Surabaya (beritajatim.com) – Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) Tunjungan (depan Siola) yang berdiri sejak tahun 1987 resmi dibongkar. Keputusan Pemerintah Kota Surabaya ini menandai awal baru bagi revitalisasi kawasan legendaris Jalan Tunjungan.
Kondisi jembatan yang sudah rapuh dan tak lagi memenuhi standar keamanan menjadi alasan utama pembongkaran. Namun, tak sekadar membongkar, Pemkot Surabaya berencana membangun kembali jembatan tersebut dengan konsep yang lebih modern, terbuka, dan ikonik.
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, mengungkapkan bahwa kondisi fisik jembatan yang sudah rapuh membuat pembongkaran menjadi langkah tak terelakkan. Melalui akun Instagram resminya, Eri menyampaikan bahwa desain lama tidak lagi relevan dan tidak terintegrasi secara visual maupun fungsional dengan wajah baru Jalan Tunjungan, yang saat ini tengah disulap menjadi kawasan wisata heritage modern.
Berbeda dari jembatan sebelumnya, JPO baru yang akan dibangun nantinya tidak hanya berfungsi sebagai penghubung pejalan kaki. Konsep yang diusung adalah jembatan terbuka dan modern dengan sentuhan estetika urban yang menjadikannya sebagai spot foto ikonik di pusat kota.
“Jembatan ini nantinya akan terkoneksi dengan pemandangan Tunjungan. Jadi bukan hanya tempat nyebrang, tapi juga tempat buat menikmati view dari atas,” ungkap Eri pada Senin (11/8/2025).
Selain fungsional, jembatan ini dirancang sebagai ruang publik yang instagramable—cocok bagi generasi muda dan wisatawan yang gemar mengabadikan momen di tempat-tempat unik. Dengan panorama bangunan heritage di Jalan Tunjungan, keberadaan JPO baru diyakini akan menjadi daya tarik tersendiri dalam pengembangan pariwisata kota.
Eri pun menjelaskan bahwa pembangunan JPO baru ini tidak banyak mengandalkan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Sebaliknya, proyek ini menggandeng para investor dan pengusaha. Dengan skema tersebut, anggaran kota tetap bisa difokuskan untuk sektor-sektor prioritas seperti kesehatan gratis, pendidikan, dan perbaikan rumah tidak layak huni (rutilahu).
“Saya selalu tekankan, APBD kita untuk kebutuhan dasar masyarakat. Untuk infrastruktur seperti ini, kita gandeng pengusaha agar pembangunan bisa terus berjalan tanpa membebani keuangan daerah,” jelas Eri.
Meski pada awalnya keputusan pembongkaran JPO Siola menuai pro dan kontra, lantaran sebagian masyarakat merasa kehilangan ikon lama yang penuh cerita. Namun, tak sedikit pula yang setuju dengan adanya pembongkaran tersebut. Karena dinilai lebih cantik. Meski begitu, banyak juga yang menyambut positif rencana pembangunan ini
“Sing lawas legendaris, sing anyar primadona,” tulis akun @davi***.
“Good idea, good job Cak Eri! Siap dukung terus untuk kemajuan Suroboyo,” tulis @yuan*** penuh semangat. (fyi/ted)






