Pasuruan (beritajatim.com) – Karhutla (Kebakaran Hutan dan Lahan) yang terjadi di wilayah Gunung Ringgit telah berdampak serius pada masyarakat Desa Jatiarjo, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan.
Hingga saat ini, debit air di desa ini mengalami penyusutan yang signifikan. Karhutla telah mengakibatkan matinya mata air yang menjadi sumber utama pasokan air bersih bagi warga. Selain itu, beberapa pipa saluran air yang menghubungkan rumah warga juga mengalami kerusakan.
Menurut salah satu tim relawan Desa Jatiarjo, Mukhid, kebakaran yang merambat di lereng Gunung Ringgit juga menyebabkan ambrolnya batu-batu di sana. Batuan yang runtuh ini telah merusak pipa-pipa air. Dampaknya, pasokan air bersih ke rumah warga berkurang secara signifikan.
“Ada pipa yang rusak terkena runtuhan batu. Tempatnya cukup berbahaya untuk diperbaiki saat ini, karena masih ada risiko batu-batu di atas yang bisa runtuh,” jelasnya, Minggu (10/9/2023).
Kepala Desa Jatiarjo, Dardiri, juga mengonfirmasi defisit air yang parah di desanya. Debit air telah berkurang hingga mencapai 70 persen. Padahal, selama musim kemarau biasa, penurunan debit air hanya sekitar 30 persen.
BACA JUGA:
Kebakaran di Gunung Arjuno Wilayah Mojokerto Berhasil Dipadamkan
Untuk menjaga kelangsungan pasokan air bersih, Dardiri telah mengorganisir pemuda dan relawan Desa Jatiarjo untuk memadamkan api yang mendekati mata air. Lebih dari 500 personel bertugas secara bergantian dalam upaya ini.
Sementara itu, untuk mengatasi masalah air yang sudah defisit, mereka mengambil tindakan dengan menggilir distribusi air ke rumah-rumah warga. Tiap RT diberi waktu 2 jam per harinya untuk mendapatkan pasokan air bersih.
“Kami berusaha mengatasi dengan cara menggilir distribusi air. Setiap RT kami berikan waktu 2 jam agar semua warga dapat mendapatkan air. Situasi ini semakin memburuk karena sumber air utama kami sudah mati total,” tutupnya. [ada/suf]






