RINGKASAN BERITA:
- Jemaah lansia rentan mengalami disorientasi atau kebingungan akibat kelelahan dan cuaca ekstrem 43 derajat Celsius di Makkah.
- Masa pemulihan disorientasi membutuhkan waktu 24 hingga 48 jam dengan asupan cairan dan istirahat yang cukup.
- Pendamping dilarang meninggalkan jemaah lansia sendirian guna mempercepat pemulihan orientasi lingkungan.
- Tercatat 152.724 jemaah Indonesia telah tiba di Arab Saudi menjelang fase puncak haji di Armuzna.
Makkah (beritajatim.com) – Jemaah haji lanjut usia (lansia) Indonesia diimbau untuk mewaspadai kondisi disorientasi atau kebingungan saat tiba di Makkah guna mencegah risiko gangguan kesehatan serius menjelang fase puncak Armuzna. Kondisi ini umumnya dipicu oleh kelelahan perjalanan panjang dari tanah air, perubahan cuaca ekstrem yang menyentuh 43 derajat Celsius, hingga sulitnya adaptasi lingkungan baru di sekitar hotel pemondokan.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, hingga hari ke-24 operasional haji, sebanyak 152.724 jemaah telah tiba di Tanah Suci. Pihak kesehatan kini memperketat pemantauan, terutama bagi jemaah berusia di atas 60 tahun yang memiliki riwayat komorbid seperti diabetes dan hipertensi.
Plt Kepala Pusat Kesehatan Haji RI (Kapuskeshaj), Dani Pramudya, menjelaskan bahwa jemaah yang mengalami penurunan orientasi membutuhkan waktu pemulihan khusus antara 24 hingga 48 jam. “Recovery-nya bisa 24 jam, bahkan sampai 48 jam atau dua hari. Selama masa pemulihan itu, jemaah harus cukup istirahat, asupan makanan dijaga, dan kebutuhan cairan benar-benar terpenuhi. Dengan banyak minum, tubuh akan lebih cepat pulih dan orientasi bisa kembali membaik,” ujar Dokter Dani kepada Tim Media Center Haji (MCH) di Makkah, Kamis (14/5/2026).
Kunci utama penanganan jemaah yang mengalami kebingungan adalah kehadiran pendamping secara fisik. Dokter Dani menekankan bahwa peran keluarga, ketua rombongan, maupun teman sekamar sangat krusial dalam membantu memulihkan kesadaran jemaah mengenai lokasi dan aktivitas yang sedang dijalani.
“Yang paling penting, jangan ditinggal sendirian. Harus ada yang mendampingi di sampingnya, mengingatkan dia sedang berada di mana, siapa yang mendampingi, dan apa yang sedang dilakukan. Pendampingan ini sangat penting untuk membantu orientasi jemaah kembali pulih,” tegasnya.
Setelah kondisi jemaah mulai stabil, tim kesehatan menyarankan agar jemaah melakukan adaptasi lingkungan secara bertahap. Jemaah dilarang langsung memaksakan aktivitas fisik berat, termasuk melaksanakan umrah wajib segera setelah tiba di hotel jika kondisi fisik belum sepenuhnya bugar.
“Jangan langsung dipaksakan aktivitas berat. Mulai dari latihan ringan, jalan pelan-pelan, mengenali lingkungan sekitar. Setelah itu istirahat lagi. Tujuannya agar saat memasuki puncak haji di Arafah, jemaah benar-benar dalam kondisi fit,” katanya.
Berdasarkan data medis, kelompok paling rentan mengalami disorientasi adalah jemaah dengan penyakit penyerta atau mereka yang sudah menunjukkan gejala penurunan daya ingat sejak di embarkasi. Faktor kelembapan udara yang hanya 16 persen di Makkah saat ini mempercepat risiko dehidrasi yang menjadi salah satu pemicu utama kebingungan mental pada lansia.
Kemenhaj melalui petugas kesehatan terus melakukan pemantauan aktif terhadap jemaah risiko tinggi (risti) di setiap sektor. Jemaah diimbau untuk disiplin mengonsumsi obat-obatan rutin dan meminum air minimal 200 ml per jam yang dicampur elektrolit guna menjaga keseimbangan mineral tubuh. Hal ini penting agar jemaah dapat menjalani rangkaian puncak haji atau wukuf di Arafah yang dijadwalkan pada 26 Mei mendatang dengan kondisi fisik yang optimal. [ian/MCH]






