Mojokerto (beritajatim.com) – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Mojokerto tidak hanya menjadi tempat pembinaan bagi warga binaan, tetapi juga menyimpan sejarah penting dalam perjalanan bangsa. Salah satu saksi bisu sejarah tersebut terdapat di Blok Tahanan Kamar 02.
Kamar tahanan berukuran 4×4 meter tersebut pernah menjadi tempat penahanan KH Hasyim Asy’ari, ulama besar sekaligus pahlawan nasional. Pendiri Nahdlatul Ulama (NU) ini ditahan pada tahun 1943 oleh penjajah Jepang akibat menolak ritual penghormatan kepada Kaisar Hirohito dan Dewa Matahari (Seikerei). Hingga kini, kamar 02 yang pernah ditempati oleh Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang tersebut masih difungsikan.
Kepala Lapas (Kalapas) Kelas IIB Mojokerto, Rudi Kristiawan, menegaskan bahwa keberadaan kamar ini memiliki nilai sejarah yang sangat besar.
“Kamar 02 ini bukan sekadar ruang tahanan, tetapi menjadi bukti perjuangan K.H. Hasyim Asy’ari dalam mempertahankan ajaran Islam dan menolak penjajahan. Di tempat ini, beliau mengalami berbagai tekanan fisik dan mental, namun tetap teguh pada prinsipnya,” ungkapnya, Jumat (21/3/2025).
Sebagai bentuk pelestarian sejarah, Lapas Kelas IIB Mojokerto terus menjaga dan merawat kamar tahanan bersejarah ini. Tujuannya adalah agar generasi mendatang dapat memahami betapa pentingnya peran para ulama dan pejuang bangsa dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
“Kami ingin mengingatkan bahwa sejarah ini bukan hanya milik Mojokerto, tetapi juga bagian dari sejarah perjuangan bangsa. Semangat perjuangan K.H. Hasyim Asy’ari menjadi inspirasi bagi kita semua untuk tetap teguh dalam prinsip dan nilai kebaikan,” tambahnya.
Dengan keberadaan kamar bersejarah ini, Lapas Mojokerto bukan hanya menjadi tempat pembinaan bagi narapidana, tetapi juga pusat edukasi sejarah yang mengajarkan nilai-nilai perjuangan dan keteguhan prinsip bagi bangsa Indonesia. [tin/beq]






