Jombang (beritajatim.com) – TPU (Tempat Pemakaman Umum) itu berada di tepi jalan raya yang menghubungkan Jombang-Surabaya, tepatnya di Jl Nurcholis Madjid (dulu Jl Yos Sudarso) Tunggorono, Jombang. Pohon kamboja memayungi deretan makam yang ada di TPU tersebut. Ada makam menggunakan kijing batu, makam berbalut keramik, juga ada makam yang dibiarkan apa adanya.
Dari deretan makam itu, ada satu yang mencolok. Letaknya di sudut utara. Kijing batu membalut makam tersebut. Pada bagian batu nisan terdapat tulisan ‘Seniman Ludruk Garingan Surabaya Markeso (Nachrowi)’.
Di nisan tersebut juga tertulis tanggal lahir Markeso, Surabaya 30-06-1933 dan wafat Jombang 01-05-1996. Di bawahnya terdapat tulisan lagi, “Mole Cak So? Iyo oleh sak godhokan”. Iya, di makam berkijing itulah Markeso bersemayam. Tubuhnya sudah menyatu dengan tanah. Kidungan-kidungannya melayang entah kemana.
Kabar duka itu datang pada Rabu 1 Mei 1996 sekitar pukul 15.00 WIB. Di tempat tinggalnya di kawasan Tunggorono Jombang, seniman ludruk garingan ini menutup mata. Bukan kebetulan Cak Merkeso memilih Jombang sebagai tempat peristirahatannya yang terakhir.
[berita-terkait number=”4″ tag=”ludruk”]
Karena dari Jombang pula embrio ludruk bermula, yakni berawal dari kesenian Besutan sekitar 1900-an yang diciptakan Pak Santik. Di Jombang itu pula, Cak Markeso menyusul para seniornya, Cak Durasim, Cak Asmuni.
Jalan Panjang Ludruk Garingan
Bagi Markeso, kidungan sudah mendarah daging. Jalan panjang hidupnya diisi pengidung garingan dari satu kampung ke kampung yang lain di Surabaya. Ia berkesenian dengan modal mengolah kata, spontan, penuh kecerdasan dan kearifan rakyat jelata. Dari situlah Cak Markeso disebut tokoh ludruk garingan.
Sejak awal tahun 1949, Cak So memulai kiprahnya sebagai seniman jalanan dari satu kampung ke kampung lain. Melalui gaya kidungannya yang khas dan terkesan ceplas-ceplos penuh sindiran, Cak So mendapat tempat terutama di tengah-tengah warga pinggiran. Ia berjalan dari kampung ke kampung membawakan nyanyiannya.
Dalam wawancara dengan Harian Kompas, Jumat 29 Desember 1995, Cak Markeso mengungkapkan bahwa di lingkungan anak-anak nakal (baca WTS–Red) di Kremil dan Dolly, dirinya sering dikasih duit. Para penghuni lokalisasi sangat suka dengan kidungannya.
Dari wawancara itu juga terungkap bahwa Markeso lahir di Surabaya, 30 Juni 1933. Ayahnya berasal dari Kudus dan ibunya dari Bangkalan, Madura. Keduanya bukan dari keluarga ludruk. Namun, anak keempat dari enam bersaudara ini menunjukkan bakat yang memang dibawanya sejak lahir. Lalu, dia belajar dari salah seorang tokoh besutan bernama Cak Sirun (almarhum) anggota kelompok ludruk Lerok Suroboyo.
Dikutip dari buku berjudul Tokoh Jombang karya Joko Pitono, penampilan Cak So memang berbeda dengan pemain ludruk lainnya. Ia membawakan kidungan tanpa diiringi gamelan atau musik apapun. Semua instrumen pengiring keluar dari vokal yang juga bersumber dari mulut Markeso. Mampu beraksi tiga jam sendirian menghibur penonton.
[berita-terkait number=”4″ tag=”kesenian”]
Markeso digambarkan sebagai seniman yang lebih memilih jalan melawak sendiri dengan mengamen dari rumah ke rumah ketimbang melakoni peran ludruk panggungan. Dalam mengamen, Cak So berpenampilan yang mampu menarik perhatian. Dia mengenakan pakaian khas, lalu memakai kopiah yang dimiringkan atau topi menjulang tinggi ala Turki.
Namun jalan berkesenian Cak Markeso tidak selamanya bersinar. Apalagi ludruk mulai ditinggalkan penggemarnya. Seiring laju waktu, suara dan kidungan Cak Markeso semakin dimakan usia. Apalagi setelah istrinya meninggal pada awal 1993.
Tinggal di Lokalisasi
Harian Kompas (29/12/1995) menggambarkan secara detail kondisi rumah yang dihuni seniman yang mulai sakit-sakitan ini. Rumah tersebut berukuran 6 x 14 meter. Di rumah itu, Markeso tinggal bersama keluarga cucunya dan menempati salah satu kamar berukuran 2,5 x 1,5 meter. Tidak banyak isi dalam kamar itu, antara lain hanya tempat tidur dari papan beralaskan tikar yang di sampingnya bertengger radio 4 band ukuran 30 x 10 cm.
Dari radio itulah Cak So mendapatkan hiburan, semisal mendengarkan wayang kulit. Di rumah yang sempit dan pengap ini Cak So hidup bergantung atas kebaikan teman-teman lama saat puluhan tahun sebagai warga Suroboyo. “Sejak awal tahun 1993 setelah istri saya meninggal, saya pun ikut anak angkat saya di sini,” ujar Markeso terbatuk-batuk sambil mengisap rokok klobot, sebagaimana dikutip dari Koran Kompas.
[berita-terkait number=”3″ tag=”jombang”]
Begitulah nasib seniman Markeso. Di ujung usia, kehidupan ekonominya kembang-kempis. Penghargaan dan sanjungan yang diterimanya, tapi tidak berbanding dengan kehidupan ekonominya. Sejak tinggal di Jombang, Cak So tidak tampak lagi keluar masuk gang di Surabaya yang dilakoninya sejak 1949.
Hingga kabar duka itu datang pada Rabu, 1 Mei 1996. Cak So menutup mata di rumah anak angkatnya di kawasan lokalisasi Tunggorono pada usia 63 tahun. Dia meninggal karena gempuran sakit tua. Batuk dan sesak napas menggerogoti tubuhnya. Cak So berpulang bersama kidung-kidungannya. Cak So meninggal bersama kesunyiannya. [suf]







