Ngawi (beritajatim.com) – Jembatan Guyung di Desa Guyung, Kecamatan Gerih, Kabupaten Ngawi ini tak tersentuh rehab. Padahal, jembatan yang menghubungkan Desa Guyung dengen Desa Gerih ini sudah berdiri sejak era Belanda.
Jembatan yang awalnya merupakan jembatan untuk jalan kereta itu kini memiliki badan jembatan berupa aspal. Tetapi pagar jembatan sudah berkarat dan terlihat rapuh.
Dengan kondisi seperti ini, bakal berbahaya jika pagar jembatan ditabrak kendaraan karena tak akan mampu menahan. Sehingga bisa saja jatuh ke sungai sedalam 20 meter.
Jembatan Guyung tu juga jadi akses utama warga masyarakat untuk menuju Kota Ngawi atau ke Kantor Kecamatan Geneng. Bentangnya mencapai 30 meter namun lebarnya sekitar 2 meter hingga 2,5 meter saja.
Baca Juga:
Kadis PUPR Ngawi Sebut Perbaikan Jalan Telan Rp203 Miliar
Muat untuk kendaraan roda empat dan sejumlah angkutan umum. Namun, tak akan muat jika langsung dua kendaraan berjalan bersamaan dari dua arah berbeda.
Tahun ini, Pemkab Ngawi bakal merekonstruksi jembatan tersebut. Anggaran yang digelontorkan mencapai Rp6 miliar dengan bentang 30 meter dengan lebar 8 meter.
“Anggarannya Rp6 miliar ya. Pakai Dana Alokasi Umum,” kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Ngawi Muhammad Sadli, Sabtu (20/5/2023).
Sadli mengatakan, rekonstruksi jembatan itu awalnya diajukan untuk dapat anggaran perbaikan dari Inpres 3/2023 tentang Percepatan Peningkatan Konektivitas Jalan Daerah. Tetapi, rencana itu akhirnya diurungkan karena anggaran dari DAU dinilai masih cukup.
“Ini tender masih proses ya. Semoga prosesnya lancar sehingga bisa segera dimulai pengerjaannya,” katanya. [fiq/beq].







