Malang (beritajatim.com) – Bagi penggemar balap motor di Kabupaten Malang, nama Kanjuruhan Street Race (KSR) mungkin sudah tak asing lagi. Namun siapa sangka, perjalanan terbentuknya KSR, menyimpan banyak kisah haru.
Di tangan dua pemuda pecinta olahraga otomotif, stereotip minor adu balap motor liar pun berubah jadi prestasi membanggakan.
Hebatnya, balap liar yang dulu jadi hobi generasi muda di Kabupaten Malang, kini nyaris hilang. Mereka paham bagaimana menyalurkan hobi bermotornya dengan santun dan tidak mengganggu aktifitas masyarakat di Kabupaten Malang.
Andika Fajar Kurniawan. Pria yang akrab disapa Andika ini, satu dari dua orang dibalik layar yang menjadi inisiator terbentuknya Kanjuruhan Street Race (KSR). Melalui KSR, adu balap motor liar di Kabupaten Malang pun perlahan menghilang.
Selain Andika, sosok penting di dibalik cerita terbentuknya KSR adalah Doni Setyawan. Dikalangan para pebalap motor di Kabupaten Malang, nama Doni sudah tak asing lagi. Doni bahkan sudah menjadi joki balap liar sebelum Stadion Kanjuruhan dibangun.
Darah adu balap Doni, kini menitis ke putranya. Putra Doni, Renouvaldo, bahkan disekolahkan langsung Kapolres Malang AKBP Putus Kholis Aryana ketika itu dan Bupati Malang HM Sanusi ke DRC (Doni Racing School).
Sekolah khusus balap motor di Sentul, Bogor, Jawa Barat itu, milik pebalap nasional Doni Tata. Hebatnya, Renouvaldo yang menjadi produk asli Kanjuruhan Street Race, dalam Pekan Olahraga Propinsi (Porprov) Jatim ke IX tahun 2025 ini di Malang Raya sebagai tuan rumah, Renouvaldo yang masih berumur 18 tahun, akan turun di Cabang Olahraga Bermotor/Road Race dengan jarak 1,2 kilometer.
“Tanpa sosok Mas Dony Setiyawan, KSR tak akan terbentuk. Mas Doni adalah joki sekaligus pelaku balap liar yang menyalurkan hobinya dengan tepat. Bersama mas Doni, kami sekarang menjadi garda terdepan untuk menghilangkan adu balap liar di Kabupaten Malang,” ungkap Andika, Sabtu (24/5/2025) pada beritajatim.com.
Andika bercerita, terbentuknya KSR setelah terjadi insiden perkelahian yang mengakibatkan seorang anggota TNI di Kabupaten Malang, terluka.
Ketika itu tahun 2023, anggota diduga dalam kondisi terpengaruh minuman keras, mendatangi arena balap liar di Stadion Kanjuruhan. Pelaku balap liar dipukuli. Dalam kondisi keributan tersebut, anggota TNI pun jadi sasaran amuk massa di kerumunan balap liar. “Setelah insiden itu, saya di panggil Pak Danyon. Saya diminta mencari tahu siapa pelaku keributan,” ucap Andika.
Sehari hari, Andika bekerja sebagai ajudan pribadi Bupati Malang HM Sanusi. Hingga kini, Andika masih berstatus tangan kanan Bupati Malang dalam seluruh kegiatan dinas Bupati di Kabupaten Malang.
Sebagai penggemar olahraga balap motor, Andika kemudian mencari tahu siapa pelaku keributan saat itu. Ia pun menghubungi satu persatu pelaku balap liar. Atas saran Danyon ketika itu, Andika berhasil menjadi mediator hingga menemukan pelaku keributan .
Melalui proses mediasi secara kekeluargaan, insiden pemukulan akhirnya berhasil diselesaikan dengan jalan damai. Dari sinilah, Andika kemudian membentuk wadah komunitas KSR. Memanfaatkan posisinya sebagai orang dekat Bupati Malang dan seluk beluk birokrasi antar Forum Pimpinan Daerah, Andika bersama Doni Setiyawan puj berjanji mengarahkan para pelaku balap liar ke jalan yang benar.
“Saat itu tahun 2023 jumlah komunitas di grup kami cuma 15 orang. Seiring berjalannya waktu ampai tahun 2025 ini, jumlah komunitas grup kami di KSR sudah lebih dari 2050 orang. Kami dekati pelaku balap liar secara humanis. Kami rangkul karena mereka punya potensi bagus yang harus diwadahi dengan tepat,” ucap Andika.
Penggila olahraga balap motor sebanyak itu, sambung Andika, terdiri dari para joki balap motor, penggemar balap motor, pemilik bengkel, dan owner spare part otomotif.
Andika kemudian membawa para penghobi balap motor bertemu langsung Kapolres Malang AKBP Putus Kholis Aryana ketika itu. Beberapa kali dilakukan mediasi, bersama Kasatlantas Polres Malang AKP Adis Dani Garta, komunitas penghobi balap liar menjalani uji coba perdana di Stadion Kanjuruhan pada tanggal 27 Desember 2023.
“Tanggal 27 Desember ini uji coba pertama mas. Disitu saya orasi dan menghimbau para penghobi balap motor, untuk tidak melakukan balap liar menjelang malam pergantian tahun. Alhamdulillah sampai tahun berganti di 2024, tidak ada balap liar di Kabupaten Malang,” tegas Andika.
Dari sinilah wadah penghobi balap motor, akhirnya terbentuk. Sebagai bentuk apresiasi dari Kepolisian dan Forum Pimpinan Daerah di Kabupaten Malang, para pelaku balap liar bisa menyalurkan hobi balap motornya setiap hari Jumat petang.
“Kami memperoleh apresiasi dari Kepolisian dan Pemerintah Daerah, sehingga di awal tahun 2024 kami mulai membentuk Kanjuruhan To Plus Street Race. Diajang ini kami gelar selama tiga hari berturut turut. Dan animo penghobi balap motor sangat luar biasa saat itu,” bebernya.
Dari Kanjuruhan To Plus Street Race ini, lanjut Andika, berhasil mengikis arena balap liar motor yang sering dilakukan anak anak muda di Kabupaten Malang dan berubah nama menjadi Kanjuruhan Street Race atau KSR.
KSR, akan diselenggarakan setiap bulan dua kali pada hari Jumat malam. Lokasi KSR, selain berada di Stadion Kanjuruhan, juga digelar arena langganan balap liar di Kabupaten Malang seperti Jalan Lingkar Barat (Jalibar) Kepanjen, hingga Jalan Kalipare.
“Lokasi KSR ini yang rutin di Kanjuruhan. Kita pindahkan ke jalan jika Stadion Kanjuruhan ada kegiatan serupa seperti sepak bola Arema atau ada kegiatan lain,” tutur Andika.
Pria asal Kepanjen itu mengaku, para joki balap motor yang tergabung dalam KSR, harus memenuhi standart resmi. Yakni memakai helm SNI, jaket tebal, sepatu diatas mata kaki dan celana jeans. “Di KSR standart keselamatan pebalap kami jadikan yang utama. Kalau dulu joki balap motor itu kan cuma pakai kaos saja,” kenangnya.
Dari gelaran rutin KSR setiap Jumat dua kali dalam sebulan, antusias masyarakat pun membludak. Hal itu, tutur Andika, mampu meningkatkan pendapatan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di kawasan Stadion Kanjuruhan. “Omzet pelaku UMKM di Kanjuruhan meningkat tiga kali lipat,” ujarnya.
Namun, kabar miring jika KSR dianggap tidak pernah membayar retribusi ke Pemerintah Daerah, Andika pun menanggapinya dengan santun.
Menurut Andika, sorotan dari DPRD dan Dispora jika KSR menggunakan arena Stadion Kanjuruhan tanpa membayar retribusi, karena kesepakatan awal saat rapat kordinasi dengan pemerintah daerah dan lintas institusi ketika itu, KSR merupakan wadah pembinaan.
“KSR ini fungsinya pembinaan, para penghobi balap motor kita bina dalam KSR. Karena kesepakatan Rakor dengan Polres seperti itu. Justru kami memberikan nilai positif karena retribusi dari parkir dan UMKM meningkat drastis ketika KSR menggelar event.
Kini, ditahun 2025, ajang balap motor yang di gawangi KSR, vakum sementara. Selain lokasi Stadion Kanjuruhan dijadikan home base pertandingan Arema FC pasca tragedi Kanjuruhan, Andika berharap situasi dikawasan stadion bisa tertib, aman dan nyaman.
“Sampai hari ini kita vakumkan dulu. Karena stadion Kanjuruhan dipakai laga Arema. Kami berharap masyarakat bisa tertib. Tidak ada lagi insiden seperti pelemparan batu kemarin. Sehingga kita sama sama bisa menggunakan stadion Kanjuruhan sebagaimana mestinya dengan aman dan nyaman,” pungkasnya.
Kanjuruhan Street Race, merupakan adu cepat motor dengan menempuh jarak 201 meter. Adapun alet binaan KSR yang akan bersaing dalam Porprov tahun 2025 ini dari Cabor Bermotor/Road Race yakni Reno Valdo. “Insya Allah event KSR akan kita gelar lagi pada 1 Juli 2025. Nanti bertepatan dengan perayaan Hari Bhayangkara. Mohon doanya ya mas,” Andika mengakhiri. (yog/kun)







