar pahlawan karena dia bersikap netral, karena setiap pahlawan pasti akan memilih untuk berada di sisi kanan atau kiri. Tidak ada sisi yang lebih berat dari sisi lainnya, bahkan seorang penjajah Belanda pun merupakan seorang pahlawan bagi negaranya.
“Seorang pahlawan adalah orang yang bisa memanfaatkan momentum dalam setiap kesempatan yang muncul. Dia harus cerdas dalam mengamati kondisi yang terjadi di lapangan. Ada kesempatan, dia harus dapatkan. Itulah seorang pahlawan,” ungkapnya.
Terkait wujud dan komitmen KAUMM Indonesia, Suryadi memaparkan beberapa hal. Yaitu, pertama, kesatuan pandangan. KAUMM Indonesia berkomitmen untuk membangun kesatuan pemikiran yang kokoh di antara seluruh komponen masyarakat Indonesia, mengakui keberagaman sebagai kekayaan, dan dalam semangat persatuan, menekankan pentingnya dialog dan saling penghargaan antarumat beragama dan suku.
BACA JUGA:
Ganjar: Demokrasi Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja
Kedua, pendidikan dan kebudayaan. KAUMM Indonesia mendukung upaya penguatan sistem pendidikan yang inklusif, progresif, dan berlandaskan nilai-nilai kearifan lokal. Mereka juga mendorong pelestarian dan pengembangan kebudayaan Indonesia sebagai identitas bangsa yang kuat.
Ketiga, keadilan sosial. KAUMM Indonesia berjuang untuk mewujudkan keadilan sosial di seluruh lapisan masyarakat. Mereka menolak segala bentuk diskriminasi dan mendukung langkah-langkah konkret untuk mengatasi kesenjangan sosial dan ekonomi.
Keempat, kepemimpinan yang berkarakter. KAUMM Indonesia mendukung terbentuknya kepemimpinan yang berintegritas, adil, dan mampu mengayomi seluruh rakyat. Mereka mempromosikan partisipasi aktif masyarakat dalam pembentukan kebijakan dan menekankan transparansi dalam pengelolaan pemerintahan.
Kelima, pemberdayaan masyarakat. KAUMM Indonesia percaya pada pemberdayaan masyarakat sebagai motor penggerak perubahan. Mereka berkomitmen untuk mendukung program-program yang memberdayakan masyarakat, terutama yang berfokus pada peningkatan ketrampilan, kewirausahaan, dan akses terhadap sumber daya.
“Ini wujud komitmen KAUMM Indonesia untuk membawa perubahan positif dan memperbaiki kondisi Indonesia, menuju kedamaian, kesejahteraan, dan kesatuan fikrah,” pungkasnya. [tok/beq]







