Banyuwangi (beritajatim.com) – Warga di sekitar rawa bakau di Dusun Persen, Desa Kedungasri, Kecamatan Tegaldlimo Banyuwangi mulai berbenah. Berhasil merubah mindset sebagai pemburu kepiting bakau, menjadi penggerak pelestari, sekaligus pembudidaya.
Adalah, Sugeng dan Eko Susanto bersama kawan lainnya yang menjadi prakarsa atas gerakan lestari alam dan budidaya tersebut. Mereka membuka lebar pemikiran tidak hanya mengambil hasil alam, tetapi juga bisa memanfaatkannya.
Cara mereka berubah patut diacungi jempol. Karena, tidak sekedar menjadi nelayan pemburu. Melainkan mereka mampu belajar banyak tentang keseimbangan alam.
Budidaya kepiting bakau salah satu contohnya. Mereka mengambil bibit kepiting dari area rawa tersebut, kemudian dibesarkan.
Baca Juga: Penyebab Persik Kediri Kalah dari Madura United di Kandang
“Dulu kita ambil semua kepiting yang ada di sini tanpa seleksi. Meski besar atau kecil semua kita ambi dan dijual,” kata Eko Susanto yang didapuk sebagai Bendahara di kelompoknya.
Dari aksi itu ternyata ada kesimpulan yang dinilai kurang efektif. Pasalnya, hanya menguntungkan pihak pengepul atau pedagang.
“Ya, dari itu. Kalau ukuran besar kan jelas harganya. Tapi kalau kecil ya kadang dihargai cukup murah. Dari situ kita sepakat belajar untuk melakukan budidaya,” katanya.
Baca Juga: Bupati Sidoarjo Resmikan Pendopo Makam Auliya Desa Berbek Waru
Pengelolanya adalah sejumlah warga setempat yang rata-rata berprofesi sebagai nelayan. Mereka mendirikan kelompok nelayan Tuan Crab namanya.
Ya, kebiasaan mereka setiap hari adalah pencari kepiting bakau. Lalu, dengan bekal seadanya mereka mencoba memberanikan diri untuk melakukan budidaya sendiri.
Awalnya, mereka memiliki sebuah keresahan sehingga timbul pemikiran jika kepiting alam terus menerus diburu maka bukan tidak mungkin bakal habis. Pasalnya, nelayan setempat juga tak memiliki andil untuk bisa mengambil dengan menyeleksi lebih dulu.
Baca Juga: Belasan Gepeng dan Anjal di Kediri Digaruk Usai Bikin Takut
Maklum, karena himpitan kebutuhan memaksa mereka menangkap kepiting secara serampangan. Besar, kecil bahkan masih baby juga sempat diambil.
Caranya cukup unik, mereka memanfaatkan jerigen bekas untuk media budidaya. Lokasinya, mereka tempatkan di bawah hamparan hutan bakau. Artinya, secara perawatan, mereka mengandalkan alam atau semi alami karena masih dilakukan pemantauan.
“Sekarang yang kecil atau masih baby ini kita masukkan ke dalam wadah, jerigen bekas untuk dibudidayakan,” ucap Sugeng yang didapuk sebagai Ketua Nelayan Tuan Crab ini.
Dari pengalaman yang ada, kemudian mereka banyak belajar. Trial and error menjadi tantangan yang mesti dihadapi bersama.
Baca Juga: Wali Kota Malang Sutiaji Bangga, Jarik Ma’Siti Tembus Top 99 Inovasi Pelayanan Publik 2023
“Awalnya membuat sadar teman lain memang sulit. Apalagi rata-rata memang tergiur dengan hasil yang maunya cepat. Tapi sekarang sedikit demi sedikit mulai mau,” ucapnya.
Berjalannya waktu, kelompok ini juga sempat kembang kempis. Tapi, mereka mencoba tak patah semangat.
“Ya, itu tadi kadang kita harus saling support. Terutama saat budidaya itu,”
“Kan sistemnya itu kita pakai jerigen bekas ya. Jadi kita harus kumpulkan uang untuk pembelian jerigen, kemudian harus ada perawatan. Ini yang kadang sulit,” ujarnya.
Akan tetapi, kini mereka mencoba berubah. Mereka tahu hasilnya dari budidaya ini.
“Kita lakukan perawatan terutama memberi makan kepiting ini dua hari sekali,” imbuh Eko.
Baca Juga: Jelang Iduladha, Petani Rumput Pakan di Ponorogo Banjir Orderan
Area rawa di Teluk Pang-pang, yang masuk kawasan Taman Nasional Alas Purwo dan Perhutani ini berbatasan langsung dengan selat Bali. Lokasi itu sangat cocok untuk habitat kawanan kepiting.
Kawasan berair payau, berlumpur dan banyak ditumbuhi pohon bakau menjadi habitat alami berbagai jenis kepiting.
“Makanannya ya ikan kecil, maupun hewan sejenis kepiting di sekitar sini,” urai Eko.
Kini, usaha mereka yang telah dirintis sejak setahun lalu telah dapat dirasakan hasilnya. Para warga ini hanya butuh dua bulan untuk dapat menikmati panen kepiting.
Baca Juga: Rekomendasi Healing di Bangkalan Madura: Pesarean Aermata
Bahkan kini semakin berkembang sehingga mereka tidak perlu menunggu lama untuk panen. Saat panen kepiting mereka dapat mengontrol hasil panen karena disesuaikan bobot kepiting yang menjadi permintaan pasar.
“Yang jelas lebih untung, karena kita jual kepiting yang ukurannya besar sesuai dengan permintaan. Kalau masih kecil kita masih bisa merawatnya dulu di sini,” sebut Sugeng.
Kini tidak hanya sekedar pemenuhan kebutuhan ekonomi namun mereka memiliki misi besar yang selalu digenggamnya. Yaitu menyelamatkan dan menjaga kawasan hutan mangrove agar tetap asri dan lestari.
Karena, mereka berprinsip menjaga alam seperti menjaga diri alam hidup mereka akan tetap hidup.
Baca Juga: Bantu Pedagang Sayur, Kiai Muda Jatim Gelar ‘Grebek Pasar’
“Alhamdulillah ada hasilnya, susah ada banyak kendala tapi sekarang ada ilmunya ada yang memberitahu caranya, sekarang alhamdulillah bisa panen,”
“Pertama itu dua bulan sudah bisa panen, tapi setelah itu bisa satu bulan kalau sekarang bisa 15 hari, karena moulting itu usianya tidak sama,” kata bapak satu putri ini. (rin/ian)






