Pasuruan (beritajatim.com) – Lembaga konservasi Taman Safari Indonesia (TSI) Prigen kembali mencatatkan kesuksesan besar dalam program pengembangbiakan satwa predator eksotis asal India. Kehadiran anggota keluarga baru ini menjadi bukti nyata keberhasilan manajemen dalam menjaga ekosistem satwa langka di wilayah Pasuruan.
Kelahiran bayi-bayi harimau tersebut menarik perhatian publik karena memunculkan dua variasi warna yang berbeda dalam satu periode persalinan. Keunikan genetik ini menunjukkan bahwa pola perkawinan silang yang dilakukan tim ahli telah berjalan sesuai dengan target kelestarian satwa.
“Kado kita tahun ini adalah tiga anak harimau benggala, di mana setelah beberapa keturunan akhirnya kita menghasilkan yang warna putih dan oranye,” ujar Komisaris Taman Safari Indonesia, Willem Manansang, pada Senin (4/5/2026). Dia menjelaskan bahwa hasil ini merupakan buah dari penantian panjang dan kerja keras tim konservasi dalam mempertahankan kualitas keturunan.
Ketiga bayi harimau yang diberi nama Rajani, Sri, dan Kandi tersebut saat ini mendapatkan perawatan intensif agar tumbuh kembangnya berjalan optimal. Pihak manajemen terus memantau interaksi antara induk dan anak guna memastikan insting alami satwa tetap terjaga dengan baik.
“Secara genetik kita pertahankan sebagus mungkin, termasuk rutin melakukan pertukaran satwa dengan unit Safari lain untuk menjaga kualitas mereka,” tambah Willem saat menemui awak media di area kandang. Langkah pertukaran antarlembaga ini dilakukan secara periodik demi menghindari terjadinya penurunan kualitas genetik pada populasi harimau.
Fasilitas medis di dalam area taman safari juga disiagakan penuh untuk memberikan dukungan nutrisi bagi induk yang sedang menyusui. Pemberian suplemen khusus menjadi prioritas utama tim dokter hewan agar daya tahan tubuh anak-anak harimau tersebut tetap stabil.
“Kami memberikan identifikasi suplemen yang cukup dan pakan istimewa bagi si induk agar kebutuhan menyusu anak tercukupi,” jelas Dokter Hewan Taman Safari Prigen, drh. M. Nanang. Dengan asupan yang berkualitas, diharapkan fase awal pertumbuhan bayi predator ini dapat terlewati tanpa kendala kesehatan yang berarti.
Prestasi ini semakin mengukuhkan posisi Indonesia sebagai salah satu pusat pelestarian satwa liar kelas dunia yang diakui secara internasional. Keberhasilan pembiakan ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi upaya konservasi serupa guna mencegah kepunahan satwa-satwa langka di masa depan. [ada/suf]






