Jember (beritajatim.com) – Bupati Jember Hendy Siswanto bakal memberikan subsidi pada penerbangan sipil di 2023, sebagai kado Ulang Tahun Jember. Dia berharap bisa menyewa pesawat untuk penebangan komersial agar Bandara Notohadinegoro, Kabupaten Jember, Jawa Timur, bisa beroperasi tahun depan.
“Kami sekarang sedang berupaya maksimal bisa men-carter (sewa) pesawat komersial tahun depan, pada awal 2023. Ini sebagai hadiah ulang tahun untuk Jember,” kata Hendy, Rabu (23/11/2022).
“Kami akan carter di situ untuk penumpang. Bayarnya nanti subsidi, dan itu pesawat bisa murah. Pesawatnya berukuran kecil. Kami tidak ngomong jumlah penumpangnya dulu deh. Yang penting ada pesawatnya. Yang jelas kami akan berusaha keras di Jember sudah harus ada penerbangan pada awal 2023,” kata Hendy.
Selain menyewa pesawat, Hendy juga sudah membicarakan rencana penerbangan perintis rute Surabaya-Jember dengan Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak. Emil beberapa waktu lalu mengikuti rapat di Kementerian Perhubungan, yang salah satu agenda pembicaraan soal bantuan pemerintah untuk penerbangan perintis di sejumlah kabupaten di Indonesia.
“Kami lewat WhatsApp dan telepon beliau, memohon bantuan untuk Jember,” kata Hendy, Rabu (23/11/2022).
“Kalau ada penerbangan perintis, alhamdulillah. Sudah langsung direspons (oleh Emil) dan disampaikan ke Pak Menter Perhubungan, supaya Jember mendapatkan angkutan udara perintis. Jenis pesawat ATR, tidak bisa Boeing, untuk kapasitas 75 seats,” kata Hendy.
Bandara Notohadinegoro dibangun pada masa pemerintahan Bupati Samsul Hadi Siswoyo pada 2003 dengan luas 120 hektare. Panjang landasan sekitar 1.705 meter dan selebar 30 meter, taxi way sepanjang 156 meter dan selebar 17,5 meter, dan apron sepanjang 156 meter dan selebar 60 meter.
[berita-terkait number=”5″ tag=”Jember”]
Pesawat pertama mendarat di bandara tersebut pada 9 Januari 2004 membawa Presiden Keempat Abdurrahman Wahid dan Menteri Perhubungan Hatta Radjasa dengan ditemani Bupati Samsul. Berikutnya, bandara itu lama tak dioperasikan dan baru beroperasi pada 29 Agustus 2008. Saat itu, Pemerintah Kabupaten Jember menyewa pesawat tipe LET 410 buatan Cekoslowakia selama tiga bulan untuk terbang via rute Jember ke Surabaya.
Penerbangan berjalan tiga bulan dan setelah itu tak berfungsi. Landasan pacu bandara digunakan untuk menjemur gabah petani sekitar. Enam tahun kemudian, tepatnya 16 Juli 2014 sekitar pukul 10.05 WIB, pesawat Garuda Indonesia tipe ATR 72-600 berkapasitas 70 orang penumpang mendarat untuk kali pertama di bandara itu. Sejak saat itu, Bandara Notohadinegoro difungsikan untuk penerbangan komersial jalur Surabaya-Jember.
Urusan sewa pesawat tak bertahan lama. Setelah lama Notohadinegoro, tak digunakan, baru pada 16 Juli 2014, Garuda Indonesia membuka trayek perjalanan Surabaya-Jember-Surabaya satu kali sehari dengan pesawat berkapasitas 70 penumpang. Selain Garuda, ada maskapai Citilink dan Wings Air terbang di Notohadinegoro.
Namun lagi-lagi penerbangan komersial tak bertahan lama di Notohadinegoro. Minimnya jumlah penumpang membuat rute penerbangan Jember-Surabaya tak cukup layak untuk dilanjutkan. Tahun 2019, maskapai penerbangan Citilink resmi tidak beroperasi lagi di Bandara Notohadinegoro, mengikuti jejak Garuda yang lebih dulu lempar handuk.
Maskapai terakhir yang pergi dari Jember adalah Wings Air. Saat ini di Bandara Notohadinegoro, Kabupaten Jember, belum ada penerbangan komersial yang beroperasi. [wir/beq]






