Ponorogo (beritajatim.com) – Insiden jembatan putus kembali terjadi di Kabupaten Ponorogo. Kali ini, Jembatan Bailey di Dukuh Masaran, Desa Nambak, Kecamatan Bungkal, dilaporkan roboh pada Kamis (5/2/2026) dini hari sekitar pukul 01.00 WIB. Peristiwa tersebut mengakibatkan 2 orang perempuan yang tengah melintas dengan sepeda motor terperosok ke dalam sungai.
Kepala Desa Nambak, Tugimin, mengungkapkan bahwa jembatan sepanjang kurang lebih 20 meter itu ambrol akibat dapuran bambu yang menyangkut di bagian bawah konstruksi jembatan. Kondisi tersebut diperparah oleh pondasi jembatan yang terus-menerus tergerus aliran sungai. Sehingga kekuatannya melemah dan akhirnya tidak mampu menahan beban.
“Di bawah jembatan itu ada dapuran bambu yang menyangkut. Ditambah pondasinya sudah lama tergerus air sungai, akhirnya jembatan ambrol,” ungkap Tugimin.
Saat kejadian, 2 perempuan yang melintas tidak menyadari kondisi jembatan telah rapuh. Sepeda motor yang mereka kendarai ikut terjatuh ke sungai. Beruntung, keduanya berhasil dievakuasi warga dan langsung mendapatkan perawatan di layanan kesehatan terdekat.
Tugimin menjelaskan, jembatan permanen yang berada di lokasi tersebut sejatinya sudah mengalami kerusakan sejak diterjang banjir besar sekitar tahun 2019. Untuk menjaga akses warga, pemerintah kemudian membangun jembatan Bailey sebagai solusi darurat.
Namun, persoalan tak berhenti di situ. Pada tahun 2022, jembatan Bailey bagian selatan sempat mengalami kerusakan dan telah dilakukan perbaikan. Hingga akhirnya, pada Kamis dini hari, bagian jembatan darurat sisi utara kembali roboh.
“Semalam yang roboh itu sisi utara jembatan Bailey. Penyebab utamanya sama, bagian bawah jembatan tersangkut dapuran bambu,” lanjutnya.
Akibat ambrolnya jembatan tersebut, akses penghubung antara Desa Nambak, Bekare, dan Koripan terputus total. Warga kini terpaksa harus memutar sejauh lebih dari 5 kilometer untuk menuju ketiga desa tersebut. Kendaraan roda dua maupun roda empat dipastikan tidak bisa melintas.
“Kondisi jembatan putus total. Semua kendaraan tidak bisa lewat. Warga harus memutar cukup jauh,” jelas Tugimin.
Pihak desa berharap agar segera ada penanganan dan perbaikan dari pihak terkait. Mengingat, jembatan tersebut menjadi akses vital bagi aktivitas warga, mulai dari mobilitas harian hingga jalur ekonomi antar desa.
“Kami berharap segera ada perbaikan, karena ini jalur utama warga,” pungkasnya. [end/aje]






