Berapa besar kekuatan dan kapasitas ekonomi Arab Saudi? Data yang ada menyebutkan, negara berbasis kerajaan ini memiliki produk domestik bruto (PDB) mencapai USD1,316 triliun. Kenyataan ini menempatkan Saudi dalam daftar 20 negara dengan tingkat perekonomian terbesar di dunia.
Untuk tahun ini, Arab Saudi diproyeksikan tetap berada dalam jajaran 20 ekonomi terbesar dunia. Posisi ini menegaskan daya tahan ekonomi negara Kerajaan itu di tengah volatilitas dan ketidakpastian politik global, yang ditandai mengerasnya relasi antara Amerika Serikat (AS) USA dan negara-negara Barat dengan Rusia, China, dan sejumlah negara yang tergabung dalam aliansi BRICS.
Berdasar data ekonomi terkini sebagaimana dikutip dari laman Asharq Al-Awsat, Selasa (13/1/2026), Arab Saudi menempati peringkat ke-19 dunia dengan produk domestik bruto (PDB) mencapai USD1,316 triliun. Capaian tersebut mencerminkan berlanjutnya transformasi ekonomi yang dijalankan melalui agenda diversifikasi nasional.
Konsistensi posisi Arab Saudi di kelompok 20 besar, mengutip Himpuhnews, sejalan dengan implementasi Saudi Vision 2030, yang berfokus memperluas sumber pendapatan negara dan mengurangi ketergantungan pada sektor tertentu. Upaya ini turut mendorong peningkatan nilai PDB di tengah tekanan ekonomi global.
Laporan Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) per Oktober 2025 menunjukkan bahwa total ukuran ekonomi global pada 2026 diperkirakan mencapai USD123,6 triliun. Meski terjadi pergeseran di sejumlah kawasan, pusat kekuatan ekonomi dunia masih dikuasai oleh negara-negara besar.
Lima ekonomi teratas menyumbang lebih dari 55 persen output global, yakni: Amerika Serikat di posisi pertama dengan PDB USD31,8 triliun. Selanjutnya, Tiongkok di peringkat kedua dengan PDB sekitar USD20,7 triliun.
Jerman sebagai ekonomi terbesar Eropa di peringkat ketiga dengan PDB USD5,3 triliun. India naik ke posisi keempat dengan PDB USD4,5 triliun dan Jepang turun ke peringkat kelima dengan PDB USD4,4 triliun.
Ekonomi Saudi sebagai salah satu pilar penting dalam apa yang disebut para pakar sebagai “geografi ekonomi” baru. Ketika sejumlah negara berkembang menghadapi tekanan suku bunga dan inflasi yang dinilai terdistorsi di negara maju, Arab Saudi dinilai menunjukkan kemampuan menyerap guncangan secara relatif kuat.
IMF menilai investasi besar Saudi di sektor-sektor prospektif tidak hanya berpengaruh pada pertumbuhan domestik, tetapi juga mencerminkan pergeseran arus modal global menuju destinasi yang dianggap lebih stabil.
Pada kuartal III 2025, ekonomi Saudi tumbuh sebesar 4,8 persen year-on-year, direvisi turun dari perkiraan awal sebesar 5 persen. Namun, masih di atas pertumbuhan sebesar 4,5 persen yang direvisi naik pada kuartal kedua.
Ini menandai laju ekspansi tercepat sejak kuartal keempat tahun 2024. Aktivitas sektor minyak mempercepat, naik 8,3 persen setelah mengalami kenaikan sebesar 3,9 persen pada periode sebelumnya.
Aktivitas nonminyak terus meningkat, meskipun pertumbuhan melambat menjadi 4,3 persen dari 5,6 persen. Aktivitas pemerintah juga meningkat, mencatat kenaikan sebesar 1,4 persen setelah pertumbuhan sebesar 0,5 persen pada kuartal sebelumnya.
Saudi adalah salah satu negara produsen minyak terbesar di dunia dengan tingkat cadangan terbukti mencapai 260 miliar barel lebih. Kenyataan ini menempatkan Saudi di posisi kedua negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia.
Posisi pertama ditempati Venezuela dengan 303 miliar barel dan ketiga ada Iran dengan lebih 160 miliar barel. Saudi memiliki sumber ekonomi yang kuat dan beragam. Dari minyak bumi hingga investasi. Hal itu menempatkan Saudi negara maju yang terus berkembang pesat mengikuti zaman. [air]






