Surabaya (beritajatim.com) – Inovasi kini bukan hanya bisa dilakukan oleh orsng dewasa, salah satunya Aru Irsyada Bhagaskara, siswa beruska sembilan tahun ini dengan smart thinknya berhasil menyelesaikan serangkaian interview dan placement tes hingga di terima di Grase 7 lower secondari atau setara kelas 1 SMP di Nisai Global School.
Mengusung konsep hidup Break The Limir, Aru pun berhasil masuk ke di Nisai Global School yang merupakan Internasional Cambridge school yang berpusat di negara Inggris dan telah terakreditasi OFSTED.
Yang menarik belum genap sebulan berada dikelas yang multilculture, Aru kembali membanggakan Dr.Sulfahri dan Ikha sebagai orang tuanya dengan mendapatkan penghargaan sebagai 2nd Winner pada ajang International Writing Competition yang diselenggarakan oleh NISAI Group.
Diceritakan satu hari sebelum pelaksanaan presentasi, Country Manager NISAI Group mengabarkan bahwa Aru terpilih sebagai salah satu dari tiga finalis International Writing Competition, lebih lanjut diinformasikan bahwa dua finalis lainnya merupakan salah satu siswa 18 tahun yang bersekolah di Perancis sedangkan yang lain adalah salah satu siswa SMA di Jakarta.
“Jadi lewat tulisanku yang berjudul Renewable Energy Sources, aku menuliskan akan Kelangkaan energi merupakan masalah yang sedang dihadapi oleh dunia, bahkan di Indonesia harga bahan bakar juga semakin tinggi, terus penggunaan bahan bakar konvensional juga tidak ramah lingkungan,”ungkap Aru, Rabu (4/10/2022).
Lebih lanjut menurut Aru, perlu ada terobosan inovasi dan teknologi untuk menggantikan bahan bakar yang selama ini digunakan untuk menyelamatkan masa depan bumi.
Dihadapan para juri yang yang berasal dari UK, Indonesia, dan Brunei Darussalam, Aru mengajak masyarakat untuk mulai memikirkan dan menerapakan renewable energy.
Pada acara final yang dilakukan secara hybrid ini, salah satu juri menanyakan tentang apa yang Aru lakukan sebagai wujud perhatiannya terhadap renewable energy, dengan yakin anak yang juga masih terdaftar sebagai siswa kelas 4 ICP-SD Laboratorium UM ini menjawab bahwa dia sedang mengembangkan teknologi untuk produksi bahan bakar yang ramah lingkungan menggunkakan bakteri untuk produksi biodiesel.
Pasalnya bakteri memiliki kemampuan dan kecepatan reproduksi hingga ribuan kali lipat dibandingkan tumbuhan darat (contohnya kelapa sawit) yang selama ini dikembangkan menjadi bahan baku produksi biodiesel. Diharapkan setelah ini ia akan memberikan inovasi yang lebih menarik lagi akan tulisan terbarunya dan memberikan inspirasi untuk generasi muda. (way/kun)






