Ponorogo (beritajatim.com) – Cinta bisa menembus jarak dan negara. Tapi ketika berurusan dengan hukum, perasaan tak lagi cukup jadi paspor. Seorang pria asal Suriah, inisial BD, harus berurusan dengan Imigrasi Ponorogo setelah nekat datang melamar sang kekasih.
BD, pemuda 24 tahun itu, diamankan petugas Imigrasi Kelas II Non TPI Ponorogo pada 13 Juni 2025. Dia datang ke Ponorogo sehari sebelumnya, dengan niat sederhana: menikahi perempuan pujaannya yang tinggal di salah satu desa di Kecamatan Babadan Ponorogo.
“Dia datang ke sini untuk bertemu dengan orang tua kekasihnya,” kata Kepala Kantor Imigrasi Ponorogo, Happy Reza Dipayuda, Jumat (20/6/2025).
Namun, bukan restu yang lebih dulu Dia temui, melainkan pemeriksaan dari petugas Imigrasi Ponorogo. BD ternyata sudah overstay sejak September 2024 lalu. Dia juga sempat berpindah-pindah kota tanpa izin resmi yang sah. Bahkan, dugaan pidana pun juga muncul. Yakni BD diduga sempat bekerja sebagai model di wilayah Kota Batu Malang.
“Kami temukan bukti digital bahwa yang bersangkutan sempat bekerja,” jelas Happy.
Awalnya, petugas hendak melakukan deportasi karena BD melampaui batas izin tinggal. Namun setelah dilakukan pendalaman, kasusnya mengarah pada penyelidikan lebih lanjut. Sebab aktivitas bekerja tanpa izin merupakan pelanggaran dalam Undang-Undang Keimigrasian.
“Ini masih penyelidikan. Kami akan tindak sesuai aturan,” tegas Happy.
Diberitakan sebelumnya, seorang pria asal Suriah berinisial BD diamankan petugas Imigrasi Kelas II Non TPI Ponorogo. Warga negara asing (WNA) berusia 24 tahun itu ditengarai menyalahi izin tinggal kunjungan (ITK). Yang bersangkutan diamankan oleh pihak imigrasi saat berada di Ponorogo untuk menemui kekasihnya.
Happy menegaskan, kasus ini masih dalam penyelidikan. Imigrasi akan terus memperketat pengawasan terhadap WNA yang diduga melanggar aturan. Dia juga mengimbau masyarakat agar tak segan melapor jika melihat aktivitas mencurigakan dari orang asing.
“Kami minta partisipasi aktif warga. Jika ada WNA yang mencurigakan, segera lapor ke kami,” pungkasnya. [end/aje]






