Ringkasan Berita:
- Jembatan darurat Nangkaan–Sukowiryo rusak akibat diterjang arus sungai.
- Akses ditutup sementara selama 3–4 hari untuk perbaikan.
- Warga mengeluhkan keamanan dan kualitas konstruksi jembatan.
- Proyek menggunakan anggaran BTT 2026 sebesar Rp75 juta.
Bondowoso (beritajatim.com) – Jembatan darurat yang menghubungkan Kelurahan Nangkaan dan Desa Sukowiryo, Kecamatan/Kabupaten Bondowoso, mengalami kerusakan pada bagian pilar penyangga setelah diterjang arus sungai pada Minggu (26/4/2026) malam, sehingga akses tersebut ditutup sementara.
Jembatan dengan bentang sekitar 14 meter itu kini tidak bisa dilalui selama 3 hingga 4 hari ke depan sejak Senin (27/4/2026). Penutupan dilakukan guna menghindari risiko kecelakaan sekaligus menunggu proses evaluasi dan perbaikan.
Warga setempat mengeluhkan kondisi jembatan yang dinilai tidak layak, bahkan menimbulkan potensi gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas). Kekhawatiran meningkat karena ada pihak yang tetap memperbolehkan warga melintas meski jembatan belum rampung sepenuhnya.
Diana alias Bu Darmaji, warga RT 20 RW 01 Kelurahan Nangkaan, mengaku resah dengan kondisi tersebut. Ia menyebut adanya aktivitas mencurigakan yang diduga memanfaatkan akses jembatan.
“Pernah pagi hari sebelum jam 6 pagi saya mendengar seperti orang jatuh ke tanah. Buuk!!, begitu. Saya rasa itu dari orang yang naik ke tembok dari arah jembatan karena pohon kelor saya sampai rusak. Padahal gerbang sudah kami kunci. Tapi tetap ada orang nekat masuk,” katanya.
Keluhan serupa juga disampaikan warga lain yang mengaku khawatir terhadap potensi gangguan keamanan, terutama pada malam hingga dini hari.
“Ya jelas khawatir mas. Apalagi sampai ada yang berani naik tembok untuk masuk begitu,” ucap warga lainnya.
Ketua panitia pelaksana, Luqman Beryl, mengungkapkan bahwa dirinya sempat mengingatkan agar pilar jembatan tidak dipasang menyentuh aliran air karena berisiko terdampak arus dan material yang terbawa sungai.
“Saya sudah sarankan agar jangan memasang pilar menyentuh air, karena rawan terkena arus. Sebab arus kan membawa sampah kayu, ranting bahkan bebatuan. Kalau diterjang arus, gak kira kuat,” tuturnya.
Namun, saran tersebut tidak diakomodasi oleh pelaksana proyek yang tetap menggunakan empat pilar dari kayu kelapa sebagai penyangga utama.
“Ya saya biarkan saja kalau memang maunya seperti itu. Tapi ternyata apa yang warga khawatirkan sekarang terjadi,” keluhnya.
Luqman juga menyesalkan dibukanya akses sebelum pembangunan jembatan benar-benar selesai. Ia menilai langkah tersebut justru membahayakan keselamatan warga.
“Sebab jika belum selesai tapi sudah dibuka, itu justru membahayakan pelintas. Jadi kami mohon maaf, untuk warga yang mau melintas silahkan melewati jembatan utama dulu. Mumpung masih belum ditotal sembari menunggu jembatan darurat benar-benar rampung,” imbaunya.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bondowoso, Kristianto Putro Prasojo, membenarkan penutupan sementara jembatan tersebut. Pihaknya saat ini masih berkoordinasi dengan instansi terkait untuk evaluasi teknis.
“Kita masih akan berkoordinasi dengan BSBK (Binamarga, Sumberdaya Air dan Bina Konstruksi) untuk evaluasi perbaikan. Insya Allah 3-4 hari selesai,” terangnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa pembangunan jembatan darurat tersebut menggunakan anggaran Belanja Tak Terduga (BTT) tahun 2026 dengan nilai sekitar Rp75 juta. [awi/beq]

as a preferred source on Google




