Jember (beritajatim.com) – Jumlah rumah sakit di Kabupaten Jember, Jawa Timur, masih belum ideal. Bupati Hendy Siswanto mengatakan, Jember masih memerlukan dua atau tiga rumah sakit baru bertipe C.
“Karena memang kebutuhan berdasarkan populasi penduduk Jember memang meningkat tajam, dan banyaknya perguruan tinggi di Jember. Ada 21 perguruan tinggi dan ribuan sekolah di Jember,” kata Hendy, usai peletakan batu pertama Rumah Sakit Harapan Sehat, Kamis (1/2/2024).
Menurut Hendy, banyaknya lembaga pendidikan membutuhkan penanganan dan layanan kesehatan yang lebih merata. “Tentunya yang sekarang ini masih berkelompok, tersentral di pusat kota. Perlu ada tambahan, karena penduduk Jember sudah menyebar di mana-mana. Yakin kalau kita membuat rumah sakit, insyaallah (jumlah) orang yang berobat bisa mencukupi kebutuhan rumah sakit,” katanya.
Saat ini Jember masih kekurangan 600 tempat tidur rumah sakit. “Dua ratus tempat tidur untuk satu rumah sakit tipe C,” kata Hendy.
Pemerintah Kabupaten Jember tak hanya mendukung dengan memberikan kemudahan izin. “Kami juga akan men-support dokter, juga PMI (Palang Merah Indonesia) mendukung kebutuhan darah. Kalau nanti (RS Harapan Sehat) sudah jadi, ada satu boks untuk bank darah, sehingga tidak menunggu dari PMI. Sudah ada stok di sini. Nanti PMI yang datang ke sini,” kata Hendy.
Hendy percaya jika sebuah rumah sakit memliki pelayanan yang bagus, maka masyarakat akan datang berobat. “Semua dokter di Jember bagus. Mereka punya keahlian,” katanya.
Badan Pusat Statistik mencatat, Jember memiliki 10 rumah sakit, 2 rumah sakit khusus, dan 1 rumah sakit bersalin. Berdasarkan dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Jember 2021-2026, rasio rumah sakit per satu penduduk (0,51). Namun ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.
Dukungan rumah sakit terhadap program prioritas (penurunan kematian maternal, balita gizi buruk) masih belum optimal. Hal ini dikarenakan Sistem rujukan PONEK (Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Komprehensif) belum maksimal.
Dokumen RPJMD juga menyebutkan, banyak rumah sakit yang belum siap melayanani kasus kegawatdaruratan neonatus dan obgin. NICU sering penuh,. dan kurangnya pelayanan dokter spesialis obgin (kandungan). Hal ini menyebabkan rujukan kasus ibu hamil berisiko tinggi masih sering estafet dari rumah sakit rujukan. [wir]






